
Hampir satu jam, kedua pria itu menunggu Alana keluar dari kamarnya. " Aku pikir kamu bakalan dandan cantik, eh taunya cuma pakai daster aja. Lama sekali weeh." Ucap Sultan begitu wanita yang mereka tunggu itu keluar.
Jelas saja Alana lama, sebelum keluarkan dia harus, menjawab pertanyaan ketiga anaknya! Menghubungi rekan kerjanya di puskesmas, untuk meminta izin dirinya, sebab dia berhalangan hadir karena ada urusan mendesak. " Alana ada makanan nggak aku lapar banget nih, dari semalam belum sempat makan karena dia nih." Ucap Sultan sok akrab, sambil menunjuk saddam dengan bibirnya.
" Om, kalau laper! Tiga rumah dari sini ada yang jual makanan loh, om kesana aja! Om bisa makanan sepuasnya kalau ada uang! Jangan nyusahin bunda aku donk." Sahut Ken dengan mode cueknya.
" Sayang nggak boleh gitu. Bunda nggak suka."
" Tapi bunda, om itu nggak sopan banget bunda! Bertamu kok nyuruh -nyuruh bunda. Ken nggak suka."
" Sayang, dengar ya! Om nggak nyuruh bunda! Om cuma nanya! Dan sebagai tuan rumah, sudah seharusnya kita melayani tamu kita dengan baik." Jelas Alana seraya mengusap kepala Ken dengan sayangnya. Dan apa yang di lakukan ibu dan anak itu! Tidak lepas dari penglihatan saddam. " Aku udah masak, Ayo paman kita sarapan sama-sama. Anak-anak ayo." Lanjutnya, mengajak Saddam, Sultan dan anak-anaknya untuk sarapan.
Setibanya mereka di dapur Sultan dan saddam bingung! Harus duduk di mana? Karena ruangannya kecil dan hanya ada meja untuk meletakkan makanan, sementara kursinya tidak ada. " Kita duduk di mana?" Tanya Sultan.
" Maaf ya! Disini nggak ada kursinya, paman nggak keberatan-kan duduk di lantai! Tenang aja. Lantainya bersih kok, selalu aku pel." Ucap Alana.
Kedua orang pria itu langsung duduk di lantai, sesuai yang di minta Alana, ingin protes juga rasanya percuma, karena beginilah keadaan tempat tinggal wanita itu sekarang.
sementara ketiga anak itu membuka pintu belakang dan keluar untuk mencuci tangan di keran air yang ada di belakang.
__ADS_1
" Om, sebelum makan itu cuci tangan dulu." Ucap Za, kemudian duduk berhadapan dengan Saddam.
" Kalau om nggak mau cuci tangan ya udah nggak papa! Tapi ingat kalau perut om sakit setelah makan disini jangan salahin bunda ya! Bunda udah benar masakannya. Om-nya aja yang nggak mau dengar kalau di bilangin. " Ucap Ken. Putranya Alana itu seakan memiliki dendam pribadi dengan kedua orang pria itu.
Tidak ingin terus di ajarkan oleh Ken, Sultan dan saddam pun berdiri dari duduknya. Kemudian keluar untuk mencuci tangan. Setelah mereka selesai giliran Alana. Wanita itu yang paling terakhir cuci tangannya karena dia harus menyiapkan makanan untuk mereka terlebih dulu.
Setelah mereka semua selesai mencuci tangan, Mereka pun duduk melingkar dan menikmati sarapan yang telah Alana tata di hadapan mereka. Selama makan tidak ada yang bersuara, mereka semuanya diam menikahi sarapan mereka, begitu juga dengan ketiga anak itu. Sebab Alena dan Alana sudah mengajarkan mereka akan hal itu. Selesai makan Sultan dan ketiga anak itu kembali keruangan depan, sementara Saddam menunggu Alana selesai dengan pekerjaannya di dapur sekaligus ingin berbicara berdua dengannya.
" Aku lihat, kamu sangat sayang sekali dengan kedua anak itu. " Ucap Saddam, pria itu berdiri sambil bersandar pada kusen pintu dengan kedua tangan yang dia lipat di da-danya.
" Haaah apa? Aku memang sayang kepada mereka bertiga. " Ucap Alana sambil menata piring dan gelas yang telah ia cuci bersih ke tempatnya.
" Mereka anak siapa? Alena atau kita." Saddam sengaja mengabaikan ucapan Alana dengan kembali bertanya. " Jangan membohongi aku, dari apa yang aku lihat dan aku rasakan, aku tahu mereka berdua itu spesial. " Lanjutnya, Pria itu kini sudah berdiri tepat di belakang Alana, melingkar kedua tangannya pada pinggang istrinya itu. Dan mengecup pundaknya dari balik daster yang di gunakan wanita itu.
" Jadi benar mereka anakku?" Tanya saddam tetapi Alana tidak menjawab pertanyaan Saddam. " Alana." Panggilannya. Alana tetap diam.
" Apa lagi sih, paman! Sekarang kalau kamu tahu, mereka anak kamu? Terus kamu mau apa?" Ucap Alana pada akhirnya, saat tangannya di cekal oleh saddam.
" Kamu tanya aku mau apa? Tentu saja aku akan berterima kasih, karena kamu mau merawat mereka dengan baik! Walaupun kamu sedang marah kepadaku." Sahut saddam.
__ADS_1
" Tidak perlu berterima kasih! Karen ini sudah tugas aku untuk merawat dan mendidik mereka." Ujarnya, kemudian melepaskan tangan Saddam dari pergelangan tangan." Sekarang jawab aku, apa paman tahu dimana Alena sekarang."
" Di rumah Sultan." Jawab Saddam.
" Apa dia yang memberitahu kalian! Tempat tinggal kita." Tanya Alana lagi.
Saddam mengeleng kepalanya." Tidak, dia justru berkata! Tidak tahu kamu dimana, sekeras apapun kita mendesaknya, jawabannya tetap sama." Jelas Saddam.
" Terus dari mana paman tahu tempat tinggal kita." Tanya Alana lagi. " Auuhh." Saddam menyentil dahi Alana.
" Kenapa kamu jadi banyak bertanya seperti ini! Kita udah tahu tempe tinggal kalian ini sejak Alena mengirim surat lamaran pekerjaan ke perusahaannya Sultan, tapi untuk mastiinkan benar atau tidaknya itu kalian berdua, kita sengaja tunggu Alena datang sendiri. Dan seterusnya, disinilah aku sama Sultan." Ucap Saddam panjang kali lebar. " Apa masih ada yang ingin kamu tanyakan lagi." Lanjutnya.
Alana mengeleng kepalanya seraya menjawab." Tidak."
" Oke, karena kamu tidak ingin bertanya lagi, sekarang jawab aku? Kepada tidak pulang saat mengetahui kamu hamil dan menanggung semuanya sendiri. Sampai memberikan nama Alena sebagai ibu dari kedua anakku. Punya alasan untuk itu." Kini giliran Saddam yang bertanya, cukup satu pertanyaan tapi memiliki jawaban yang bercabang-cabang. Karena sebelum datang kesana, Sultan telah menyelidiki semuanya tentang mereka berdua sampai anak-anak mereka. Hanya saja ia tidak tahu kalau di antara ketiga anak itu, ada anaknya saddam, sebab akte kelahiran mereka menunjukkan kalau mereka adalah anaknya Alena.
" Tentu saja! Aku melakukan itu agar kita tidak terlalu terlihat buruk di mata orang lain. Kakak beradik, membesarkan anak tanpa di dampingi seorang suami! Apa yang di pikirkan orang tentang kita. Aku ingin mengatakan sudah menikah, tapi aku nggak punya bukti untuk menunjukkan hal itu, satu-satunya cara dengan mengakui mereka sebagai kembar tiga dan jika kamu bertanya kenapa aku tidak pulang saat aku hamil. Pertama karena aku takut di sakiti, kedua karena aku marah sama kamu, ketiga karena aku malu sama kak sandrina! Aku rasa tiga alasan itu cukupkan."
Saddam mengangguk kepalanya. " Kenapa malu sama sandrina." Alana pikir anggukan itu sudah tidak ada pertanyaan lagi, tapi nyatanya masih ada.
__ADS_1
" Ya karena aku pergi begitu aja! Nggak izin sama kak sandrina. Masa aku main balik aja gitu aja. Mau di taruh dimana muka aku nanti." Ucap Alana dengan kesalnya.
" Sekarang aku udah datang buat jemput kamu, pulang sama aku ya." Pinta saddam. Tetapi Alana mengeleng kepalanya. " Hai sweetie! Kamu harus memikirkan masa depan mereka berdua! Apa kamu mau selamanya anak kita di anggap nggak punya ayah, padahal jelas aku ada! Apa kamu tidak ingin nama kamu tertera di akte lahir mereka sebagai ibu yang melahirkan mereka, apa kamu tidak ingin anak kita merasakan kasih sayang yang utuh. Sejak kecil kamu hidup tanpa sosok ayah dan kamu yang lebih tahu rasanya hidup seperti itu dari pada aku. Dan mungkin Ken bisa melalui itu tapi bagaimana dengan putri ku. Sweetie tolong pikirkan hal ini, aku tidak ingin memaksa kamu walaupun aku sangat ingin melakukannya. Aku tahu, Alana-ku adalah ibu yang hebat. Pikirkan ya! Aku masih disini menunggu keputusan kamu."