Love Me

Love Me
Sana pulang!


__ADS_3

" Astaga kalian masih disini?" Tanya Alena, wanita itu sedikit terkejut saat mendapati sahabat-sahabat saddam dan istri-istri mereka masih berada di rumah itu. Sementara yang punya rumah sedang tengelam dalam kenik-matan yang mereka ciptakan.


" Alana dan saddam kemana? Kenapa belum turun juga?" Tanya Heri mengabaikan rasa keterkejutan Alena.


" Lagi istirahat mungkin." Jawab Alena sembari menaikkan kedua bahunya.


"Yakin mereka hanya istirahat?" Sahut Aaron, membuat Alena memutar kedua bola matanya.


" Mau mereka istirahat atau nggak! Itu urusan mereka." Ucap Alena menatap sinis kepada ayah anaknya itu.


" Sudahlah sebaiknya kita pulang. Mereka juga butuh waktu berdua, Setelah lama tidak bertemu." Ujar Sultan, sembari berdiri dari tempat duduknya, kemudian mengulurkan tangannya kepada sang istri. " Sampaikan kepada mereka berdua, besok kita akan kesini lagi." Lanjutnya. Membuat Alena mengangguk kepalanya.


Mendapatkan anggukan dari Alena, Sultan langsung melangkah keluar rumah sambil merangkul pinggang istrinya di susul oleh Heri dan Andika. Menyisakan Aaron yang belum bergerak dari tempat duduknya.


" Ngapain kamu disini, sana ikut pulang!" Usir Alena.


" Gimana aku mau pulang sayang, di rumah nggak ada orang! Istri dan anak aku ada disini." Sahut Aaron.

__ADS_1


" Siapa istri dan anak kamu! Jangan banyak mengkhayal, sana pulang! Kamu tidak malu, mengada-ngada seperti itu." Ucap Alena begitu sinis, wanita itu begitu tidak menyukai pria yang kini tengah duduk bersandar di sofa sambil menyilang-kan kedua kakinya itu.


" Sayang_"


" Diam, kamu membuat aku mual! Dasar menjijikkan." Entah kenapa dia begitu kesal saat melihat wajah pria itu. Setiap ucapan yang keluar dari mulutnya hanya akan menambah kekesalan Alena. " Terserah kamu deh, mau pulang atau tidak! Aku tidak peduli." Lanjutnya sebelum melangkah kembali menaiki anak tangga menuju kamarnya, meninggalkan lelaki itu sendiri di sana.


Bahkan ketika Aaron, beberapa kali memanggil namanya, Alena tidak peduli dan pura-pura menulihkan telinganya.


...\=\=\=\=\=\=\=...


Setibanya mereka Di rumah! Andika langsung menahan tangan Naya untuk mengajaknya berbicara dari hati kehati dia tidak ingin masalah keduanya terus berlanjut.


" Maaf, harus nya aku yang minta maaf karena aku yang tidak berhati-hati! Aku hanya kerena setiap ka leya menghina dan menuduhku aku tidak bisa beralasan itu membela diriku." Sahut Naya membuat Andika bingung dan menuntut penjelasan dari istrinya itu. " Aku tidak sepenuhnya membenci paman! Aku marah karena aku kesal dengan tuduh kak leya." Jelasnya sekali lagi.


" Jadi kamu sudah memaafkan aku?" Tanya Andika, masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar dari bibir sang istri. Namun Alana mengeleng kepalanya. " Kenapa?"


" Aku masih membutuhkan waktu untuk menerima semuanya, untuk meyakinkan diriku sendiri kalau keputusan ini benar, untuk terbiasa dengan kemarahan dan sindiran kak Aleya. Aku_ "

__ADS_1


Andika langsung memeluk tubuh Naya. " Tak apa! Kamu memiliki sepenuhnya waktu aku, aku masih tetap disini menunggu datangnya waktu itu! Tidak perlu buru-buru Sayang. Jalani saja semua! Aku percaya suatu saat kamu akan menerima aku." Ucap Andika sambil mengusap punggung istrinya.


" Mama, papa Leon pulang." Teriak mamanya Andika, menirukan suara anak-anak, saat memasuki rumah yang di tempati anak dan menantunya sambil menggendong balita laki-laki yang belum genap tiga tahun itu.


Bukan hal baru jika balita itu sering di bawah pergi neneknya, karena kedua orang tuanya begitu sibuk! Sejak hamil Naya cuti kuliah dan baru sempat melanjutkan lagi setelah putranya hampir berusia satu tahun, sejak saat itu sang mertua yang membantu mengurus anak mereka.


" Sayang, hapus air mata mu,aku akan di marahi jika dia melihatmu menangis." Rengek Andika.


PLAAAK.


Benar saja, begitu Andika selesai berbicara. Sebuah tamparan mendarat dengan mulus pada pundak pria itu membuat Andika menahan nafasnya. " Ma." Lirihnya sambil menatap pada sang mama.


" Itu hukum karena kamu, berani membuat menantuku menangis." Ucap wanita paruh baya itu sambil menatap putranya tajam berbeda dengan tatapannya kepada Naya. " Nak kamu tidak apa-apa kan. Apa yang dia lakukan padamu katakan, mama akan membalas lebih dari yang dia berikan. " Naya mengeleng kepalanya sebagai jawaban.


Satu hal yang paling Naya syukuri dari pernikahannya dan Andika adalah mertua dan anaknya. Sebab wanita itu begitu tulus menyayangi walaupun ia sempat marah saat anaknya di pukuli di hadapannya.


" Ma! Aku ini putramu." Keluh Andika layaknya anak kecil sambil mengulurkan tangannya kepada putranya. Tidak butuh waktu lama balita itu sudah berpindah dalam dekapan sang ayah. " Hai, jagoan apa saja yang kamu lakukan di rumah nenek, Hmm." Tanya Andika sambil mencium pipi chubby putrinya itu.

__ADS_1


" Ain, maam, Bubooh." Jawabnya sembari tertawa menahan geli. Karena sengaja' di gelitikin papanya .


Sementara Naya hanya diam melihat interaksi ayah dan anak itu di temani sang mertua yang duduk di sampingnya.


__ADS_2