
" Lepaskan aku! Aku mau sama ibu aja, lepas." Jeritnya Sambil berusaha lepaskan dirinya dari rangkulan Saddam. pria yang sejak tadi di hubungi tidak ada kabar dan berita itu kini sudah berdiri di belakangnya dan merangkul pinggangnya.
" Sweetie tenang! Kamu masih punya aku, jangan seperti ini." Ucap Saddam semakin erat memeluk tubuh Alana dan memberi kode kepada yang lain untuk membawa jasad ibu mertuanya pergi terlebih dulu. Sebab dia harus menenangkan wanitanya, baru ia akan menyusul bersama Alana. " Kamu ingin di peluk-kan? Aku yang akan terus memeluk kamu sekarang dan seterusnya, sampai kamu tidak merasa kesepian lagi dan jadikan aku alasan untuk kamu tetap kuat, My sweet heart." Lanjutnya Sembari mencium puncak kepala Alana berulang-ulang.
" Aku nggak mau, aku mau sama ibu aja." Tolak Alana, Sambil menarik t-shirt hitam Saddam dengan sedikit mendorongnya agar ia melepaskan pelukannya. Tetapi Saddam tidak melepaskannya. Sekalipun Alana, Memukul dan menggigitnya, Saddam tidak peduli. Karena bagi pria itu, melihat wanitanya seperti ini jauh lebih sakit dari pada timah panas yang pernah menembus kulitnya. Jauh, bahkan berkali-kali lipat sakitnya.
" Sweetie, kamu nggak sayang sama aku! Kamu seperti ini membuat duniaku hancur! tolong Jangan seperti ini. "
" Nggak, aku nggak sayang sama paman, aku mau ikut ibu aja. Aku lelah! Karena semua pengorbanan aku sudah sia-sia." Ucapnya.
" Jangan ngomong seperti itu. Kalau kamu tidak berkorban, kita tidak mungkin bertemu! Kita tidak akan menjadi satu dan aku tidak akan pernah menyayangi kamu seperti sekarang ini. Aku sayang sama kamu. Aku nggak akan biarkan kamu sendiri lagi mulai sekarang! ikhlas-in ibu ya." Ucap Saddam, namun Alana tetap mengeleng kepalanya, menolak apa yang di katakan Suaminya itu. " Sweetie__"
" Kamu masih memiliki banyak waktu untuk meyakinkan dia, sebaiknya kita ke pemakaman sekarang." Ucap Heri sembari menepuk pundaknya, sebelum Saddam dapat melanjutkan kata-katanya.
Dan Pria itu melangkah lebih dulu meninggalkan Saddam dengan Alana dibelakang sana. Karena yang lain telah lebih dulu pergi. Heri sengaja tinggal untuk menjadi supir dadakan sahabatnya, karena dia tahu Saddam tidak mungkin mengendarai mobil dalam keadaan seperti ini.
" Ayo kita susul ibu, tapi kamu harus janji nggak boleh kaya tadi."Alana mengangguk, karena ingin segera menyusul ibunya.
Mereka akhirnya meninggalkan rumah itu menuju tempat pemakaman umum. Selama perjalanan, Saddam terus meyakinkan dan menguatkan Alana.
" Heii Sweetie, kamu sudah janjikan . Kamu harus tenang. " Ucap Saddam, mengingatkan Alana saat mereka tiba di TPU dan Alana hendak berlari ke arah makam ibunya.
" Lepaskan, aku mau ikut ibu "Teriaknya untuk kesekian kali hari ini sambil berusaha melepaskan tangan Saddam.
__ADS_1
" Iya, kita ke sana! Tapi kamu harus tenang dulu." Sahut Saddam semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang Alana yang terus saja meronta-ronta, minta di lepaskan.
" Apaan, sih! Paman nggak usah sok peduli ya sama aku. Aku nggak butuh semua itu. Karena paman nggak tahu apa yang aku rasakan, paman nggak pernah ada di posisi aku. Jadi lepaskan aku. "
" Nggak, sebelum kamu tenang. Kamu udah janji kan." Alana keras kepala. maka Saddam jauh lebih tegas.
" Aku bilang lepas." Teriaknya. Tapi Saddam tak kunjung melepaskannya. Sehingga Alana semakin marah dan mengigit lengan Saddam! Tetapi pria itu tidak protes ia , justru membiarkan Alana menggigitnya ." Paman, aku mohon lepaskan aku, aku mau lihat ibu." Lirihnya dengan tersedu-sedu. Karena ia lelah melawan.
Saddam pun mengantarnya, untuk melihat proses pemakaman ibu mertuanya tanpa melepaskan Alana, membiarkan wanitanya itu menangis serta meraung dalam dekapannya. Sampai proses pemakamannya selesai.
...\=\=\=\=\=\=\=\=...
" Dari mana kamu! Kenapa sulit sekali di hubungi?" Tanya Sandrina, kepada Saddam begitu mereka berkumpul di ruang keluarga sekaligus ruang tamu di rumahnya Alana, setelah kembali dari tempat pemakaman. Dan Alana sendiri telah tertidur di kamarnya , setelah di kasih obat tidur oleh Andika. Naya lah yang di tugaskan untuk menemaninya di kamar.
Ya, sandrina juga tahu tentang pekerjaan Sampingan Adiknya itu. Dan setiap kali mereka melakukan transaksi untuk bisnis terlarang mereka. Pasti ada salah satu di antara mereka yang tidak ikut dan bertugas untuk mengabari mereka. Jika ada sesuatu yang genting. Seperti meninggalnya ibu mertua Saddam, pergerakan mereka yang di ketahui atau ada jebakan dan lain-lainnya. Tetapi hal itu hanya berlaku kepada Heri, Sultan dan Andika. Sementara Saddam dan Aaron harus tetap ada di setiap transaksi mereka.
" Syukurlah! Tapi ingat, hasil bisnis si-alan kamu itu, jangan berikan kepada Alana. Kamu saja yang menikmatinya."
" Iya aku tahu! Kamu tidak perlu mengajarkan aku untuk itu." Sahut saddam.
" Kak! Bukannya kamu terlalu berlebihan kepada adik ipar mu itu. Istri dan kakakku saja tidak se-akur kalian berdua loh." Sultan yang sejak tadi mendengar ucapan kakak beradik itu turut menimpali ucapan mereka. Saat mengingat pertemuan kakak dan istrinya yang selalu berakhir cek-cok. Kadang sampai jambak-jambakkan. Bukan hanya istrinya saja. Istri nya Heri juga tidak cocok dengan adiknya.
" Karena aku bukan kakakmu! Dan aku kenal dengan baik adik ipar-ku jauh sebelum dia menjadi adik ipar-ku, lain ceritanya jika wanita lain yang menjadi istrinya Saddam! Maka akan ku pastikan hidup Saddam akan lebih buruk dari kamu. " Sahut Sandrina, membuat Sultan tidak dapat berkata-kata.
__ADS_1
Sementara Heri dan Andika yang mendengar pembicaraan mereka, mengeleng kepala. " Sandrina kok di lawan." Ujar Heri. " Apes nasib mu dik! Kalau jadi mertuamu." Lanjutnya. Membuat Andika salah tingkah. Pria itu tiba-tiba menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
" Nggak usah salah tingkah gitu! Aleya dan Naya juga belum tentu mau sama kamu, Sana cari wanita lain! Sekalian buat sih Aaron juga, nggak capek apa sendirian terus, nggak pendamping! Masa kalian berdua kalah sama truk." Ucap Sandrina dengan sedikit candaan.
" Tau nih! Nungguin siapa emang?" Sultan memanfaatkan situasi yang di ciptakan sandrina untuk menggoda Andika. Padahal tanpa di beritahu pun, mereka sudah tahu kemana hati sahabat mereka itu berlabuh.
Dan Saddam Hanya tersenyum mendengar candaan mereka. Sebab pikirannya saat ini tengah berpusat pada Alana. Ia berpikir cukup keras, bagaimana caranya mengembalikan senyum di wajah istrinya saat ia bangun nanti.
" Sudah-sudah! Kasian Alana . Dia lagi berduka, kalian malah bercanda." Tegur satyo. Sandrina dan sahabat-sahabat adiknya itu pun seketika Diam.
Tak lama setelah mereka diam, Alana bangun. Ia melangkah keluar kamar di ikuti Naya Yang juga baru bangun. " Ibu." Panggilannya, kemudian berjalan menuju kamar ibunya.
Saddam yang melihat hal itu, langsung berdiri dari duduknya! Menghampiri Alana. Kemudian memeluknya. " Sabar ya! Kamu harus ikhlas-in Ibu."
.......
.......
.......
.......
...Bersambung....
__ADS_1
...Happy reading...💝💝...