
" Al, kenapa kamu sampai seperti ini! Maafkan aku yang telah membuat kamu berada di situasi sulit ini. Aku minta maaf. Jangan siksa diri kamu sendiri kaya gini. Aku yang salah, marahnya ke aku aja, jangan ke diri kamu." Ucap Naya sembari menangis memeluk tubuh Alana. Ia dan mamanya kini tengah berada di kamar yang di tempati Alana.
Di saat Naya menangis sambil memeluk Alana, sandrina justru tidak sanggup untuk melihat adik iparnya itu dan berbalik memunggungi mereka. " Aku nggak papa kok Nay! Mungkin ini sudah menjadi takdir aku! Aku hanya lelah saja " sahut Alana begitu pelan tetapi masih bisa di dengar oleh Andika dan Sandrina.
" Tapi lihat penampilan kamu? Apanya yang baik." Sentak Naya. Gadis itu begitu tulus kepada Alana. Membuat Alana merasa bersalah karena sudah membuatnya khawatir. " Kalau kamu mau Pisah dari paman, kamu harus ngomong dan tegas kepada dia. Bukan menyiksa diri kamu sendiri. Percuma kamu jadi peringkat satu umum dari Ratusan siswa. Kalau begini saja kamu sudah Kalah. Pakai otak kamu. Masih punya kan otaknya." Marah Naya, saking kesalnya kepada Alana.
" Nay, keluar! Biar mama yang ngomong sama Alana. " Usir sandrina, ia harus segera menyelesaikan kesalahpahaman di antara dirinya dan Alana. " Andika tolong temani Naya ya." Andika dengan semangat empat lima mengangguk kepalanya kemudian menarik pergelangan tangan Naya untuk keluar kamar itu.
" Tunggu dulu." Naya menghentikan Andika kemudian menatap penuh permohonan kepada mamanya. " Tapi mama janji ya! Nggak buat Alana nangis lagi. Janji ya ma." Sandrina dengan berat hati menganggukkan kepalanya. Setelah yakin dengan mama nya, Naya dan Andika pun keluar. Kini tinggal Alana dan sandrina di ruang itu.
" Al, maafkan kakak kalau kakak ada salah sama kamu! Kakak bukannya tidak ingin membantu kamu berpisah dari Saddam, dan bercerai itu tidak segampang orang pacaran di mana cukup dengan kata putus, kalian sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi. Tidak seperti itu konsepnya sayang. Kamu mau bercerai harus ada persetujuan dari dia. Kalau tidak, sahabatnya sih Sultan itu bisa Tutut kita beramai-ramai. Yang ada bukannya kalian cerai malah semakin terikat dengan denda ini dan itu. " Ucap Sandrina mengeluarkan keluh-kesahnya kepada Alana, berharap wanita itu dapat mengerti. " Dan syarat yang kakak maksud, kamu balik kepada Saddam. Dan kamu dapatkan tanda tangan dia, dengan cara apapun yang kamu bisa. " Lanjutnya, tetapi Alana mengeleng kepalanya. Tidak setuju dengan syarat yang di berikan Sandrina.
" Terus kamu maunya gimana? Ini kakak sudah dapat surat permohonan perceraian kalian." Ucap Sandrina lagi sembari menunjuk berkas-berkas yang dia pegang sejak tadi, kepada Alana.
" Aku ingin bertemu dengan paman Saddam dan temannya, yang bernama Sultan itu. Sekarang juga kak, apa bisa kak." Sahut Alana membuat Sandrina menautkan alisnya.
" Kamu yakin, ingin bertemu mereka! Kakak nggak salah dengarkan?" Tanya Sandrina, Alana pun mengangguk kepalanya. " Alana, kamu yakin?" Tanya sandrina sekali lagi.
" Iya kak." Jawabannya penuh keyakinan.
" Ya udah, kamu tunggu sebentar disini kakak, akan minta tolong kepada Andika! Untuk menghubungi mereka! Tapi sebelum itu kamu makan dulu ya." Alana mengeleng kepalanya. Dan Sandrina pun tidak bisa memaksanya lagi. Ia memilih keluar untuk menemui Andika dan Naya. Dan menyuruhnya untuk menghubungi Saddam dan Sultan.
...\=\=\=\=\=\=\=\=...
Sultan sedang menemani istrinya, menghadiri undangan pernikahan salah satu teman istrinya itu, saat Andika menelponnya dan pria itu dengan tegas menolak untuk datang. Tapi sandrina berhasil membujuknya bersama istrinya itu, Alhasil setelah berjabat tangan dengan kedua mempelai mereka langsung meninggalkan acara itu, sementara Saddam, sedang kelimpungan kesana-kemari mencari keberadaan Alana. Dan begitu Sandrina memintanya dan berkata ia sudah mengetahui dimana Alana, Saddam pun langsung meluncur ke sana tanpa banyak bertanya.
__ADS_1
Dan disinilah mereka berkumpul di ruang keluarga, di rumahnya Andika. Saddam, Sandrina, Sultan dan istrinya serta Andika sendiri selaku sang pemilik rumah, sementara Naya sedang menemani Alana di kamar.
" Dimana Alana?" Tanya Saddam, pria itu terlihat begitu tidak sabaran untuk bertemu dengan Alana.
" Sabar dulu! Sebelum kamu bertemu dengannya! Kamu harus setuju dengan persyaratan yang dia berikan." Tegas Sandrina.
" Kalau persyaratannya bercerai! Aku nggak akan pernah setuju." Sahut Saddam tak kalah tegasnya dari sang kakak.
" Berarti kamu lebih, suka melihatnya mati." Ucap Andika.
" Apa maksud kamu ngomong seperti itu." Saddam langsung berdiri dari tempat duduknya kemudian menonjok pipi Andika dan menarik kerak bajunya. " Katakan sekali lagi dan kamu akan tahu akibatnya. " Ancam Saddam.
Sandrina, Sultan dan istrinya Sultan mencoba untuk melerai keduanya. " Sudah cukup. Kakak panggil kamu kesini, bukan untuk membuat masalah. Tapi kalau kamu masih ingin membuat keributan, silahkan kamu pergi dan jangan berharap kamu bisa bertemu dengan Alana lagi." Tegas Sandrina. Saddam pun akhirnya melepaskan Andika dan kembali duduk di tempatnya semula. " Jika kamu tidak ingin berpisah darinya, dengarkan apa yang dia katakan, tahan emosi kamu! Jangan sampai emosi kamu, membuat kamu menyesal nantinya." Lanjutnya lagi, untuk mengingatkan adiknya itu.
Setelah mendapatkan anggukan kepala dari Saddam. Mereka pun menuju kamar . Dimana Alana berada. Dan keterkejutan bukan hanya di tunjukkan sandrina dan Naya saja. Ketiga orang yang baru datang itupun sama terkejutnya melihat kondisi Alana.
" Katakan apa mau kamu?" Tanya Saddam tanpa basa-basi, terlebih dulu.
" Aku ingin paman menceraikan aku." Ucap Alana dengan begitu yakinnya.
" Itu tidak akan pernah terjadi! Ada cara lain." sahut Saddam, mencoba tawar menawar dengan istrinya.
" Tapi kenapa, kenapa paman tidak mau menceraikan aku." Tanya Alana.
" Ya karena aku nggak mau! Apa susahnya tinggal terima, kalau aku nggak akan mau cerai sama kamu."
__ADS_1
" Paman, egois."
" Kamu yang lebih egois dan terlalu kekanak-kanakan." Sahut Saddam.
" Ya udah, kalau emang aku egois dan kekanak-kanakan, paman ceraikan saja aku. Paman cari wanita dewasa yang bisa mengerti paman dan mungkin bisa tunduk kepada paman! Dan itu bukan aku." Keduanya n m saling berdebat, sementara mereka-mereka yang ada di ruangan itu hanya menjadi penonton dengan duduk melantai. Kapan lagi bisa lihat, seorang Saddam seperti ini. Tentu saja Sultan, Andika dan Sandrina tidak ingin melewatkan memon inikan.
" Oke gini saja! Apapun permintaan kamu, akan aku turutin asal kamu nggak minta cerai. Apapun itu." Ujar Saddam pada akhirnya. Ia mengalah, sebab berdebat dengan Alana tidak akan menyelesaikan masalah, justru semakin membuatnya sakit kepala.
" Apa jaminannya jika Paman tidak akan berubah nanti."
" Ya sudah kamu maunya apa?"
Alana dengan semangat empat lima, memperbaiki posisinya dari berbaring menjadi duduk, kemudian mengeluarkan map yang di berikan Sandrina. " Ini hanya jaminan. Sebelum aku mengatakan permintaan aku! Paman harus tanda tangan surat permohonan ini.
.......
.......
.......
.......
...Bersambung....
...Happy reading. 💝💝...
__ADS_1
...Maaf jika ada typo 🙏...