
Satyo membuka pintu kamar mandi, pria itu melihat putri kesayangannya tengah berlutut di hadapan sandrina memohon maaf." Katakan siapa pria itu " Tanya sandrina. Naya mengeleng kepalanya. Dia masih tidak ingin mengatakan semuanya. " NAYAKA." Teriak sandrina, wanita itu begitu marah dengan apa yang terjadi kepada putri bungsunya itu. Kedua tangannya mencengkram pundak Naya, tidak peduli jika hal itu akan menyakitinya.
" Naya nggak tahu mama! Malam itu Nay mabuk dan__" Ucap Naya dengan terbata-bata. Karena takut dengan kemarahan sandrina Naya tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Sandrina adalah wanita sangat-sangat baik tetapi jika dia marah, dia bahkan bisa lebih sadis dari saddam.
" Dan, apa Nay! katakan." Desak Sandrina lagi. Wanita itu semakin menguatkan cengkraman tangannya dengan mengguncang tubuh Naya, membuatnya semakin merasakan pusing dan berakhir tidak sadarkan diri.
Satyo yang tidak tahan melihat semua itu menarik tubuh Naya Sebelum menggendongnya, untuk membaringkan Naya di atas ranjang. Kesempatan itu di manfaatkan oleh Andika untuk mengakui kesalahannya dan berakhir dengan beberapa pukul yang mendarat di wajah dan tubuhnya. yang dia dapat dari Sandrina dan Satyo.
Aleya bahkan sampai shock mendengar itu semua! Dia begitu marah dan menuduh Naya mencoba merebut Andika dengan memberikan tubuhnya. " Aku tidak peduli mau dia hamil atau tidak! Kita harus tetap menikah, mau taruh dimana muka aku kalau sampai aku gagal nikah MA."
" Kamu masih bisa menemukan lelaki yang baik dari pada aku. Dan maaf aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini dengan kamu." Sahut Andika.
PLAAAK.
__ADS_1
Aleya menampar pipi Andika.
" CUKUP." Mama Andika yang sejak tadi hanya diam melihat anaknya di pukuli. Mulai buka suara. " Andika sudah mengakui kesalahannya, tapi kenapa kalian terus saja memojokkan dirinya. Apa kalian yakin semua ini sepenuhnya kesalahan Andika? Harusnya kalian bersyukur karena dia mau bertanggung jawab." Sentak wanita itu.
Suasana pagi itu begitu tegang, kedua pasangan orang tua itu sama-sama keras membelah anak mereka, bersyukurnya saddam segera masuk dan menjadi penengah untuk masalah pagi itu. Dengan memutuskan Naya harus menikah dengan Andika.
Aleya yang sudah tahu seperti apa sifat pamannya itu, ingin menolak tapi dia takut akan kemarahannya.
Sejak hari itu, Aleya begitu membenci Naya, karena adiknya itu dia harus menanggung malu. Setiap bertemu dengan Naya ia selalu menyindir dan mengata-ngatai adiknya! Sehingga Naya memutuskan untuk menghindari keluarganya, terkecuali Saddam. Dan Andika pun harus puas hidup dengan kebencian sang istri.
" Aku terdesak karena ada alasannya. Kamu juga tahu akan hal itu. Lah kamu? Alasannya apa coba?" Desak Alana.
Naya pun tidak punya pilihan ia menceritakan semua kejadian yang terjadi kepada dirinya dan Andika. Bukannya iba. Alana justru tertawa.
__ADS_1
" Al kamu kok gitu sih. Semenjak menghilang. Kamu jadi berubah. Nyebelin banget." Keluh Naya.
" Maaf, maaf Aku nggak bermaksud membuat kamu marah." Ucap Alana dengan begitu tulusnya sambil menggenggam tangan Naya. " Tapi jika karena kejadian itu kamu membenci Paman Dika, kamu salah Naya." Lanjutnya.
" Kenapa? alasan aku membencinya jelas, Karena paman Dika! semua rencana aku untuk membantu kak Aleya gagal, dia bahkan marah dan membenciku, bahkan papa dan mama juga kecewa kepadaku Al. Kamu nggak tahu rasanya jadi aku."
" Ya aku tahu itu. Tapi jangan lupa, kita ini hanya manusia, yang hanya bisa berencana, tapi tuhan yang menentukan. Kamu salah jika kamu membenci Paman Andika Nay! Dia tidak bersalah, Andai malam itu dia tidak menemui kamu! Kamu mungkin sudah berakhir bersama pria lain atau kemungkinan paling buruknya kamu mungkin akan di gilir beramai-ramai sana, siapa yang tahu. Kak leya marah, wajar itu manusia karena dia harus menanggung malu. Tapi Andika tidak bersalah dalam hal ini, Dia sayang sama kamu makanya dia membantu kamu. Yang salah itu teman kakak kamu." Ucap Alana, selama ini tidak ada yang berusaha menjelaskan semuanya kepada Naya, termasuk letak kesalahannya. Tapi Alana mampu melakukan itu sebab dia menyayangi Naya, tidak ingin sahabatnya itu menyesal nantinya. " Sebaiknya kalian pulang dan perbaikan hubungan kalian, aku ingin beristirahat." Ucap Alana lagi.
" Kamu mengusir?" Tanya Naya dengan wajah cemberut.
" Terserah kamu mau berpikir seperti apa! Tetapi aku tidak bermaksud seperti itu." Alana berdiri dari duduknya kemudian memeluk tubuh Naya. " Jangan kekanakan, kasihan suami dan anak kamu." Lanjutnya sebelum melepaskan pelukannya, kemudian menghampiri saddam, menarik tangannya meninggalkan pasangan labil itu.
" Mau lanjut yang pagi tadi?" Bisik Alana dengan nada menggoda.
__ADS_1
Saddam yang begitu sangat menginginkan Alana, mengeleng kepalanya. " Nanti saja! Aku tahu kamu kelelahan." Ucap Saddam sambil membuka pintu kamar mereka untuk Alana, kemudian keduanya melangkah masuk setelah itu mengunci pintu kamar mereka.
" Tapi aku menginginkannya?" Ucap Alana, wanita itu menarik kerah baju baju saddam membuat pria itu menunduk Sebelum menempelkan bibir mereka.