
" Itu tadi Naya." Ucap Alana sembari melangkah mendekati Saddam. Pria itu mengangguk kepalanya kemudian mengambil pakaiannya di atas tempat tidur yang telah di siapkan Alana. " Paman, Hari ini__" Ucap Alana sedikit gugup sehingga ia tidak dapat meneruskan kata-katanya.
" Ada apa sweetie? Kamu menginginkan sesuatu? Katakan saja." Sahut Saddam. Seraya mengunakan satu persatu pakaiannya mulai dari t-shirt sampai boxer-nya.
" Hari ini__"
" Sweetie katakan." Desak Saddam.
" Hari ini teman aku ulang tahun, dia mengadakan pesta di rumahnya dan mengundang aku! apa aku boleh pergi?" Ucap Alana sekaligus bertanya dalam satu tarikan nafas. Membuat Saddam menghentikan aktivitasnya sejenak dan menatap kepada istrinya yang kini sedang menunduk seraya memainkan jari-jari tangannya sendiri.
" Laki-laki atau perempuan?" Tanya Saddam tanpa memalingkan pandangannya dari Alana, yang masih senantiasa menunduk.
" Laki-laki! Paman bolehkan aku pergi." Sahut Alana dengan nada suara yang sedikit memohon, sembari mengangkat kepalanya dan membalas tatapan Saddam.
" Apa Naya juga ikut?" Alana dengan cepat mengangguk kepalanya." Kamu ingin pergi?" Tanya Saddam lagi. Dan Alana kembali mengangguk.
" Baiklah! Kamu boleh pergi." Sahut Saddam, membuat Alana berjingkrak senang tetapi hal itu justru membuat Saddam tidak suka.
Apalagi saat melihat istrinya itu segera berlari ke arah walk in closed dengan begitu bahagianya, setelah mendapat izin darinya, membuat suasana hati Saddam semakin buruk dan ia menyesal dengan keputusannya sendiri, tetapi dia bisa apa-apa, sebab dia sudah setuju Alana pergi.
" Sweetie, apa kamu yakin ingin ke pesta, mengunakan gaun malam itu." Tanya Saddam sambil menunjuk gaun hitam tanpa lengan yang di gunakan Alana.
" Iya paman! Apa ada yang salah dengan penampilan aku?" Jawab Alana sekaligus balik bertanya.
" Ya! Gaun itu terlalu terbuka. Kamu bisa masuk angin nanti." Jawab Saddam mengada-ngada. Bagaimana tidak gaun itu sudah sangat pas untuk alana, tidak ketat, tidak terbuka dan hanya lengan Alana yang terlihat, sisanya masih sopan, sangat sopan malah. Tapi dasarnya Saddam aja yang ingin menahan istrinya itu.
" Tapi aku lihat biasa aja! Dan aku juga nyaman pakai gaun ini." Sahut Alana.
" Iya! Itu kalau hanya kamu yang lihat, tetapi orang lain yang melihat tidak seperti itu dan sebaiknya kamu ganti gaun itu dengan yang lain." Sahut Saddam membuat Alana tidak dapat menolaknya dan ia kembali masuk kedalam walk in closed, untuk menganti gaunnya sesuai permintaan Saddam.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian Alana kembali keluar dengan gaun lain, kali ini dia memilih mengunakan dress berwarna maroon. " Kalau yang ini." Tanya Alana.
" Tidak sweetie, dress itu terlalu pendek." Jawab Saddam. Padahal panjang dress itu sudah melewati lututnya Alana. Apanya yang pendek. Emang dasarnya suami laucknatnya itu sedang mencari alasan saja, sehingga Alana tidak jadi pergi.
Tak ingin berdebat Alana kembali menganti dress-nya itu. Bukan hanya dua kali tetapi sudah lebih dari tujuh kali Alana Menganti gaunnya, entah kenapa setiap gaun yang di pakainya malam ini selalu saja, ada salahnya di mata Saddam.
" Paman Jika paman tidak ingin aku pergi! Katakan saja, jangan membuat aku lelah dengan terus menganti gaun tapi tidak ada yang pas di mata paman." Ucap Alana mulai kesal, wanita itu bahkan hampir menangis karena kesel dengan ulah Suaminya itu.
" Maaf! Aku tidak bermaksud seperti itu, aku hanya ingin yang terbaik untuk kamu. Jika kamu merasa nyaman dengan gaun ini kamu boleh menggunakannya." Sahut Saddam Seraya memeluk tubuh Alana, sehingga istrinya itu tidak menangis karena ulahnya dan ia memutuskan untuk mengalah kali ini. " Cepatlah, Naya pasti sudah bosan menunggu." Lanjutnya mengingatkan Alana.
Alana pun mengangguk dan mengusap sudut matanya yang sedikit basah, kemudian duduk di depan cermin meja riasnya untuk sedikit memoles wajahnya dan menatap rambutnya.
Begitu Alana hampir selesai, Saddam menghampirinya, mengambil dompet dan kunci mobil yang ia letakkan di atas meja rias itu dan Alana baru sadar jika Saddam kini telah menganti pakaiannya.
" Paman akan pergi?" Tanya Alana.
Pria itu pun dengan cepat mengangguk kepalanya. " Aku ada janji dengan Dika dan yang lainnya, tapi begitu kamu pulang, kabari saja aku. Aku juga akan langsung pulang. " Jawabnya." Ya udah, mau pergi sekarang?" Tanya Saddam lagi. Alana pun mengangguk seraya berdiri dari duduknya, mengambil Sling bag-nya. Dan keduanya pun melangkah keluar bersama-sama.
" Maaf ya Nay! Habisnya Paman kamu nih, ngeselin banget." Sahut Alana sembari menunjuk Saddam.
Bukannya marah di salahkan, Saddam justru memegang tangan Alana yang menunjuknya, kemudian mengecupnya di depan Naya. membuat gadis itu, ingin muntah melihat sikap manis pamannya yang sekarang." Maaf! Kan aku mau penampilan istriku, yang terbaik di antara teman-temannya." Sahut Saddam, membela dirinya.
" Tau Ah, kita pergi sekarang." Putus Naya sembari menarik tangan Alana. Tetapi ia kalah cepat dengan Saddam pria itu lebih dulu menggenggam tangan istrinya.
" Aku antar kalian, kebetulan aku juga mau keluar." Putus Saddam sambil menarik Alana untuk mengikuti langkahnya.
" Iiihhhh paman." Kesel Naya, Ia sampai menghentak-hentakan kakinya ke lantai.
" Naya ayo! Katanya telat. " Ujar Saddam saat keponakannya itu tetap berdiri di tempatnya. Naya pun mau tak mau mengikuti langkah mereka.
__ADS_1
Akhirnya malam itu, kedua wanita itu pasrah pergi ke pestanya Gio di antar oleh Saddam setelah drama yang sengaja di ciptakan Saddam.
...\=\=\=\=\=\=\=\=...
Pesta ulang tahun Gio mulainya jam delapan. Tetapi Alana dan Naya baru tiba disana jam Sembilang kurang lima belas menit.
" Maaf ya Gio! Kita telat. Nih buat kamu, sekali lagi selamat ulang tahun ya." Ucap Naya Seraya memberikan hadiah yang telah dia siapkan kepada pria itu.
"Thanks ya Nay! Tapi aku lebih Senang kalian telat dari pada nggak datang." Sahut Gio jujur, sembari menerima Hadiah pemberian Naya, kemudian meletakkan hadiah itu bersama hadiah-hadiah lainnya. Pria itu memang sejak tadi menunggu kedatangan Naya dan Alana atau lebih tepatnya Alana.
" Kok gitu! Kenapa emang?" Tanya Naya.
Gio tersenyum seraya menjawab." Nanti juga kamu akan tahu."
" Udah nggak usah kepo." Alana maju satu langkah dan menarik lengan Naya agar mundur kebelakang sehingga ia dapat mengucapkan selamat kepada pria itu dan memberikan hadiah yang ia siapkan bersama Naya sepulang sekolah tadi." Gio, selamat ulang tahun ya! Aku nggak tahu kamu suka apa! Tapi semoga kamu menyukai hadiah pemberian aku. " Ucap Alana. Menyerahkan kotak Hadiahnya kepada Gio.
" Terima kasih ya Al! Aku boleh buka?" Tanya Gio. Alana pun mengangguk.
Hadiah yang di berikan Alana adalah sebuah jam tangan yang ia beli mengunakan, uang nya sendiri! Sebab ia merasa bersalah jika menggunakan uang Saddam untuk membelikan hadiah kepada laki-laki lain walaupun gio hanyalah seorang teman.
" Maaf ya! Aku cuma bisa beli jam murah buat kamu." Ucap Alana sedikit tidak enak, saat gio membuka hadiahnya di depan tamu lainnya dan langsung memakainya. Walaupun Jam itu murah! Tapi nggak murahan juga.
.......
.......
.......
.......
__ADS_1
...Bersambung....
...Happy reading....💝💝...