
Semenjak Alana kembali, wanita itu seakan membawa hal baik untuk Saddam dengan teman-teman. Lebih tepatnya kepada Andika.
Karena Alana hubungan Andika dan Naya, semakin hari semakin membaik! Karena Alana terus meyakinkan Naya Dan selalu berkata tidak ada yang perlu di salahkan atas apa yang terjadi dengan mereka. Tapi, jika Naya tetap kekeuh ingin menyalahkan seseorang! itu bukan dirinya atau Andika, melainkan Aleya kakaknya sendiri, karena jika Aleya tidak mendesak mereka untuk pergi ke club! Naya dan Andika tidak mungkin berakhir di hotel malam itu.
" Mama senang lihat kalian bisa akur kaya gini." Ucap mamanya Andika, saat mendapati Anak dan menantunya tengah nonton TV di ruang keluarga mengunakan satu selimut. Pemandangan seperti ini begitu langkah di rumah itu. Sebab menantunya itu selalu menatap putranya dengan tatapan benci, ia pun tidak mau berada di kamar yang sama dengan Andika.
Tapi wanita itu begitu kagum dengan kesabaran anaknya, menunggu hati istrinya luluh. " Iya dong mah! Emang harus begini, cuma naya nya aja yang susah mengerti kalau di bilangin, harus Alana yang jelasin__ Aakhhh, sayang sakit." Jerit Andika Sebelum, pria itu menyelesaikan ucapannya.
" Mama, paman Dika gitu ihh, suka ngungkit-ngungkit, Masalah." Aduh Naya kepada mertuanya. Sebelum hubungan Naya membaik dengan Andika. Hubungannya dengan sang mertua sudah lebih dulu baik! Karena mertuanya itu yang menjadi penengah diantara mereka, sekaligus membantu mereka mengurus Leon.
" Dika." Tegur sang mama.
" Dih menantu mama aja yang manja, tukang ngadu." Ejek Andika, sengaja untuk menggoda istrinya itu.
__ADS_1
" Kalau udah tahu aku manja, tukang ngadu! Kenapa mau nikah sama aku." Kesal Naya, umur aja yang bertambah, tapi sikapnya tetap sama, sebelas dua belas sama Leon.
" Ya, karena cinta lah." Jawab Andika sembari mendekap erat tubuh sang istri. Melihat kemesraan Anak dan menantunya, mamanya Andika memilih pergi dari sana. Memberikan waktu kepada kedua, untuk mengeratkan perasaan mereka.
...\=\=\=\=\=\=\=...
Disisi lain Aaron terus membujuk Alena agar mau tinggal bersamanya bersama Bram. Tapi Alena selalu menolaknya dengan tegas karena tidak ingin memiliki hubungan Apapun dengan Aaron. Namun dirinya tidak pernah melarang Aaron jika ingin bertemu dengan Bram.
" Tentu saja! Kamu kan tahu sendiri, anak dan wanitaku ada disini, sudah pasti aku akan berada di dekat mereka! Kecuali kamu mau membujuk istrimu untuk meminta Alana ikut denganku." Sahut Aaron.
" Kamu harus melakukannya sendiri, kalau kamu sayang kepada saudariku! Usaha dong bukan mengemis meminta bantuan orang lain." Sahut Alana, membuat Aaron memutar bola matanya malas.
" Asal kamu tahu, saudarimu itu, sama keras kepalanya dengan kamu." Ucap Aaron.
__ADS_1
" Kita, bukan keras kepala, tapi itu bentuk perlindungan diri dari lelaki breng-sek seperti kamu." Ucap Alana tidak mau kalah, wanita itu duduk di samping Saddam. " Sudah sebulan, kamu menumpang disini apa tidak bosan." Tanya Alana. Wanita itu sebenarnya kasih kepada Aaron, tapi dia juga tidak bisa membujuk Alena.
" Tau nih! Habisi beras aja." Sahut Saddam.
" Sia-alan kamu." Umpat Aaron, sembari melempar Saddam dengan bantal sofa.
" Udah ah sayang! Nggak usah di urusin kita balik aja ke kamar." Ucap Saddam lagi, sembari mengajak wanita itu untuk berdiri. Alana pun tidak menolak dan menuruti saja apa yang di ucapkan suami.
Begitu Alana dan Saddam pergi, kini giliran Alena yang menghampiri pria itu. Alena terlihat sangat kesal dan ketika berada di hadapan pria itu. Ia tidak ingin berurusan lagi dengan Aaron tapi tak berkata lain.
" Aku benci kamu." Ucap Alena, sembari melempar sesuatu ke tubuh Aaron.
Awalnya dia bingung dengan benda itu, tetapi begitu menyadari benda itu apa dan melihat tanda dua garis di sana. Aaron langsung menghampiri Alena dan mengucapkan terima kasih kepadanya. " Terima kasih sayang. Ladang kamu memang yang paling subur. " Ucapnya. Langsung mendapat tatapan tajam dari Alena.
__ADS_1