
Sepulang sekolah, Alana dan Naya menghabiskan waktu seharian di apartemen Saddam, sementara Alena tidak ikut bergabung bersama mereka. Walaupun Alana sudah memaksanya, tetapi gadis itu dengan tegas menolaknya. Ia tidak ingin Naya semakin mencurigai yang tidak-tidak untuk itu ia lebih memilih menghindar untuk kebaikan bersama.
" Al, kenapa sih! Kamu kok makin sering barang Alena. Dia kan sering banget jahat-in kamu dulu." Tanya Naya, keduanya kini sedang duduk sambil menikmati cemilan yang mereka beli saat pulang sekolah dengan televisi yang sedang menyalah menonton mereka. Sebab fokus kedua wanita itu hanya untuk satu sama lain dengan tv yang sengaja mereka nyalakan tapi malah di abaikan.
" Nay! Mau bagaimana pun Alena! Dia tetap saudari aku, sekalipun aku telah memiliki, keluarga baru aku tetap tidak dapat mengabaikan keberadaannya begitu saja. Dan soal dia yang pernah jahat sama aku! aku Sudah melupakannya. Toh dia juga sudah berubah." Sahut Alana, seraya memasukkan keripik kedalam mulutnya kemudian mengunyahnya.
" Terus kamu percaya gitu aja? Setelah semua yang dia lakukan." Tanya Naya dan Alana menjawab dengan menganggukkan kepalanya.
" Aku percaya Nay dan hati kecil Aku mengatakan dia benar telah berubah! Tidak seperti dulu lagi."
" Itu sih, kamu-nya yang terlalu baik. Mau-mau aja percaya dengannya semudah itu."
Alana mengeleng kepalanya. Ia tahu Naya dan Alena tidak saling suka tapi dia tidak percaya tanggapan Naya bisa seperti itu." Nay, apa kalian berdua tidak bisa menjadi teman, seperti kita." Tanya Alana sambil menatap penuh harap kepada sahabatnya itu.
" Diih, siapa juga yang mau jadi teman saudari kamu itu! Dia itu jahat tidak seperti kamu." Balas Naya.
" Itu karena kalian_"
__ADS_1
" Al, sudahlah! Kamu terlalu membelanya! Lagian aku juga belum percaya dia benar berubah. Dan sebaiknya kita akhir pembicaraan tentang dia. Kita bahas yang lain saja! Seperti gio mungkin atau touring yang sudah lama tidak kamu ikuti." Tawar Naya, ia dengan sengaja mengalihkan pembicaraan mereka tentang Alena.
" Ciih! Semua topik yang ingin kamu bahas! Hanya akan menjerumuskan aku, syukur-syukur aku tidak di gantung hidup-hidup oleh paman mu itu. Lagian kenapa sih dia pakai acara berubah segala. Menyebalkan sekali rasanya." Naya yang mendengar Alana merutuki nasibnya yang sekarang, Hanya bisa tertawa.
" Harusnya kamu itu bersyukur! Paman berubah jadi makin sayang sama kamu! ini malah mengeluh. " Sahut Naya dengan sengaja mendorong kening Alana. Membuat wanita itu semakin dongkol.
Sementara itu di sisi lain, tepatnya di sebuah restoran Saddam duduk berhadapan langsung dengan Aaron." Apa kamu masih tetap ingin menagih kata-kata aku waktu itu." Tanya Saddam dengan jari tangan bermain memutari gelas piala di hadapannya. Tanpa menatap kepada lawan bicaranya.
"Ayolah kawan! Kamu tahu seperti apa aku! Dan hal seperti ini adalah sebuah kesenangan. Dan aku tentunya tidak ingin melewati kesenangan ini." Sahut Aaron. Pria itu begitu tidak sabaran menunggu keputusan Saddam. " Sekarang katakan kapan aku bisa bersamanya! Ayolah cuma satu ronde dan itu tidak akan lama, bukankah dulu kita sudah biasa melakukan hal ini, bahkan kita pernah bersama satu wanita di ranjang yang sama! Walaupun hanya aku yang menik-mati lembahnya tapi setidaknya kita pernah melakukan hal itu dan aku rasa itu tidak ada bedanya." Lanjutnya begitu blak-blakan.
Sementara Saddam masih senantiasa membisu, menunggu Aaron menyelesaikan kata-katanya . " Tapi, Ar! Aku mencintainya! Apa kamu masih tetap menginginkannya." Pengakuan Saddam membuat Aaron tertawa.
" Ya kamu boleh berpikir seperti itu! karena kenyataannya aku memang seperti itu tapi aku tidak bisa memberikannya kepadamu." Tolak Saddam dengan tegas.
" Tapi kenapa Dam?"
" Alana aku cukup jelas Ar, Selain karena aku mencintainya. Dia juga adalah istriku."
__ADS_1
" Kamu bohong kan! Kamu tahu aku tidak mungkin menyentuh wanita yang berstatus istri orang, itu sebabnya kamu berbohong seperti ini. Iyakan." Todong Aaron. Pria itu tidak begitu saja percaya dengan apa yang di katakan Saddam.
" Aku tidak berbohong! Kamu boleh bertanya kepada Sultan dan yang lainnya. Mereka tahu akan hal ini." Balas Saddam. " Aku pergi! Dan aku harap kamu melupakan kata-kata aku waktu itu! Jika kamu masih menganggap aku sahabat dan berpegang teguh dengan prinsip kamu yang tidak akan menyentuh wanita berstatus istri orang." Lanjutnya sebelum beranjak dari tempat duduknya kemudian melangkah pergi meninggalkan Aaron seorang diri di sana.
Saddam awalnya berpikir sama dengan Naya untuk menyerahkan Alena sebagai gantinya! Tapi rasa cinta dan takut akan kehilangan alana, membuatnya memikirkan kembali semua itu dan dia memilih berkata yang sebenarnya kepada Aaron, mengingat prinsip sahabatnya itu.
...\=\=\=\=\=\=\=\=...
" Paman! Apa kita akan tinggal disini selamanya?" Tanya Alana. Keduanya baru saja selesai dengan kegiatan panas mereka. Alana saat ini berada dalam dekapan pria itu dengan da-da Saddam sebagai bantalnya.
Sementara Saddam sendiri tengah berbaring dengan tangan kanan yang sengaja ia lipat di belakang kepalanya sementara tangan kirinya bermain di punggung Alana dengan tatapan lurus menatap langit-langit kamarnya.
" Tidak, kita hanya sebentar disini! Nanti setelah ujian kamu selesai, kita akan kembali ke Apartemen kita." Jawab Saddam." Kenapa? Apa kamu mulai bosan tinggal disini." Saddam balik bertanya dan Alana menjawab dengan gelengan kepala.
" Tidak, aku hanya bertanya saja." Ujar Alana, kemudian memejamkan matanya sebelum suaminya itu kembali meminta ronde berikutnya.
Tetapi baru beberapa saat matanya terpejam! Ingat akan kata-kata Aaron kembali berputar-putar di kepalanya, membuat Alana reflek menarik kepalanya dari da-da bidang sang suami kemudian meletakkannya di bantal dan berakhir memunggungi Saddam. Sementara Saddam yang belum tertidur justru mendekat kepadanya dan memeluk tubuh Alana dari belakang seraya berbisik di telinganya. " Kenapa menjauh. Hmm." Tanya Saddam sembari mencium punggung Alana membuat tubuh wanita itu sekitar menegang, menerima rangs-angan dari Saddam. " Sweetie, Kamu belum tidur bukan! Mari bermain sekali lagi." Ajak Saddam. Tanpa menunggu jawaban dari Alana. Saddam langsung membalikkan tubuh Alana kemudian menindihnya.
__ADS_1
Jika sudah seperti ini, Alana pun tidak dapat menolak Saddam. Dan ia pun dengan senang hati mend-esah seraya menyebut nama pria itu dengan lantang.
Alana di bolehkan memanggil dia paman, dimana saja dan kapan saja terkecuali saat mereka sedang bermain di atas ranjang. Alana dilarang memanggilnya paman. karena itu membuat Saddam merasa seakan tengah mele-cehkan keponakannya sendiri.