
Setelah dinner malam itu, Saddam jadi semakin sering mengajak Alana keluar berdua. Entah itu sekedar makan malam, nonton, jalan-jalan atau hal menyenangkan lainnya dan perasaan yang Saddam rasakan kepada Alana pun semakin dalam, berbeda dengan Alana yang terlihat biasa saja, Namun tetap membalas semua sikap manis yang di tunjukkan saddam kepadanya.
Dan untuk Gio, Alana belum sempat untuk memutuskan pria itu, sebab Ia tidak punya waktu untuk berbicara berdua dengan Gio, sekalipun mereka sekelas, Alana tidak pernah sekalipun mengikuti ajakan pria itu lagi, ia justru bersikap seolah tidak ada apa-apa di antara mereka. Apalagi sekarang Alana mulai sibuk untuk persiapan ujiannya, sehingga itu cukup menjadi alasan untuk dia mengabaikan pria itu. Hal itu berlaku bukan hanya di sekolah saja. Bahkan pesan dan panggilan dari Gio pun sengaja diarsipkan serta dialihkan. mungkin sikap Alana terlihat kejam tetapi ia melakukan semua itu agar tidak terjadi masalah yang semakin runyam untuk mereka berdua.
Dan untuk Alena sendiri, sejauh ini ia selalu menuruti apa yang di katakan Alana walaupun kerap kali Naya masih sering mengusiknya tetapi Alena berusaha untuk tidak peduli dengan sahabat dari saudarinya itu. Seperti sekarang ini, Alena sengaja datang ke kelas Alana untuk mengajaknya pulang ke rumah mereka, tetapi Naya justru berpikir yang tidak-tidak tentang Niatnya." Mau ngapain cari Alana, duit kamu udah habis? Atau mau minta Alana agar kamu bisa tinggal sama dia. Katakan saja apa rencana kamu. " Tuduh Naya, bersyukurnya kelas mereka sudah Sepi karena Siswa lainnya sudah pada pulang.
" Aku mau ngapain sama Alana itu urusan aku, aku mau minta uang juga itu urusan aku sama dia, bahkan jika aku ingin meminta tinggal bersama dia juga itu urusan aku sama dia, kamu itu cuma sahabatnya dia dan aku saudarinya. Jangan terlalu ikut campur urusan kita berdua." Sahut Alena sambil menunjuk wajah Naya, kedua orang itu memang sudah terkenal tidak akur sejak Naya pertama kali bertemu dengan Alana. Seakan keduanya adalah musuh dari kehidupan sebelumnya yang kembali di pertemukan. " Lana, ikut aku mau sebentar ya aku ngomong sama kamu." Alena langsung menarik tangan Alana keluar dari kelas dan berjalan ke tempat yang sepi tanpa menghiraukan protes dari Naya.
" Lena, apalagi ini." Tanya Alana saat Alena melepaskan genggaman tangannya.
" Aku ingin kamu pulang? Aku kesepian nggak ada ibu, nggak ada kamu! Kalau soal biaya sekolah dan biaya hidup kita, kita bisa mencarinya sama-sama. Aku udah sembuh berhentilah berkerja di rumah Naya. Jujur aku nggak butuh makan enak, yang aku butuhkan keluarga." Ucap Alena. Semenjak Sadar dari komanya, Alena sudah bertekad untuk minta maaf dan memperbaiki hubungannya dengan Alana. Karena sebelum ia benar-benar sadar ibu dan ayahnya mendatangi dia dalam tidurnya. Mereka berpesan agar keduanya saling menyayangi dan melindungi satu sama lain. Karena sejak dalam kandungan mereka sudah seperti itu, dan beruntungnya Alena! tidur panjangnya membuat dia bisa melihat seperti apa sosok Ayahnya yang tidak pernah mereka berdua lihat sejak kecil. Karena ayahnya telah meninggalkan mereka saat masih berada dalam kandungan ibunya." Aku minta maaf, atas semua yang pernah aku lakukan dulu sama kamu dan terima kasih karena kamu sudah mau berjuang untuk Aku. Aku sayang sama kamu! Ayah dan ibu juga sayang sama kamu, Lana." Lanjutnya.
" Ya Aku tahu, karena aku sudah mendengarnya dari ibu! Aku juga sudah memaafkan kamu dan sebagai keluarga, aku sudah melakukan sesuatu yang benar dengan memperjuangkan kesehatan kamu." Balas Alana dengan pandangan tetap lurus ke depan tanpa sedikitpun melirik kepada Alena. " Tetapi aku tidak bisa meninggalkan keluarga Naya, karena aku sudah menjadi bagian dari keluarga mereka. Aku telah menikah dengan Pamannya Naya__"
__ADS_1
" Apa__" Alena begitu terkejut mendengar berita itu, karena selama ini yang dia tahu Alana berkerja di rumah Naya. Dan pria yang berstatus suami dari saudarinya itu menyukai Alana seperti yang di katakan Naya. Itu saja yang dia tahu dan kenyataan ini sungguh sangat mengejutkan untuknya." Apa ibu tahu akan hal ini." Tanya Alena lagi setelah mengendalikan rasa keterkejutannya.
Alana mengeleng kepalanya." Tidak, bahkan sampai ibu meninggal pun ia belum tahu. Dan alasan aku menikah karena terdesak__ Waktu itu aku tidak punya pilihan lagi, pihak rumah sakit terus mendesak agar biaya rumah sakit kamu segera di bayar, jika tidak semua alat bantu yang menempel di tubuh kamu akan di lepas ibu tidak ingin hal itu terjadi dan aku pun juga begitu." Alana sengaja menjeda ucapannya." Saking frustasinya aku hampir meninggalkan kamu dan ibu tapi ada orang yang menolong aku dan ada yang mengatakan untuk aku bersabar menanti kebahagiaan aku. Aku mencoba untuk mempercayainya Dan begitu aku kembali untuk berkerja, Naya menawarkan pernikahan itu kepada aku, tanpa aku tahu seperti apa pamannya itu. Tetapi Demi kamu dan ibu Aku menerima semua itu tanpa berpikir akan seperti apa kehidupan aku nanti yang aku tahu aku harus berkorban untuk kalian."
" Maaf-maafkan aku Lana, karena kebodohan aku kamu harus melakukan ini. Tolong maafkan aku, Lana." Alena memeluk tubuh Alana sembari menangis. " Aku tidak tahu selembut apa hati kamu sampai kamu harus berkorban sebesar ini untuk aku, padahal selama ini aku tidak pernah baik sama kamu dan ibu juga selalu mengutamakan keinginan aku dari kamu__"
" Ibu melakukan itu, karena merasa bersalah sama kamu! Dulu waktu kita harus operasi dokter bertanya, jika hanya satu anak yang harus di selamatkan siapa yang harus di selamatkan dan ibu memilih aku yang selamat, tetapi operasi itu berhasil kamu juga selamat dan ibu sangat merasa bersalah kepadamu."
" Dari mana kamu tahu semua itu Lana." Tanya Alena, sembari melepaskan pelukannya dari Alana, karena seingatnya dia pernah bertanya kepada ibunya, kenapa ibunya lebih sayang kepada dirinya ketimbang Alana dan ibunya tidak menjawab apa-apa.
" Lana." Panggil Alena membuat langkah wanita itu terhenti.
" Ada apa?"
__ADS_1
" Bisakah malam ini kamu menemani Aku." Tanya Alena.
" Aku akan pulang begitu aku mendapatkan izin." Sahut Alana membuat bibir Alena melengkung sempurna.
" Terima kasih." Alana hanya mengangguk sebelum kembali meneruskan langkahnya.
.......
.......
.......
.......
__ADS_1
...Bersambung....
...Happy reading..💝💝...