Love Me

Love Me
Menginap lagi


__ADS_3

Pulangnya Alana kerumahnya membuat Alana menyadari satu hal, bahwa dia merindukan momen indah di rumah kecilnya itu dan semalam bersama Alena menjadi hari sangat menyenangkan untuk Alana.


Walaupun ia harus bangun lebih awal tepat jam setengah empat pagi untuk membantu saudarinya itu untuk menyiapkan dagangannya dan menitip dagangan itu ke kios-kios barulah mereka berangkat ke sekolah tapi Alana sangat menyukai hal itu. membuat ia selalu ingin pulang ke rumahnya.


Bahkan kasih sayang, perhatian sarta harta Saddam tidak dapat membuat Alana Betah berada di rumah mewah itu. Dia hanya berpura-pura menikmati semua dan berusaha bersikap seakan dia menikmati hal itu di depan suami, kakak ipar dan keponakannya.


" Aku boleh menginap lagi di rumah ibu." Ini kesekian kalinya Alana meminta izin kepada Saddam untuk kembali menginap di rumah ibunya. Padahal dua hari yang lalu Saddam sudah memberikan izin kepadanya untuk menginap di sana.


" Sweetie! Apa ini tidak terlalu keseringan untuk kamu." Minggu kemarin kamu empat hari menginap di rumah ibu. Dua hari yang lalu kamu juga menginap di sana apa ini tidak terlalu kelewatan. Kamu itu sudah berkeluarga, aku suami kamu kenapa sekarang kamu lebih senang menghabiskan waktu bersama saudari kamu ketimbang bersama aku suami kamu sendiri." Tegasnya kepada Alana, wanita itu kini sedang duduk di sofa sambil memiling jari-jari tangannya. Menanti jawaban Saddam tapi siapa sangka kali Saddam jadi kesal mendengarnya kembali meminta izin.


" Aku tidak mengizinkan kamu Alana." Ucap Saddam lagi membuat Alana seketika menunduk. Dia merasa sangat kecewa, dengan penolakan dari saddam.


Hatinya sakit rasanya dia ingin menangis untuk hal sekecil itu. Tidak tahan dengan perasaannya sendiri. Alana langsung berdiri dari tempat duduknya, ia melepaskan tas sekolahnya. Kemudian naik keatas ranjang dan menyelimuti seluruh tubuhnya kemudian menangis dengan posisi meringkuk seperti bayi.


Hal itu membuat Saddam mendesah, sembari menjambak rambutnya sendiri. Dia yang harusnya berangkat ke kantor lebih pagi karena harus keluar kota. Rela menunda hal itu demi untuk membujuk Alana sebab wanitanya juga harus ke sekolah.


Saddam Naik keatas ranjang, Menyingkirkan selimut yang menutup wajah Alana kemudian memeluknya. " Kamu terlalu sering menginap di sana! Kenapa? Padahal disini kamu memiliki segalanya mau sesuatu tinggal minta semua sudah ada, kamu tidak perlu bangun lebih awal dan mengunjungi kios-kios kecil di pagi hari sebelum ke sekolah. Sweetie walaupun aku tidak ikut menginap bersama kamu, tapi aku tahu yang kalian lakukan disana. " Ucap Saddam memberitahu, tetapi Alana tidak menghiraukan kata-katanya dan ia tetap menangis. " Apa yang kurang dari rumah ini sampai kamu mulai tidak nyaman. Apa ada yang salah dari aku." Lanjutnya lagi.


" Aku nggak papa! Paman berangkat kerja aja! tinggalkan aku sendiri." Ucap Alana Sambil mendorong Saddam untuk pergi, tetapi pria itu tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya.

__ADS_1


" Nggak papa kok nangis."Sahut Saddam sembari mengusap kepala Alana." Hai sweetie, kenapa makin kencang nangisnya. Kamu pengen banget ya, nginap di sana! ya udah kamu boleh nginap di sana tapi jangan nangis. Hapus dulu Air matanya, kalau nggak, nggak boleh lagi menginap disana." Dia wanita kedua yang membuat Saddam menarik kembali kata-katanya sendiri. Jika sandrina dengan mode paksaan, Alana justru dengan tangisannya.


Alana berusaha menghentikan tangisannya dan mengusap kedua pipinya di bantu Saddam. *Kenapa semua jadi seperti ini! Kenapa kamu harus menjadi yang paling berarti, aku tidak suka kepada diriku yang sekarang* Ucap Saddam sambil mengusap lembut wajah sembab istrinya, kemudian membantu wanita itu turun dari ranjang.


" Sini peluk dulu."Pinta Saddam, Alana pun segera memeluknya. *Seandainya dulu aku tahu, kamu akan sangat berarti dan mengubahku sejauh ini. Aku tidak akan mau terlibat dengan kamu! Sekarang aku menyesal kenapa tidak membunuh waktu itu* Ucap Saddam dalam hatinya sambil memeluk erat tubuh Alana.


" Udah Aku mau ke sekolah! Nanti telat." Alana mendorong tubuh Saddam, sehingga pelukan mereka terlepas. Ia kemudian mengambil tasnya dan berjalan keluar kamar di susul oleh Saddam.


Pagi itu Alana berangkat ke sekolah di antara Saddam. Mereka berdua tidak sempat untuk sarapan karena Alana takut terlambat. Salahkan saja dirinya kepada pakai drama menangis dulu.


Sepanjang perjalanan mereka! Alana hanya menatap ke arah jendela mobil dan diam seribu bahasa. " Sweetie! Kenapa Diam aja." Tanya Saddam tetapi Alana hanya menggeleng kepalanya. " Sweetie, Apa aku salah lagi, coba ngomong dong jangan diam! Kalau ada yang salah dari aku. Bilang ya jangan diam kaya gini. Aku bukan cenayang yang bisa membaca isi hati kamu. Ada apa? Kalau ada yang mengganjal di pikiran kamu katakan saja. " Desak Saddam tetapi Alana hanya menggeleng dan berusaha untuk tersenyum di depan suaminya itu. Sampai mobil yang Saddam kendarai berhenti di depan gerbang sekolah Alana. Wanita itu tidak kunjung berbicara.


" Selamat pagi Lena." Sapa Alana. "Kok baru datang. " Tanya Alana.


" Iya! Hari ini aku agak telat bangunnya! Nih pesanan kamu, pasti belum sarapan lagi." Sahut Alena sambil memberikan kotak makan di tangannya kepada Alena.


" Terima kasih." Alana begitu bahagia menerima kotak makan pemberian saudarinya itu. Dan Saddam yang masih berada di sana, melihat semua itu.


Saddam begitu Iri kepada Alena, gadis itu dapat membuat istrinya tersenyum dengan mudah . Sementara dia sudah berusaha sejauh yang dia bisa. Tapi Alana bukan makin cinta kepadanya! Sikap wanita itu justru semakin jauh darinya. Raganya mungkin ada bersamanya! Tetapi pikiran dan hatinya entah kemana dan Saddam benci akan kenyataan itu.

__ADS_1


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Begitu pekerjaannya di luar kota selesai, Saddam langsung pulang ke rumah kakaknya. Ia tiba di sana jam satu malam, semua orang sudah tertidur. Beberapa ruangan, lampunya telah di matikan. Tapi Saddam dapat melihat dengan jelas Naya yang baru saja turun dari tangga.


" Paman baru pulang." Tanya Naya.


" Hmmm, kenapa belum tidur." Saddam balik bertanya.


" Aku belum ngantuk paman." Jawab Naya apa adanya." Paman, kok paman izinin lagi Alana nginap bareng Alena." Tanya Naya.


" Gimana lagi dia maunya gitu." Jawab Saddam seraya menaikkan kedua bahunya.


" Tapi kalau aku boleh jujur, dia makin jauh dari kita loh paman! Di sekolah aja, dia lebih sering menghabiskan waktu berdua bersama Alena ketimbang bersama aku dan teman-teman kita. " Akunya kepada Saddam tetapi Pria itu tidak terlalu mengambil pusing ucapan Keponakannya dan lebih memilih menjawab panggilan masuk dari Aaron.


Selama Saddam berbicara dengan Aaron, Naya sengaja menguping pembicaraan mereka. " Nay, kenapa kamu masih disini?" Tanya Saddam begitu ia selesai berbicara dengan Aaron dan mendapati Naya masih berada di sana.


Sementara keponakannya itu! Hanya menyengir tanpa dosa kepergok menguping pembicaraan Saddam dan sahabatnya. " Sana tidur, paman juga harus istirahat." Titah Saddam. Pria itu pun berlalu begitu saja meninggalkan Naya.


Tetapi baru beberapa langkah, ucapan Naya berhasil menghentikan langkahnya." Aku punya saran agar paman bisa menepati janji paman kepada paman Aaron tanpa perlu memberikan Alana."

__ADS_1


__ADS_2