Love Me

Love Me
Saat terakhir.


__ADS_3

Waktu terus berlalu. Hubungan keduanya semakin hari semakin membaik. Saddam pun perlahan meninggalkan kebiasaan buruknya itu. Dan di saat dia sedang sangat ingin melakukan hal itu! Pria itu langsung mencari keberadaan istri.


Dan hebatnya Alana, ia selalu siap ketika Saddam memintanya. Hal gilanya lagi. Saddam dan Alana bukan saja melakukannya di apartemen atau di rumah sandrina ketika mereka menginap di sana. Bahkan di mobil dan yang paling gila di toilet mall pun mereka pernah melakukannya.


Semua itu bisa terjadi! Karena Saddam di goda dan di beri obat oleh kliennya saat mereka melakukan meeting. Bersyukurnya Alana tidak protes saat di minta untuk mengikutinya ke mall dan mengajak ke toilet, serta orang-orang suruhannya yang selalu siap menjaga keamanan mereka.


Sejak hari itu, Saddam mulai berhati-hati menghadapi kliennya, jika klien wanita. Maka assitennya yang akan menggantikan Saddam. Ia akan hadir jika kliennya laki-laki . Sebab dia tidak ingin melihat wajah cemberut istrinya itu lagi.


Tapi terkadang muncul ide di otak Saddam untuk mengerjai Alana. Sama seperti sekarang ini. " Sweetie. Aku menginginkan dirimu, disini." Bisik Saddam sembari menatap lurus ke depan. Di mana kaca besar di depan sana, memantulkan bayangan mereka. dia sedang membungkuk di belakang alana dan berbisik di telinganya! Sementara istrinya itu sedang duduk dengan kaki yang ditekukkan dan punggungnya tetap tegak sambil menarik pegangan kabel itu dan sedikit mendorong kakinya.


" Paman! Jangan aneh-aneh, ya." Tegur Alana ia pun berhenti mengunakan Alat yang bernama Rower itu dan berjalan menjauh dari Saddam. Kemudian bergabung bersama Naya, Andika dan Sultan. Sementara Heri sedang berlari di atas treadmill. Untuk Aaron sendiri. Tentu saja pria itu tidak ada. Dan perlu di ketahui Saddam tidak akan pernah membawa Alana untuk ikut bersama mereka jika Aaron ada disana. Karena dia tahu seberapa gila sahabatnya itu dan Saddam belum ingin memilih di antara Alana dan Aaron walaupun ia sudah memiliki jawaban siapa yang harus dia utamakan tapi sejauh semuanya masih bisa berjalan dengan Tenang. Saddam akan mengikuti alurnya saja! Ketimbang harus mempersingkat semuanya. Ya hitung-hitung Sambil mencari jalan keluar atas ucapannya waktu itu.


" Al, ada apa?" Tanya Naya, saat melihat wajah sebal Alana.


" Tahu Ah, Makin gila paman kamu tuh." Sungutnya Sembari mengambil botol minum dari tangan Naya dan meneguknya, begitu ia membuka penutup botol itu.


" Laki kamu yang gila! Tapi kamunya jangan ganggu kesenangan orang juga kali." Sambung Andika yang merasa terganggu, sebab Alana datang dan langsung duduk diantara dia dan Naya.


" Al, peka sedikit lah." Sindir Sultan! Tapi Alana hanya menaikkan kedua bahunya tidak peduli, sama halnya dengan Naya.


" Emangnya paman kenapa lagi." Tanya Naya.


" Tau ah! Tanya aja sama paman kamu, aku mau ganti baju." Jawabannya, sembari beranjak dari tempat duduknya. " Terima kasih ya, muaacch ." Sambung Alana. Mengembalikan botol minum Naya! Dan memberinya sun jauh, sebelum melangkah masuk ke dalam ruang ganti.

__ADS_1


Saddam yang melihat Alana masuk ke ruang ganti langsung menyusulnya. Membuat teman-temannya geleng-geleng kepala dengan tingkah Saddam yang


Begitu berbeda dengan Saddam yang dulu. Di mana para wanita yang mengejarnya dan dia yang selalu berhasil membuat mereka tunduk. Tapi yang satu ini, tidak dapat mereka ucap dengan kata-kata.


Selesai berganti pakaian, Saddam dan Alana pun pamit untuk pulang setelah meminta tolong Andika mengantar pulang Naya. Walaupun Alana sempat protes karena ia datang bersama Naya. Tapi Saddam berhasil menyeretnya pergi dari sana, Sebab ia Ingin menghabiskan waktu berduaan bersama Alana. Di apartemen mereka. Mumpung weekend.


...\=\=\=\=\=\=\=\=...


Tiga hari sudah Alana tidak pulang ke apartemen Saddam, wanita memilih menginap di rumah sakit, untuk menjaga Alena dan ibunya.


Tiga hari yang lalu, ia di telpon pihak rumah sakit dan mengabarkan bahwa ibunya di temukan tidak sadarkan di ruang rawat Alena, saat seorang perawat ingin mengecek keadaan Alena.


Alana pun memutuskan untuk segera ke rumah sakit. mengecek keadaan ibunya. Sekaligus menjaga setelah mendapat izin dari Saddam. Dan Saddam pun menawarkan diri untuk menemaninya. Tapi Alana menolaknya sebab ibunya belum tahu dia telah menikah. Saddam pun mengalah dan membiarkan Alana menjaga ibu mertua serta iparnya itu.


Alana kini sedang duduk di sofa, seorang diri! karena sandrina dan teman-temannya baru saja pulang. Alana menatap Alena dan ibunya secara bergantian. Wanita itu terlihat begitu susah hati. Sebab sudah tiga hari ibunya terbaring di ranjang rumah Sakit itu, tapi kondisinya tidak kunjung membaik.


Belum juga Alena sadar kini giliran ibunya yang sakit. Entah habis ini apa lagi. Rasanya cobaan hidup Alana tidak ada habisnya. " Alana." Suara serak nan lemah itu, mengusik Alana dari lamunannya. Ia pun menatap wajah yang mulai keriput itu. " Kemari-lah nak." Lanjutnya lagi. Alana pun mendekat kepada ibunya. Mengambil tangan sang ibu kemudian mengecupnya berulang kali.


" Iya Bu! Apa ibu membutuhkan sesuatu." Wanita itu tersenyum kemudian mengeleng kepalanya.


" Ibu tidak membutuhkan apapun! Ibu hanya ingin melihat kamu nak." Ucapnya begitu lirih. Ada perasaan takut di hati Alana saat melihat ibunya seperti ini. " Maafkan ibu ya nak! Kalau selama ini ibu selalu jahat sama kamu. Tapi ibu itu Sayang sama kamu, hanya saja ibu terlalu egois. Maaf-maafkan ibu Sayang. Swan ibu punya waktu Ibu ingin memperbaiki hubungan kita."


" Ibu. Jangan ngomong gitu, Alana pasti akan usahakan yang terbaik untuk ibu dan Alena. Ibu harus sehat lagi, terus kita berjuang sama-sama buat kesembuhan Alena ya Bu."

__ADS_1


" Maaf ya nak! Ibu selalu merepotkan kamu, ibu merasa berdosa, karena sudah membebankan semua tanggung jawab ibu ke kamu. Ibu Sayang sama Kalian berdua. Maaf-maafkan ibu."


" Nggak kok Bu! Alana senang bisa membantu ibu. Ibu harus istirahat, biar cepat sembuh."


" Iya sayang. Sebentar lagi ibu akan istirahat. Alana mau kan ganti-in, ibu jaga Alena." Alana dengan cepat mengangguk kepalanya. " Terima kasih nak. Kalian harus saling menjaga dan melindungi satu sama lain ya nak." Alana kembali mengangguk kepalanya. Tapi dalam hati ia begitu merasa takut sehingga ia ingin menangis.


" Al, boleh peluk ibu, Al ingin tidur sambil di peluk ibu." Pinta Alana. Wanita paruh baya yang terlihat begitu lemah itu mengangguk. Ia bahkan menggeser sedikit tubuhnya, memberi tempat untuk Alana berbaring di sampingnya.


" Tidurlah sayang. Esok harimu akan sangat panjang." Ucap wanita paruh baya sembari mengusap punggung Alana. Membuat merasa nyaman dan ia pun tertidur.


Tapi siapa yang akan menyangka jika itu adalah saat terakhirnya bersama sang ibu. Karena bagitu ia terbangun. Tubuh itu sudah dingin dan kaku tidak sehangat tadi. Kulitnya telah memucat. Sungguh sangat cepat ibunya pergi.


" Ibu." Panggilannya, untuk memastikan semua itu bohong! Tapi sampai berulang kali Alana memanggil ibunya. Tak kunjung ada sahutan. Hingga air mata yang coba ia tahan jatuh tanpa bisa ia cegah. Inilah alasan dari rasa takutnya. Ia menjerit, menangis memanggil-manggil wanita yang telah melahirkan dia ke dunia ini dan meninggalkannya begitu saja. Setelah pengorbanan yang ia lakukan untuk wanita itu.


.......


.......


.... ...


.......


...Bersambung....

__ADS_1


...Happy reading..💝💝...


__ADS_2