Love Me

Love Me
Hanya Sekali!


__ADS_3

Naya begitu keras kepala saat di bujuk bahkan sampai di ancam pun wanita itu tetap kekeuh pada pendiriannya.


" Jika paman sampai berani mengatakan semuanya kepada mama dan papa aku. Aku akan membenci paman. Dan aku bakalan melakukan sesuatu yang lebih nekad lagi! Kalau perlu aku mati sekalian biar paman senang." Tegas Naya. Sejak kejadian malam itu! Andika terus mendatangi Naya di kampus untuk membicarakan masalah itu, sama seperti sekarang ini.


" Tapi Nay! Bagaimana kalau kamu hamil?" Tanya Andika. Pria itu belum ingin menyerah dengan kesempatan yang dia punya.


" Ayolah Paman Dika, berhenti menakut-nakuti aku. Kita hanya melakukanya sekali. Jadi tidak mungkin aku sampai bisa hamil, teman-teman aku selalu melakukan 1 night stand, setiap malam dengan pria berbeda-beda tapi mereka tidak hamil! Kenapa aku harus mendapatkan pengecualian untuk hal itu." Balas Naya.


Semenjak di tinggal pergi sahabatnya Alana, Naya memang asal mencari teman di kampus dan dia selalu mendengar mereka bercerita tentang pengalaman mereka dengan banyak pria. Itu sebabnya dia bisa se-yakin itu dengan pendiriannya.


" Karena kita adalah dua orang yang sehat dan bagaimana kalau kita sama-sama subur pada saat itu?"


" Sudahlah! Itu tidak mungkin dan jangan mendatangi aku lagi. Karena aku tidak akan mungkin hamil, anggap saja malam itu hanya mimpi dan tidak pernah terjadi. Paman fokus saja kepada kak leya, jangan menganggu aku lagi." Tegas Naya, sebelum berbalik meninggalkan Andika Sebelum pria itu sempat membuka mulutnya untuk protes.


Dan sejak saat itu, Andika mulai menjauhi Naya, bukan hanya Naya tapi Aleya juga. Walaupun persiapan pernikahannya dengan Aleya terus berjalan.


...\=\=\=\=\=\=\=...


Tiga bulan telah berlalu, besok adalah hari pernikahan Aleya dan Andika. Semua keluarga dari kedua belah pihak pun telah berada di hotel yang akan menjadi tempat di gelarnya pesta pernikahan mereka.

__ADS_1


" Aku senang Akhirnya kamu bisa menjadi keponakan menantuku. " Ucap saddam dengan nada mengejek, karena dia tahu pria itu sangat ingin menjadi bagian dari keluarganya tapi bukan dengan Aleya." Jodoh tidak ada yang tahu bro, kamu menginginkan Naya tapi tuhan memberikan kakaknya kepadamu. Sama seperti aku yang tidak pernah menginginkan wanita manapun tapi tuhan mendatangkan dia, kemudian menyembunyikannya entah dimana Setelah aku yakin dan percaya dia adalah belahan jiwaku." Lanjutnya. Niat hati ingin membuat Andika galau, justru dia sendiri yang merasakan kegalauan itu.


Sementara Andika tetap memilih diam, pikirannya terus berkelana entah kemana! Ia juga merindukan sosok Naya. Karena sejak pembicaraan terakhir mereka di kampus Naya, keduanya tidak pernah lagi bertemu. Bahkan beberapa kali Andika pernah datang ke rumah mereka untuk menjemput Aleya, namun tidak kunjung bertemu dengan Naya, wanita itu benar-benar menghindarinya.


" Eh, Dam sih Naya sakit ya?" Tanya Aaron membuat Andika yang sejak tadi menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa dengan pikiran yang terus memikirkan Naya, langsung menegakkan kepalanya dan menatap kepada Aaron, menunggu lelaki itu meneruskan perkataannya.


" Nggak! Dia bilang dia baik-baik aja. Tadi waktu aku tanyain, katanya sih cuma kecapean, karena banyak tugas kampus yang membuat dia sering begadang dan sedikit masuk angin." Jawab Saddam sambil menaikkan kedua bahunya.


" Syukurlah, aku pikir dia sakit! Soalnya wajahnya pucat banget." Sahut Aaron.


" Aku juga mikir gitu." Heri pun ikut-ikutan membenarkan ucapan sahabat-sahabatnya.


Sementara Andika yang sejak tadi menjadi pendengar setia! Tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya, kemudian melangkah keluar kamar hotel itu, meninggalkan sahabat-sahabatnya yang bertanya-tanya dengan perubahan sikap pria itu.


Pagi harinya, Andika di bangunkan oleh mamanya dan sandrina, sebab Naya tiba-tiba pinsang di kamar Aleya." Nak! Coba kamu periksa Naya dulu, kenapa dia tiba-tiba pinsang." Ucap sang mamanya.


" Ada apa sih Ma?" Andika yang baru setengah sadar, justru balik bertanya sambil menatap bingung wajah mama dan calon mertuanya itu.


" Kak Rina, Tante! Naya udah sadar." Ucap Aaron, saat itulah kesadaran Andika baru terkumpul.

__ADS_1


" Apa?"


" Cii-cii! Orang lagi panik-paniknya kamu malah asyik tidur, jadi dokter nggak berguna. Sana bangun lihat calon adik ipar kamu tuh." Ucap mamanya Andika sambil memeluk pelan pundak putranya.


" Iya ma." Sahut pria itu, dia segera bergegas turun dari ranjang, mengambil kantung plastik! Berisi testpack yang ia beli semalam kemudian berjalan keluar kamarnya di ikuti sandrina, mamanya dan Aaron.


Saat melangkah masuk kedalam kamar yang di tempati Naya, sudah banyak yang berkumpul di sana, Sahabat-sahabatnya, Aleya, papanya dan Satyo serta beberapa kerabat lainnya.


Awalnya Andika ragu untuk memberikan testpack itu kepada Naya, tapi jika dia tidak melakukannya sekarang, dia mungkin akan menyesal seumur hidupnya! Andika beberapa kali menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembusnya Sebelum berbalik kepada sandrina dan memberikan benda yang masih tembus rapih itu kepada Sandrina Dan berkata. " Aku harap yang lainnya bisa menunggu di luar. Sementara mama, papa, bang satyo serta Aleya. Bisa tetap di tempat.


Orang-orang yang tidak di sebut Andika pun keluar! Setelah mereka pergi Andika langsung mengunci pintu kamar itu.


" Dika! Apa maksud kamu?" Tanya Sandrina begitu mengecek isi dari kantung plastik pemberian Andika.


" Di tes dulu kak." Ucap Andika, lelaki itu tidak ingin banyak bicara, Sebelum membuktikan dugaan.


" Ma! Naya nggak hamil." Ucap Naya, suaranya terdengar begitu lemah, walaupun dia belum melihat testpack yang di berikan Andika. Tapi tatapan pria itu seakan ingin memberitahu semuanya. Tanpa Naya sadari ucapannya berhasil mengetuk hati sang mama untuk menduga hal yang sama mengingat semua perubahan sikapnya dan kondisi kesehatannya yang menurun satu bulan terakhir.


" Nay, ayo ikut mama." Sandrina mulai kehilangan kesabarannya, ia menyibak selimut yang menutupi Naya dengan kasarnya dan menarik tangan putrinya itu, sehingga Naya mau tak mau harus turun dari ranjang walaupun kepalanya begitu pusing.

__ADS_1


Sandrina mengajak Naya masuk ke kamar mandi. Satu menit, dua menit sampai lima menit suasana di dalam sana masih hening tapi dua menit setelahnya, jeritan kekecewaan Sandrina yang meneriaki nama Naya. Cukup untuk membuktikan dugaan Andika benar.


Satyo membuka pintu kamar mandi, pria itu melihat putri kesayangannya tengah berlutut di hadapan sandrina memohon maaf." Katakan siapa pria itu " Tanya Sandrina.


__ADS_2