
Setibanya mereka di rumah sandrina, Saddam lebih dulu keluar dari mobilnya tanpa menunggu yang lainnya. Marah, tentu saja dia marah! Disini dia khawatir sambil mencari Alana kesana-kemari dan begitu ia menemukannya Alana justru bersama pria lain. Siapa yang tidak akan marah jika melihat hal seperti itu. Ya kecuali ia tidak ada perasaan apapun kepada istrinya.
Pranngg...
Bunyi suara Guci yang sengaja di jatuhkan Saddam, membuat Sandrina, Alana serta Naya yang mengikuti langkahnya dari belakang terkejut dengan apa yang di lakukan Saddam.
" Astaga Saddam, apa yang kamu lakukan." Teriak sandrina saat melihat guci antik kesayangannya kini sudah tidak berbentuk lagi.
Pranngg..
Belum reda rasa keterkejutan mereka, kini Saddam kembali menghancurkan guci yang lainnya. Membuat Sandrina semakin kesal dengan adiknya itu. " Alana, sebaiknya kamu tenang kan dia, sebelum semua barang-barang kesayangan kakak di rumah ini hancur." Ucap Sandrina, kepada Alana. Yang kini tengah bersembunyi di belakang punggungnya, begitu juga dengan Naya.
" Aku takut kak! Bagaimana kalau paman sampai nyakitin aku." Tolak Alana.
" Ada kakak disini, dia tidak akan mungkin menyakiti kamu! Dekati dia dan minta maaflah, dia seperti itu karena khawatir sama kamu." Ucapnya menyakinkan Alana. walaupun ia sendiri tidak yakin dengan kata-katanya.
" Iya Al, paman kan udah mulai sayang tuh sama kamu! Anggap aja ini cara kamu membuktikan dia benar tulus sayang sama kamu atau tidak." Naya pun ikut-ikutan menyakinkan Alana.
" Tapi_"
" Udah nggak usah tapi-tapi! Kakak yakin dia tidak akan menyakiti kamu." Sahut Sandrina, sembari mendorong pelan tubuh Alana ke arah Saddam, yang kini sudah duduk di sofa sambil memejamkan matanya dengan bersandar pada sandaran sandaran sofa.
Alana meyakinkan dirinya, dengan perlahan ia mulai melangkah ke arah Saddam, Tetapi langkahnya beberapa kali terhenti untuk menyakinkan dirinya sembari menghirup oksigen yang serasa semakin berkurang saat langkahnya semakin dekat dengan Saddam. Dan begitu ia sampai di hadapan Saddam Alana langsung berlutut di depan suaminya itu sembari berkata." Paman Maaf." Dan di saat bersamaan, Saddam membuka matanya kemudian menarik menarik Alana untuk berdiri, kemudian memeluknya dan kembali menariknya hingga ia duduk di atas pangkuan Saddam. Saddam semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang Alana, iya marah sangat marah kepada Alana juga dirinya sendiri! Tetapi rasanya mengalahkan segalanya. " Maaf paman." Ulang Alana lagi.
Saddam mengangguk kepalanya. " Kalau kamu ingin pergi, bilang ya! Jangan buat aku khawatir. Aku nggak akan melarang kamu pergi sama siapapun, selagi kamu tahu batas dan kamu ingat kamu itu istri aku, milik aku! Aku bukanlah seorang dermawan yang dapat membagi wanitaku dengan orang lain begitu saja. Tolong tahu batas ya sweetie, karena aku tidak tahu sampai di mana aku dapat menahan kemarahan aku." Akunya kepada Alana sekaligus memintanya untuk mengerti keadaannya.
" Iya paman! Aku janji, nggak akan ulangi lagi."Sahut Alana, membuat pria itu sedikit tenang dan kembali mengeratkan pelukannya pada Alana.
__ADS_1
" Kamu udah makan belum?" Tanya Saddam sembari mengusap punggung istrinya.
" Belum! Aku lupa." Saddam mendesah frustasi mendengar jawaban Alana.
" Mau makan apa? Biar aku panggil mbak Ning buat siapin makanan kamu.". Tanya Saddam. sikap begitu lembut, berbeda dengan beberapa menit yang lalu.
" Aku mau makan mie yang pernah di buatin paman. Boleh?" Ucap Alana sedikit ragu.
" Mie?" Tanya Saddam! Pria berpikir keras, kapan kiranya dia pernah membuat mie untuk Alana, sebab Saddam tidak pernah mengkonsumsi mie, jadi tidak mungkin dia membuatkannya untuk Alana.
" Itu loh, yang kemarin malam paman buatin, buat aku dan Naya." Jelas Alana. Tetapi Saddam benar-benar tidak ingat.
" Alana sayang! Bukan mie, tapi spaghetti." Sambung Naya. Gadis itu dan ibunya masih, berada di sana. Untuk mengawasi Saddam. Walaupun mereka berkata Saddam tidak mungkin menyakiti Alana. Tapi jauh di lubuk hati mereka, mereka sangat meragukan hal itu. Jadi untuk mengantisipasi terjadinya kekerasan dalam rumah tangga. Maka ibu dan anak itu menunggu sampai kedua pasangan itu benar-benar berdamai.
" Iya itu! Tapi kan bentuknya sama dengan mie."
" Kamu ingin makan Spaghetti?" Tanya Saddam, langsung mendapat anggukan kepala dari Alana." Ya udah! Ayo kita buat." Ajaknya, dia dan Alana pun berdiri dan hendak melangkah ke dapur. Tetapi langkah Saddam di tahan oleh sandrina.
" Udah nggak marah lagi kan?" Tanya sandrina, langsung di angguki oleh Saddam. " Karena kamu udah nggak marah lagi, jangan lupa untuk mengantikan guci aku yang baru saja kamu pecahkan, aku mau malam ini tiga guci yang sama persis dengan guci yang kamu pecahkan sudah kembali ke tempat semula." Ucap sandrina sembari menunjuk pecah guci yang masih berserakan di lantai itu.
" Sandrina, aku cuma pecahkan dua! Kenapa aku harus Mengganti tiga." Tanya Saddam tidak percaya dengan apa yang di minta kakaknya itu.
" Ya benar! Kamu memang hanya memecahkan dua. Tapi yang satunya itu untuk ucapan minta maaf kepada aku selaku yang punya barang. Oke jangan lupa. Malam ini sebelum jam dua belas. Aku sudah melihat guci-guci itu di tatah dengan rapi di tempat semula." Sahut Sandrina kemudian pergi meninggalkan adik dan adik iparnya itu di ikuti Naya di belakangnya.
Begitu sandrina dan Naya pergi ke kamar mereka masing-masing! Saddam pun membawa Alana ke dapur dan membuatkan spaghetti untuk dirinya juga Alana.
Sementara para pelayan mulai membersihkan pecahan guci itu, begitu Saddam sudah tidak berada di sana.
__ADS_1
Selesai makan, Saddam mengantar Alana ke kamarnya! Kemudian keduanya berbaring di atas ranjang king size itu, Saddam mengelonin Alana sampai wanita itu tertidur. Dan begitu Alana telah tertidur Saddam pun pergi. Karena ia harus mencari guci yang sama persis dengan punya sang kakak. Mengingat guci itu adalah guci antik! Tentu saja Saddam tidak akan semudah itu mendapatkan gantinya.
Hingga akhirnya! Saddam memutuskan untuk membeli guci lain yang harganya lebih mahal dan lebih bagus dari guci yang ia pecahkan.
Tak lupa ia juga membeli satu set perhiasan untuk kakaknya. Dan tepat jam sebelas tiga puluh menit, Saddam kembali ke rumah sang kakak dengan membawa guci-guci itu. Kemudian meminta penjaga dan anak buahnya untuk meletakkan di tempat semula.
" Ciih, aku pikir kamu tidak akan pernah mendapatkan guci-guci pengganti itu." Ucap sandrina sembari melangkah menghampiri adiknya . " Hmm Sia-sia dong rencana aku untuk menyembunyikan istri kamu selama satu Minggu ke depan." Lanjutnya.
" Itulah, sebabnya aku meninggalkan istriku yang tengah tertidur demi memenuhi keinginan kamu. Plus ini buat kamu sebagai ucapan terima kasih karena sudah menghadirkan Alana dalam hidup." Ucap Saddam sembari memberikan kotak berudu berwarna biru Dongker itu kepada Sandrina.
" Tanda terima kasih?" Tanya sandrina. Di angguki oleh Saddam. Wanita itu pun mengambil kotak berudu itu dan membuka nya, untuk melihat apa isinya." Aku bilang juga apa! Kamu akan berterima kasih kepada ku kan. Tapi sebaiknya kamu simpan dulu kotak itu sampai Alana lulus dan dia tetap bersama kamu, baru aku akan memintanya sebagai ucapan terima kasih dan aku menginginkan tanda terima kasihku lebih dari itu." Lanjutnya, mengembalikan kotak pemberian adiknya itu.
" Ciih kamu terlalu Maruk sandrina."
" Sama adik sendiri boleh lah." Sahut sandrina. Tetapi Saddam sudah tidak menghiraukan kata-katanya, sebab ia telah berlalu dari sana, karena sangat merindukan istri kecilnya itu dan ingin segera berbaring di sampingnya.
.......
.......
.......
.......
...Bersambung....
...Happy reading..💝💝...
__ADS_1