Love Me

Love Me
Sebuah firasat.


__ADS_3

Tetapi baru beberapa langkah, ucapan Naya berhasil menghentikan langkahnya." Aku punya saran agar paman bisa menepati janji paman kepada paman Aaron tanpa perlu memberikan Alana."


" Apa maksud kamu, Nay?" Tanya Saddam seraya berbalik menatap sang keponakan dengan kening yang berkerut.


" Maaf paman! Tadi Nay dengar omongan paman dan paman Aaron! Dan Nay juga tahu, Paman udah mulai sayang banget kan sama Al. Paman nggak mungkin izin paman Aaron buat menyentuh Alana, tapi paman juga nggak mungkin menarik kata-kata paman sendiri. Jika benar tebakan aku! Kenapa paman tidak menyerahkan Alena saja, sebagai gantinya. Toh paman Aaron juga nggak akan sadar kalau mereka adalah orang yang berbeda." Ucap Naya dengan santainya. Seolah apa yang dia katakan itu bukanlah sebuah masalah.


Dari semua orang yang percaya bahwa Alena telah berubah. Cuma Naya seorang yang tidak mempercayai hal itu dan bukan tanpa sebab Naya bersikap seperti itu. Karena dia tahu seperti apa sikap dan sifat Alena dulu. Naya tidak ingin Alana termakan kebohongan Alena dan berakhir merugikan dirinya sendiri. Untuk itu dia harus punya rencana terlebih dulu untuk menjatuhkan Alena sebelum wanita itu benar-benar bisa berdiri.


Tetapi Naya lupa, jika mereka adalah saudari kembar yang memiliki Ikatan sejak mereka berada dalam kandungan.


Dan menyakiti Alena sama saja dengan menyakiti Alana. Ya mungkin selama ini Alena mengabaikan perasaan itu tapi Alana tidak sama sekali dia Bahkan dapat merasakan ketulusan dari setiap perbuatan saudarinya.


" Nggak, Alana akan marah jika dia mengetahui hal ini." Tolak Saddam.


" Berarti paman setuju Alana di sentuh Paman Aaron. Paman Alana tidak akan tahu jika Alena tidak memberitahunya dan Alena itu tidak sebaik itu. Aku yakin dia sedang berbohong dan merencanakan sesuatu untuk Alana. Dulu dia bisa dengan mudah menyakiti Alana, kenapa sekarang tidak paman." Naya terus mendoktrin Saddam dengan semua kelakuan Alena dulu. Karena wanita itu yakin Alena itu hanya berpura-pura." Paman, kalian jangan begitu saja percaya kepada Alena, karena wanita itu tidak sesederhana yang terlihat. Tapi kalau paman tetap tidak mau ya itu terserah paman sih, aku hanya menyarankan saja." Lanjutnya sebelum melangkah pergi meninggalkan Saddam dengan pikirannya.


Semalam pria itu tidak dapat tidur, ia terus memikirkan ucapan Naya. Dan setelah mempertimbangkan semuanya. Saddam memutuskan untuk pergi ke kamar Naya.


Entah apa yang di rencanakan kedua orang itu yang pasti itu bukan sesuatu yang baik untuk kedua saudara kembar itu dan mungkin akan merugikan mereka nanti.

__ADS_1


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Di sebuah taman yang begitu indah, seorang gadis tengah duduk seorang diri melihat anak-anak bermain dan berlari kesana-kemari. Hingga ia tidak sadar keadaan di sekitarnya kini telah menjadi gelap. Gadis itu masih duduk di sana, di sebuah bangku taman! Walaupun keadaan di sekitarnya mulai sepi tetapi ia masih betah duduk di sana. Hingga sebuah tangan terulur untuk meraih pundaknya, tetapi gadis itu segera berdiri dan melangkah pergi sebelum tangan itu sempat meraih pundaknya.


Dan sepanjang ia berjalan, seseorang terus saja mengikutinya dari belakang. Gadis itu mulai merasakannya dan ia pun mulai berlari tanpa menoleh kebelakang, tetapi orang itu masih terus mengikutinya. Hingga gadis itu kelelahan dan tersandung kakinya sendiri. Ia terjatuh dan tiba-tiba seekor ular mengigit kakinya.


" ALENA."


Suara teriakan Alana mengagetkan Alena yang sedang tertidur di sampingnya." Lana, ada apa?" Tanya Alena, sembari mengusap keringat dingin pada dahi Alana. " Lana kamu mimpi buruk." Tanya Alena lagi.


Tetapi Alana tidak kunjung menanggapinya, wanita itu justru tengah mengatur nafasnya yang memburu, seakan dia habis lari maraton." Cuma mimpi." Ucap Alana seraya mengatur nafasnya.


" Aku mimpi kamu di kejar-kejar orang, terus di gigit ular." Jawab Alena.


" Astaga Alena, cuma mimpi gitu aja kamu, sampai kaya gini. Makanya! sebelum tidur itu baca doa dulu, udah tidur lagi, mimpi itu cuma bunga tidur, lagian aku juga baik-baik ajakan." Ucap Alena sambil memeluk tubuh saudari kembarnya itu dan memintanya untuk kembali tidur setelah memberinya segelas air! agar Alana sedikit tenang.


" Tapi Lena, mimpi itu seperti nyata! Aku takut__"


" Hai, nggak usah parno-an kaya gitu! Itu cuma mimpi, semua akan baik-baik saja. Ayo tidur lagi." Keduanya pun kembali berbaring, tetapi mata Alana enggan untuk terpejam. Ia terus teringat akan mimpinya, sembari menatap wajah damai Alena yang sudah kembali tertidur, tak lama Alana pun ikut tertidur begitu rasa ngantuk menyerangnya.

__ADS_1


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Pagi harinya Alana dan Alena berangkat ke sekolah mengunakan taksi setelah mengantar dagangan Alena ke kios-kios seperti biasanya. Dan hari itu kebetulan mereka hanya masuk setengah hari untuk mendapatkan jadwal dan nomor ujian yang akan di mulai hari Senin sekaligus doa bersama, menyambut ujian yang akan mereka lakukan empat hari lagi. Karena Jumat, Sabtu dan Minggu, Siswa kelas tiga di izinkan libur, sekaligus beristirahat di rumah untuk mempersiapkan diri mereka menyambut ujian Senin besoknya.


" Pagi Al, Alena." Sapa Naya kepada kedua wanita itu, saat mereka bertemu di koridor sekolah."


" Pa_pagi juga Nay." Jawab Alena sedikit canggung, karena gadis itu tidak dekat dengan Naya. Mereka itu seperti musuh setiap kali bertemu dan Naya bersikap seperti itu membuat Alena merasa Aneh.


" Pagi Nay." Balas Alana.


" Al, pulang sekolah nanti, kita main yuk ke apartemen paman! Kan udah lama tuh kita nggak habisin waktu bersama sekalian kita aja Alena. Gimana." Ucap Naya, membuat Alena mengerutkan keningnya. Tumben sekali gadis itu mau mengajak Alena, bukannya sejak dulu dia anti banget ya sama Alena, begitu pun sebaliknya.


" Kenapa nggak di rumah kamu aja sih Nay! Ngapain juga harus di apartemen." Tanya Alana. Dia sih mau-mau saja. Toh siapa tahu dengan begitu Alena dan Naya bisa dekat. Dan dia lelah jika harus menjadi penengah untuk mereka berdua yang tidak pernah akur itu.


"Nggak ah, nggak seru ,kita bakalan di ganggu sama paman begitu dia pulang kerja! Tapi kalau di apartemen-kan , paman nggak tahu! Nggak ada juga yang akan menganggu kita-kan. " Jawab Naya, berusaha untuk meyakinkan kedua kakak beradik itu.


" Kalian berdua aja! Sore hari aku sibuk." Tolak Alena, kemudian melangkah meninggalkan Naya dan Alana.


Baik Naya maupun Alana tidak dapat memaksa Alena untuk ikut, sebab Alana tidak ingin saudarinya itu merasa tidak nyaman sementara juga tidak dekat dengan Alena, sehingga ia pun hanya bisa diam di tempatnya sembari menatap punggung Alena yang perlahan menjauh dari pandangan mereka.

__ADS_1


__ADS_2