
Mimpi yang sama kembali mengusik tidur Alana, membuat wanita itu langsung terbangun dari tidurnya dengan keringat dingin yang membasahi wajahnya.
" Alena." Ucapnya lirih. Ia segera meraih ponselnya, melihat jam yang tertera pada layar ponsel itu. Waktu telah menunjukkan pukul tiga pagi lewat empat puluh lima menit.
Di jam seperti ini, Alena biasanya sudah bangun. Alana pun mencoba untuk menghubungi saudarinya itu. Tetapi tidak ada yang menjawab panggilannya. Membuat Alana semakin cemas.
Wanita itu menatap kepada sang suami yang masih tertidur, ia ingin membangunkannya untuk menemaninya ke rumah Alena. Tapi Alana tidak tega untuk membangunkan Saddam. Dan dia pun memutuskan untuk pergi sendiri ke sana di antar supir pribadi keluarga itu.
Rasa cemasnya akan keadaan Alena, membuat Alana tidak dapat menunggu lebih lama lagi. Bahkan wanita itu tidak sadar jika ia hanya mengunakan baju tidur kimono tanpa alas kaki.
" Pak! Bisa lebih cepat lagi." Desak Alana kepada sang supir. Di saat jantungnya berdetak dengan begitu cepat saat perasaan cemas itu semakin menjadi-jadi. * Ya Tuhan, apa yang terjadi kepada saudariku. Kenapa perasaanku seperti ini. Semoga dia baik-baik saja* Ucap Alana dalam hatinya.
Alana kembali mencoba untuk menghubungi Alena, tapi kali ini ponselnya sudah tidak aktif, hanya suara operator yang menyahuti panggilannya itu sebelum berakhir begitu saja.
" Lena, semoga kamu baik-baik saja." Gumam Alana, sembari meramas ujung bajunya. " Pak tolong lebih cepat lagi." Desak Alana kepada sang supir lagi. Wanita itu bahkan hampir menangis.
Setelah menempuh perjalanan kurang dari dua puluh menit, akhirnya mobil itu berhenti di depan gang rumahnya. Alana pun segera keluar dari mobil itu dan berlari masuk ke gang rumahnya.
Tok... Tok...
" Lena... Lena! Buka pintunya. " Teriak Alana sambil menggedor-gedor pintu rumahnya.
" Ia mencoba mengecek kunci rumah di tempat biasanya mereka menyimpan kunci rumah itu tapi tidak ada. " Alena jangan buat takut, tolong buka pintunya." Ucap Alana sembari menangis. Karena ketakutan semakin menjadi.
__ADS_1
" Lana! Kamu ngapain jam segini! Alena tidak ada, semalam ibu lihat di pergi untuk membeli bahan-bahan kuenya tapi sepertinya di belum kembali." Ucap tetangga rumahnya! Yang terganggu karena suara teriakan serta tangisan Alana.
" Apa Bu! Alena belum pulan?" Tanya Alana tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
" Iya nak! Ibu pikir dia sama kamu."
" Nggak kok Bu.". Sahut Alana.
" Terus pergi kemana dia. Apa mungkin dia ke rumah temannya. Coba kamu cek dia dulu! Jangan berteriak seperti itu. Suara kamu Menganggu tetangga yang masih tidur. Entar di kira ada apa-apa lagi sama kalian berdua."
" Baiklah Bu. Maaf ya Bu sudah menganggu waktu tidur ibu." Ucap Alana sedikit tidak enak hati.
" Iya nggak papa. ibu masuk dulu ya. " Tetangganya itu langsung masuk kembali kedalam rumahnya, meninggalkan Alana, yang kini sudah terduduk di depan pintu rumahnya setelah mendapatkan anggukan dari Alana.
" Lena kamu dimana?" Tanya Alana kepada dirinya sendiri. " Aku tidak bisa diam seperti ini, aku harus mencarinya! Ya aku harus mencarinya sekarang juga. " Ucapnya lagi. Alana pun berdiri dari tempat duduknya menghapus air matanya dengan kasar kemudian berjalan ke depan gang.
Setibanya ia di depan gang itu! Sebuah taksi berhenti tepat di depannya. Alena pun keluar dari sana! Dalam keadaan berantakan. " Lena apa yang terjadi." Tanya Alana dengan bibir bergetar. Tanpa Alena menjawab pun Alana sudah tahu jawabannya tetapi entah mengapa perempuan itu masih saja ingin bertanya.
" Aku baik-baik saja! Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja." Jawab Alena, wanita itu tersenyum menunjukkan jika dia baik-baik saja tapi penampilannya tidak seperti itu. " Tolong bantu aku." Pintanya kepada Alana.
Alana pun menahan rasa ingin tahunya dan membantu Alena dengan memapahnya menuju rumah mereka. Sampainya di sana. Alena menunjuk letak kunci yang dia simpan.
Alana pun segera mengambilnya dan membuka pintu kemudian membantu Alena masuk kedalam rumah. " Kamar mandi." Tunjuk Alena saat saudarinya itu hendak membantunya ke kamar. Alana hanya menurut . Ia membantu Alena kemudian meninggalkannya di sana dengan pintu kamar mandi yang sengaja dia biarkan terbuka. Karena takut terjadi sesuatu dengan Alena atau saudarinya itu melakukan hal-hal yang tidak dia inginkan.
__ADS_1
" Siapa yang melakukan itu." Tanya Alana. Begitu Alena selesai membersihkan dirinya.
" Aku baik-baik saja Lana. Aku saja yang tidak hati-hati." Jawab Alena.
" Siapa yang melakukannya?" Tanya Alena sekali lagi. " Aku mohon jangan menghindar pertanyaaan aku jawab saja. Siapa yang melakukannya." Desak Alana.
" Aku baik-baik saja Lana. Sungguh aku tidak ingin membuat masalah dalam kehidupan kamu lagi. Kita lupakan soal ini dan anggap saja tidak pernah terjadi sesuatu kepadaku. " Alena tetap Diam, ia tidak ingin membuat masalah untuk Alena dan Saddam.
" Apa sahabat suami aku yang melakukan ini." Tanya Alana, sembari menatap Alena. Membuat wanita itu langsung gugup. " Jadi benar tebakan aku." Lanjutnya lagi walaupun Alena tidak mengatakan apa-apa.
Karena semenjak mendengar ucapan Aaron tempo hari, Alana setiap harinya menunggu kapan Saddam akan menyerahkan dia kepada Aaron. Tapi Alana tidak menyangka jika Saddam bisa sejahat itu dan menyerahkan Saudari kembarnya sebagai gantinya.
" Apa yang dia katakan kepada kamu!" Tanya Alana, tetapi Alena hanya diam membuat Alana semakin berpikir yang tidak-tidak tentang Saddam.
" Kamu jangan marah kepada suamimu! Dia tidak salah." Ucap Alena mencoba membela Saddam.
" Ya tentu saja! Aku tidak akan marah kepadanya. Walaupun dia adalah penyebab semua ini bisa terjadi kepada kamu. Kita juga tidak bisa melawan mereka, karena kita tidak memiliki apapun untuk melawan mereka." Ucap Alana dengan mengepalkan tangannya. Ia membiarkan pikirannya menguasai dirinya. Walaupun apa yang dia pikirkan itu belum tentu benar.
" Lana! harus berapa kali aku katakan aku tidak apa-apa. Semua ini tidak akan membuat hidup kita berakhir. Kita masih memiliki jalan yang panjang dan aku senang bisa melakukan sesuatu untuk kamu! Walaupun kehormatan aku yang menjadi taruhannya. " Ucap Alena meyakinkan saudari kembarnya itu. " Pulanglah Lana. Aku janji tidak akan membuat sesuatu yang akan merugikan kita berdua. Percaya ya sama aku! Aku juga tidak ingin mempermalukan diri aku sendiri kalau sampai ada yang tahu, tentang kejadian ini." Lanjutnya lagi.
" Tapi Lena_"
" Nggak papa Lana, kita lupakan kejadian hari ini. Kamu harus bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Agar kita berdua dapat menjalani hari-hari seperti semula." Bujuk Alena lagi. Alana hanya bisa mengangguk.
__ADS_1
Dengan berat hati keduanya pun menyimpan masalah itu untuk mereka sendiri. Alana kembali ke rumah kakak iparnya seperti yang di minta Alena dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.