
Disaat Sultan tengah di buat pusing oleh ketiga anak itu. Di dalam sana Saddam masih terdiam menunggu Alana selesai dengan drama tangisannya. Entah apa alasannya, Yang pasti saddam belum menyakiti pisik Alana. Karena, begitu saddam menyeretnya masuk kedalam kamar dan mendorong tubuhnya hingga Alana terduduk di atas kasur itu. Wanita itu langsung menyembunyikan wajahnya di antara kedua lututnya dan mulai menangis.
Dan Alana sendiri menangis bukan tanpa sebab, wanita itu menangis! Kehadiran Saddam-lah yang menjadi alasan di balik tangisan Alana, ia merasa semua usahanya untuk lepas serta melupakan pria yang masih berstatus Suaminya itu serasa sia-sia dengan kehadirannya saat ini. Untuk apa dia menanggung cemoohan orang dan menghadapi semuanya sendiri jika pada akhirnya mereka kembali di pertemukan setelah ia berhasil melewati semua rasa sakit itu.
Saddam masih ingat, dulu Alana selalu menggunakan cara ini agar saddam selalu menuruti keinginannya, tapi untuk kali ini Saddam tidak akan menurutinya begitu saja. Ia justru membiarkan Alana menangis sepuasnya, saddam tidak akan begitu saja luluh dan membujuknya sebab dia tahu terciptanya Alana yang seperti ini karena ia terlalu percaya dan menuruti keinginan wanita itu. Jangan salah saddam jika dia sedikit tegas kepada Alana.
Mereka berdua adalah pasangan yang Aneh! yang satu, menyakiti diri sendiri dengan apa yang dia pikirkan, yang satunya lagi menyalahkan diri sendiri. Sungguh kekanak-kanakan sekali.
" Menangis lah sepuasnya Alana, Jihan atau siapapun nama kamu yang sekarang, silahkan menangis! Kali ini aku tidak akan begitu saja luluh kepadamu." Ucap Saddam." Tapi begitu selesai, katakan kepadaku selain menyembunyikan identitas dan tempat tinggal kamu! Apa lagi yang kamu sembunyikan dariku, Alana? Aku sudah sangat tulus mencintaimu, tapi apa yang kamu berikan kepadaku. Itu sangat menyakiti hati aku dan melukai harga diri aku sebagai seorang suami." Lanjutnya.
" Kalau kamu merasa aku menyakitimu! Kenapa kamu harus repot-repot mencari aku. Lagian kamu kan hebat, sekeras apapun aku berusaha menyembunyikan sesuatu dari kamu. pada akhirnya akan ketahuan jugakan sama seperti posisi aku sekarang ini. " Sahut Alana tanpa mau menatap wajah sang suami. Dia tetap menunduk dan sesekali terisak. Walaupun Alana sudah mencoba untuk tegar, tapi nyatanya wanita itu tidak bisa menyembunyikan perasaannya, Karena pada kenyataannya dia juga mencintai pria itu, pria yang masih berstatus suaminya itu.
__ADS_1
Karena selama ini Alana terlalu sibuk untuk memikirkan cara pergi dan lepas dari saddam, sehingga ia tidak menyadari jika perasaan, yang dia punya untuk pria itu telah tumbuh. Semakin dia mencoba untuk menyingkirkan perasaan itu. Perasaannya justru semakin besar.
Pelarian Alana, tidak sepenuhnya karena apa yang terjadi kepada Alena. Tapi karena dia takut di sakiti setelah apa yang dia dapat selama ini. Kasih sayang yang dia dapat sesaat dari ibunya sebelum ibunya meninggalkan mereka untuk selama-lamanya, membuat Alana sedikit trauma akan kehilangan, ia takut Saddam juga akan meninggalkannya setelah dia nyaman dan terbiasa dengan sikap lembut pria itu. Untuk itu Alana lebih memilih meninggalkan dari pada harus di tinggalkan, rasanya mungkin sama sakit, tapi setidaknya dia yang menginginkan hal itu.
" Aku mencari kamu! Karena aku mencintaimu, karena kamu masih istriku, karena hanya kamu wanita satu-satunya yang aku inginkan dalam hidup aku, saat ini. Aku tahu dulu aku seperti apa sebrengsek apa. Tapi aku berusaha untuk menjadi yang terbaik di mata kamu dan saat ini aku hanya mau Alana-ku, istriku! Tidak yang lainnya."
" Bohong! Kamu hanya ingin mempermalukan aku dengan membiarkan teman-temanmu menyentuhku ia kan! Aku tahu perjanjian kalian, aku dengar semuanya! Tapi aku tidak menyangka kamu akan menumbalkan saudariku. Apa salah kami, sampai kalian begitu tegah dan licik memikirkan hal itu." Sahut Alana, Ia memberanikan dirinya untuk menatap saddam, tapi hanya sesaat sebelum ia kembali memalingkan wajahnya.
" Kamu salah paham! Aku tidak pernah memberikan Alena kepada Aaron. Ya aku akui aku sempat memikirkan hal itu, tapi rasa sayang yang aku punya untuk kamu membuat aku mengurungkan niat itu. Harusnya kamu tanya dulu ke aku. Bukan percaya dengan apa yang kamu anggap benar! Karena tidak semua yang kamu lihat dan kamu dengar, benar seperti yang kamu pikirkan ." Dan untuk yang kesekian kalinya. Saddam berhasil menurunkan egonya di depan Alana. Perasaan marah, kecewa, benci semuanya hilang begitu saja saat Alana mulai mengeluarkan unek-unek yang dia simpan selama ini, mungkin ini yang di maksud, cinta mengalahkan segalanya. Saddam mendekati Alana, kemudian duduk tepat di hadapan wanita itu, dia menarik wajah Alana agar mau menatap kepadanya. " Hai, sweetie! Lihat aku, Aku rindu! sangat merindukan kamu." Ucapnya lagi sambil menyentuh pipi istrinya itu dengan sedikit memberi usapan lembut mengunakan jari jempolnya.
" Kenapa tidak mencari wanita lain." Setelah mendengar semua pengakuannya, Alana masih saja mendorongnya untuk menjauh. sungguh wanita yang benar-benar keras kepala.
__ADS_1
" Untuk apa? Aku masih mempunyai istri, walaupun aku sendiri tidak tahu dimana dia berada! Tapi aku tetap berusaha untuk mencarinya tanpa lelah."
" Dasar pembohong kamu pikir aku akan percaya begitu saja! Terus kalau bukan kamu yang memberikan Alena kepada Aaron. Kenapa mereka bisa bertemu dan menghasilkan Bram." Tanya Alana tanpa sadar, mengatakan siapa anak Alena.
" Mungkin itu yang di namakan takdir sweetie! Apa kamu masih tidak ingin melihat aku." Ucapnya saat Alana tetap memalingkan wajahnya tak ingin melihat wajah saddam. Pria itupun semakin mendekat dirinya kepada Alana. Mata sembabnya, hidung Semerah tomat itu. Entah kenapa selalu terlihat cantik dan menarik di mata Saddam. " Kalau kamu masih tidak percaya! Mari kita temui Aaron dan biarkan dia yang menjelaskan semuanya kepadamu. Sekarang! Kamu pakai pakaian kamu, terlebih dulu! aku akan menunggu kamu di luar, terkecuali kamu ingin aku menetap disini dan membantu kamu." Lanjutnya seraya mengecup puncak kepala wanita yang masih merajuk itu, sebelum keluar meninggalkannya.
" Cepat sekali Dam! Udah turun mesin." Ucap Sultan saat melihat sahabatnya itu keluar dari dalam kamar, kemudian menghampiri mereka! padahal belum ada setengah jam dia berada di dalam sana.
" Apa kamu tidak malu, disini masih ada anak-anak dan masih sempat-sempatnya kamu berbicara seperti itu." Tegur Saddam, membuat Sultan terdiam. " Begitu kita kembali, segera temui Dika, minta dia untuk membedah otak kamu itu, agar menjadi sedikit lebih baik." lanjutnya! tapi Sultan tidak marah, pria itu justru tertawa mendengar saran saddam.
" Akan aku pertimbangan saran kamu itu."
__ADS_1
Sementara ketiga anak kecil yang sejak tadi bersama Sultan langsung berlari ke kamar Alena, untuk mengecek keadaan bunda mereka, begitu Saddam keluar dari sana.
Baik Sultan maupun Saddam tidak ada yang mencegah mereka. Kedua pria itu memilih untuk membicarakan rencana mereka selanjutnya untuk membawa Alana pulang, bersama semua anak-anaknya itu. Sebab saddam tahu, jika meminta baik-baik Alana pasti tidak akan mau ikut bersamanya. Untuk itu mereka harus memiliki rencana yang matang jika ingin kembali bersama wanitnya.