Love Me

Love Me
Tamu tak diinginkan.


__ADS_3

Saddam dan Sultan tiba di desa, dimana Alana dan Alena sembunyi selama ini. Tepat pukul lima pagi. Kedua pria itu bahkan, hanya tidur sebentar karena mereka harus saling bergantian untuk menyetir. Dan saddam ingin langsung menuju ke rumah yang di beri tahu Anak buat Sultan, tetapi Sultan menahannya dan meminta ia tunggu sampai matahari benar-benar keluar menyinari bumi. Agar tidak ada salah paham nantinya dengan masyarakat sekitar.


" Ayo kita ke sana sekarang." Desak Saddam pria itu sudah tidak bisa menunggu lagi saat waktu telah menunjukkan pukul enam pagi lewat lima belas menit.


Sultan pun tidak dapat menahannya, ia hanya bisa mengikuti langkah saddam. Setibanya mereka di depan rumah Alana. Mereka kembali di buat menunggu, karena cukup lama mereka mengetuk pintu rumah itu tapi tidak ada yang membukanya. Saat saddam hampir saja mendobrak pintu rumah itu, pintu itu pun di buka oleh seorang anak kecil. " Pasti dia anaknya Aaron." Gumam Saddam, saat melihat wajah ketakutan anak itu.


Sementara Sultan melepaskan kacamatanya dan berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan anak yang mereka tidak tahu siapa namanya itu. Cukup lama Sultan berbasa-basi dengan anak itu Sampai_


" Abang! Itu siapa yang datang, sayang?"


DEG.


Suara dari arah belakang itu. Membuat jantung saddam Langsung berdetak dengan begitu cepatnya, seakan ingin melompat keluar dari tempatnya, Saat itu juga.


Suara itu adalah suatu Alana, wanita yang selama ini ia cari, wanita yang selalu mengusik ketenangannya, wanita yang masih berstatus Istrinya dan sangat ia rindukan. Wanita itu juga alasan dia kehilangan minat kepada wanita lain dan hanya menginginkannya saja.


" Abang buka pintunya." Suara itu lagi walaupun terdengar samar-samar di telinga mereka. Sementara bocah kecil di depannya itu! Menuruti ucap sang bunda dengan membuka pintu untuk kedua orang itu masuk.


Saddam mengedarkan pandangannya pada seisi ruangan yang hanya berukuran tiga kali dua meter persegi itu.


Ada dua anak kecil lainnya duduk beralas tikar! Sementara suara yang sejak tadi ia dengar tidak tampak di sana. Rasanya saddam ingin menyelonong masuk untuk mencari keberadaan orang itu.


" Om, duduk om." Ucap Bram, menunjuk sisi kosong di samping Kenzo. Sultan melirik tempat yang di tunjuk Bram. Sementara Saddam menatap kedua anak yang sejak tadi hanya diam di tempat mereka! Entah kenapa tatapannya terkunci pada wajah putra-putrinya itu. Seakan ada perasaan nyaman yang tidak dapat dia ungkapkan dengan kata-kata, saat melihat mereka. Berbeda-beda dengan Bram yang hanya ia lirik saja.


" Ayo duduk. Kita harus sabar sampai dia keluar. Yang penting kita sudah di sini. " Bisik Sultan, kemudian menarik tangan Saddam untuk duduk, bersama anak-anak itu. Sebab dia tahu Saddam sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Alana.


" Om.." Panggil Kenzo.

__ADS_1


Saddam dan Sultan pun kompak menatap wajah anak itu. " Kenapa?" Tanya Sultan.


" Apa om tidak di ajarkan sopan santun?" Tanya Kenzo, ekspresi wajahnya begitu datar dan dingin saat mengatakan hal itu.


Membuat Saddam menautkan kedua alisnya. Tidak percaya, seorang anak, sekecil Kenzo mempertanyakan sopan santunnya. Ya walaupun tahu sopan santunnya sudah lama hilang, tapi mendengar Kenzo bertanya seperti itu, berhasil melukai harga dirinya.


" Tau apa kamu soal, sopan santun." Tanya Saddam.


" Om, kakak nggak salah! Om berdua yang salah. Harusnya om berdua itu lepas sepatu saat masuk ke rumah orang! Walaupun rumah Za kecil dan tidak sebagus rumah orang. Tapi bunda selalu membersihkan rumah kita. "Jelas Khanza. " Ucapan gadis kecil itu, seakan ada mantranya, karena kedua pria dewasa itu langsung melepaskan sepatu Mereka tanpa di ingatkan dua.


" Siapa Nama kalian." Tanya Sultan. sengaja mengalihkan pembicaraan! agar mereka tidak terlalu merasa malu karena kata-kata Kenzo dan khanza barusan.


" Nama aku Reikhanza, itu Abang Bram dan ini kak Kenzo. " Jawab Za dengan ekspresi penuh percaya diri seraya menunjuk dirinya sendiri kemudian bram dan Kenzo.


" Reikhanza? Nama yang cantik secantik orangnya."


" Sayang, tadi_" Alana yang baru saja keluar dari arah belakang, tidak dapat meneruskan kata-katanya saat melihat Sultan dan Saddam duduk bersama, anak-anaknya. Wanita itu baru selesai mandi dan hendak mengecek tamu siapa yang mengetuk pintu rumahnya sepagi ini dan sebuah kejutan, tamu yang tidak di inginkan itu sedang duduk bersama anak-anaknya.


" Wow! Nggak di rawat aja, Bisa secantik itu apalagi di rawat." Ucap Sultan. Saat melihat Alana yang hanya mengunakan kain yang melingkar ditubuhnya, hanya menutup bagian da-da sampai pahanya dengan handuk melilit di kepalanya.


Wajah Alana dan Alena mungkin sama! Tapi cara mereka merawat tubuh mereka, Alana jauh lebih pandai merawat tubuhnya. Apalagi sejak melahirkan Ken dan Za. Tubuh Alana, menjadi sedikit lebih berisi di tempat-tempat yang sudah seharusnya.


" Kalau mata kamu sudah tidak di butuhkan lagi, terus saja menatapnya." Ucap Saddam memperingati Sultan, sembari mengepalkan tangannya.


" Ayolah kawan! Aku hanya melihat saja, bukankah kamu ingin membunuhnya! Sebelum kamu melakukannya, biarkan aku menatap tubuh itu sebelum menjadi kaku tak bernyawa." Ucap Sultan sengaja menggoda Saddam.


Tetapi Pria itu mengabaikan candaan yang di lontarkan Sultan dan berdiri dari duduknya kemudian menghampiri Alana yang masih membeku di tempatnya! Karena kehadiran mereka.

__ADS_1


Saddam langsung menarik lengan Alana dengan begitu kasarnya dan membawanya masuk kedalam kamar yang berada di samping, tempat Alana berdiri, kemudian menutup pintu itu dengan begitu kasarnya. Ia tidak peduli itu kamar Alana atau Alena yang jelas ia harus segera menyelesaikan ucapannya dengan wanita itu.


Kenzo yang melihat Saddam menarik tubuh alana dengan kasar begitu marah! Ia tidak suka bundanya di perlakukan seperti itu. Bocah kecil itu berdiri dari tempat duduknya ingin menolong sang bunda tapi Sultan lebih dulu menahannya. " Hai jagoan, duduklah disini temani om dan biarkan orang-orang dewasa itu menyelesaikan masalah mereka." Ucap Sultan tetapi Kenzo tidak lantas menurut, cara Saddam menarik bunda nya saja sudah membuatnya khawatir apalagi membiarkan mereka berdua! Hal itu hanya akan membuat keduanya semakin takut, terjadi sesuatu kepada bundanya.


" Lepaskan aku! Om, aku mau tolongin bunda." Teriaknya sambil memberontak, Saat Sultan mencegahnya.


" Percaya sama om, bunda kamu nggak akan di apa-apain. Paling juga kamu Akan di kasih adik." Sahut Sultan.


" Nggak boleh? Za nggak mau punya Adik." Ucap Khanza.


" Ia. Aku juga, nggak mau! nanti bunda sama mama makin nggak sayang sama kita." Bram tidak ketinggalan menyuarakan penolakannya.


" Lepaskan aku om! Aku mau nolongin bunda."


" Untuk sekarang kamu tidak akan bisa melakukan itu. Jika ingin menolong bunda kamu, cepatlah tubuh besar." Ujarnya. Tetapi hal itu tidak membuat Kenzo tenang ia justru semakin kesal. Karena ketiganya tidak mau Diam dan terus memberontak. Sultan terpaksa membohongi mereka. " Kalian dengar kata-kata paman ya! Om yang tadi itu adalah ayah kalian. Dia hanya ingin berbicara dengan bunda untuk membawa kalian pulang."


" Om bohong! Kata mama kita nggak punya ayah! Karena ayah udah punya keluarga sendiri."


" Iya! Bunda juga tidak pernah ngomong soal ayah ke kita."


Sementara Kenzo langsung Diam, walaupun dia belum genap Lima tahun! Tapi anak itu seakan mengerti situasi, ia terdiam sambil menatap pintu kamar yang tertutup rapat itu.


" Kalau kalian tidak percaya sama om! Kalian bisa bertanyakan kepada bunda kalian, siapa om itu." Sultan terus mencuci otak ketiga anak itu. Padahal dia sendiri belum tahu kebenaran ketiga anak itu. Entah benar mereka bertiga anak Aaron semuanya, atau terselip satu anak Saddam di antara mereka. Jika benar dugaannya, Sultan yakin anak yang bernama Kenzo itu adalah Anaknya Alana dan Saddam. Dari bentuk wajah, tatapan tajamnya, kepekaannya serta sifatnya yang keras mencerminkan kepribadian seorang saddam. " Kalian bisa bertanya kepada bunda kalian, begitu mereka selesai berbicara. Bagaimana kalau kalian temani om untuk beli sarapan." Lanjutnya setelah ketiga anak itu diam.


Bram, Ken dan Za! Kompak menggeleng kepala mereka. " Nggak! Bunda ngelarang kita buat jajan sembarangan. Nanti kita sakit! Kalau om mau pergi, om pergi aja sendiri. Kita akan tungguin bunda sampai selesai ngobrol sama om itu." Ucap Kenzo.


" Ya udah! Om nggak jadi pergi! Toh om juga belum lapar."

__ADS_1


" Kita juga nggak nanya. Iya kan Bang." Sahut Za. Ketiga anak yang begitu manis di hadapan Alana dan Alena, entah kenapa begitu menyebalkan di mata Sultan. Andai mereka bukan anak-anak dari sahabatnya. Mungkin Sultan tidak akan sesabar itu menghadapi mereka.


__ADS_2