
Keesokan harinya, Saddam bangun lebih dulu! Pria itu tersenyum saat mendapati Alana masih bergelayut di dalam selimut yang sama dengannya.
Entah kenapa, ia merasa posisi Alana saat membuatnya ingin mengabaikannya. Tanpa banyak berpikir Saddam beranjak dari tempat tidur mengambil ponselnya dan memotret Alana yang sedang tertidur. Dengan wajah yang sedikit tertutup rambut dan lengannya.
Dalam potret itu, sebagian punggung polos alana terlihat jelas. Bahkan cincin yang ia sematkan di jari manis Alana juga turut menghiasi potret yang baru saja ia ambil. Hanya wajah alana tidak terlihat dengan jelas karena tertutup helaian rambutnya.
Saddam kembali duduk di atas ranjang, sembari menatap hasil jepretannya yang kita sudah berganti menjadi wallpaper ponselnya. Tidak hanya sampai di situ. Bahkan Akun sosial media yang sudah lama tidak dia buka. Kini kembali dia buka hanya untuk memposting foto itu di sana dengan caption.*My sweetie*
Dalam akun itu hanya memiliki lima unggahan, foto dirinya sendiri sebagai foto profil, Unggahan video dia sehabis berenang, gambar wine dengan pemandangan jendela pesawat, Potret Jadul sandrina yang menggunakan pakaian pengantinnya dan terakhir potret punggung Alana yang baru saja ia ambil. Walaupun akun itu hanya memiliki lima unggahan tapi ia memiliki puluhan juta pengikut. Yang ingin tahu lebih tentang kesehariannya.
Belum ada lima menit, potret punggung Alana di unggah. Like sudah membanjir Unggahan itu disertai komentar para pengikutnya. Tapi Saddam tidak tertarik membaca komentar mereka. Dan Hanya fokus membaca tanggapan dari orang-orang terdekatnya.
*Sebutan yang manis, untuk awal yang baik* tanggapan yang di berikan Sandrina.
* Aku menyebutnya cantik dan hebat* Heri ikut memberi tanggapan.
* Medusa versi nyata* tanggapan dari Andika. Pria itu sepertinya masih kesal kepada Alana.
* Sweetie? Itu manis sekali.* Tanggapan yang di berikan Sultan.
* Mainan baru? Seberapa hot dan mari bertaruh untuk berapa lama kamu bertahan dengannya* Tanggapan yang di berikan Aaron, berhasil mengubah mood Saddam dan pria itu segera menutup akun sosial medianya.
" Apa mereka bangun langsung bermain hp." Saddam bergumam. Bingung kenapa sepagi ini! Teman-teman dan kakaknya itu sudah menanggapi unggahannya. Waktu saja belum tepat jam enam. Atau Saddam yang mungkin lupa jika ada notip yang akan selalu mengingatkan mereka. " Ahh sudahlah, aku tidak peduli dengan apa yang ingin mereka lakukan." Ia pun kembali bergumam sendiri.
Saddam menghampiri Alana yang masih tertidur, mengusap pipinya dengan lembut dan begitu sayangnya. " Al, bangun! Apa kamu tidak ingin ke sekolah." Ucap Saddam sambil terus mengusap pipi Alana dan sesekali mengecup bibirnya. Membuat Alana terusik.
" Paman, ini masih pagi." Tegur Alana dengan suara serak dan berat khas bangun tidur, saat Saddam kembali mengecup bibirnya.
__ADS_1
" Aku tahu, Ayo bangun atau mau aku tiduri lagi." Ucap Saddam. Membuat Alana langsung duduk, walaupun matanya masih sangat berat untuk terbuka.
" Paman kamu menyebalkan." Ucap Alana dengan bibir yang sengaja ia manyun-kan. Membuat Saddam merasa gemas dan kembali mengecup bibir itu lagi.
" Maaf sweetie, kamu harus ke sekolah." Ucap Saddam, kemudian mengangkat tubuh Alana setelah menyibakkan selimut yang menutupi tubuh polos istrinya itu dan berjalan ke kamar mandi.
Keduanya pun mandi bersama. Tentu saja bukan mandi biasa! Karena mandi itu sedikit mengandung desa-han.
" Paman aku bisa terlambat." Tolak Alana saat Saddam memintanya untuk menemaninya sarapan.
" Kamu tidak akan terlambat sweetie, aku yang akan mengantar kamu." Sahut Saddam. Ia menarik Alana untuk duduk dan menikmati sarapan yang telah di siapkan oleh orang suruhannya. Tapi kopinya, tetap Alana yang buat sebab lidah Saddam sudah mulai terbiasa dengan rasa dari buatan istrinya. Alana pun tidak punya pilihan, pada akhirnya ia sarapan bersama Saddam.
Selesai sarapan. Sesuai janjinya! Saddam mengantar Alana ke sekolah. Dan benar saja wanita itu tidak terlambat, Sebab mobil Lamborghini hitam yang di kendarai Saddam melaju dengan kecepatan tinggi dan akan berhenti jika ada macet atau lampu merah saja.
" Terima kasih paman." Ucap Alana sembari menarik tangan Saddam untuk mencium punggung tangan suaminya itu. Dan saat Alana ingin melepaskan tangan Saddam, pria itu justru menahan tangannya dan menarik tangan Alana kemudian mencium punggung tangannya sama seperti yang dilakukan Alana sebelumnya.
Alana mengeleng kepalanya, mengambil ponsel pemberian Saddam. " Aku ambil ini saja! Kartu itu! Boleh paman simpan, aku tidak tahu cara menggunakannya." Jawab Alana jujur.
" Kamu bisa meminta Naya untuk mengajarkanmu sweetie atau mau aku sendiri yang mengajarkan caranya." Ujarnya sambil bertanya.
" Tidak perlu paman! Aku akan meminta Naya untuk mengajarkan aku." Putus Alana, pada akhirnya ia memilih mengambil kartu pemberian Saddam dan segera keluar dari mobil itu setelah merapikan penampilannya. Karena sejak tadi mobil milik suaminya itu menjadi pusat perhatian siswa dan guru yang hendak masuk ke sekolah. Bagaimana tidak menjadi pusat perhatian, mobil itu berhenti tepat di depan gerbang sekolah. Alana sudah protes tapi suaminya itu tidak peduli.
Hari itu Alana menjadi pembicaraan satu sekolah. Ia bahkan di panggil untuk menghadap guru BK dan di beri teguran. Karena di duga menjadi simpanan om-om dan akan membawa pengaruh buruk kepada siswi lain.
Untung saja Sandrina segera mengubungi pihak sekolah dan mengatakan kalau itu adalah dirinya yang kebetulan bertemu dengan Alana di jalan dan mengantarnya ke sekolah. Ia bahkan harus ke kantor Saddam mengambil mobil adiknya itu dan pergi ke sekolah Alana, untuk meredam gosip yang telanjur beredar sekaligus menghadap guru BK yang ingin memanggil ibunya Alana.
" Maaf Al, aku sempat berpikir yang sama dengan." Ucap Leo. Mereka kini sedang berada di kantin.
__ADS_1
" Aku justru berpikir itu majikan kamu? Dan kamu ada hubungan dengannya." Sahut Gio.
" Kalian terlalu cepat berburuk sangka! Harusnya kalian tanya Alana dan dengar tanggapannya terlebih dulu. Bukan langsung menduga! Yang tidak-tidak." Tegur Alfian.
" Maaf Al." Ucap Gio, merasa bersalah kepada wanita itu. Begitu juga dengan Leo
" Nggak papa kok Leo, Gio! Kan kalian hanya asal menebak saja, lagian bukan hanya kalian yang berpikiran seperti itu. Dan untuk kamu Gio aku belum cukup gila untuk menjadi pela-kor.
" Uuuhhkkk." Naya yang sedang menyesap minumannya langsung tersedak saat mendengar ucapan Alana barusan. *Jadi pelakor? ciih dari mana ceritanya istri bisa menjadi pela-kor* Gumam Naya di dalam hati, sembari mengeleng-geleng kepalanya. Sahabatnya itu, makin kesini makin pintar mengarang cerita untuk menutupi hubungannya dengan paman Saddam.
" Jadi majikan kamu itu sudah berkeluarga?" Tanya Gio lagi untuk memastikan apa yang dia dengar tidak salah.
" Iya." Jawab Alana.
" Syukurlah." Sahut Gio kemudian. Dan saat bel berbunyi, mereka pun kembali ke kalas masing-masing.
.......
.......
.......
.......
...Bersambung....
...Happy reading..💝💝...
__ADS_1