Love Me

Love Me
Chapter 06


__ADS_3

"Apa ayo cepet ?," tanya Meni mendesak keduanya.


Varo menghembuskan nafasnya kasar "sebenarnya Haikal ngga jadi kuliah disini bareng kita, dia disuruh bokapnya buat kuliah di luar Negeri dia juga minta maaf sama lu karena udah ingkar janji buat selalu bareng," penjelasan Varo cukup membuat meni terkejut, kenapa Haikal tidak memberitahu dirinya secara langsung dan lagi kenapa dari ketigannya hanya dirinya yang tidak tahu.


"Kenapa kalian baru ngomong ini ke gue?,"


"Kita juga baru tau waktu malam, Haikal nelfon gue dan disitu ada Gifar juga," kata Varo.


"Seenggaknya kita bikin acara buat terakhir kalinya," Kata Meni. Varo di buat heran kenapa meni tidak marah?, Padahal ia sudah membuat benteng pertahanan."Lu ngga marah men?," Gifar bertanya, Meni tersenyum tipis ia tahu pikiran negatif yang berada di otak mesum sahabat nya.


"Kenapa gue harus marah gue ngga punya hak buat lu pada selalu mengikuti perintah gue, seterah kalian pengen nentuin jalan hidup kaya gimana, gue ngga mau kalian ngerasa terkekang," Varo sedikit tersinggung dengan perkataan meni, ia sama sekali tidak merasa terkekang.


"Kita ngga ngerasa terkekang meni, lu itu udah kita anggap sebagai adik sendiri, ya walaupun umur lu lebih tua dari pada gue." Balas Varo, memang dari mereka usia Varo paling muda, satu tahun di bawah Mereka. "Bullshit, dari tingkah kalian aja udah mencerminkan bahwa gue ini kaya beban buat kalian." Meni memasang wajah terluka yang di buat-buat.


"Meni, jangan ngomong gitu dong lu itu sahabat kita yang paling the best," Gifar mengangkat kedua jari jempol nya di depan wajah meni.


Varo menggeplak kepala Gifar,karena tingkah absurd nya. "Maaf ," kata Varo memohon.


"Gue maafin kali ini, kalo kalian ngulangin lagi jangan harap dapat maaf dari gue," tegas Meni, agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali, ia tidak suka jika di dalam persahabatan ada rahasia seperti ini.Meni mulai menyantap makanannya dengan tenang, rasa mie ayam di kampus ini sangat memanjakan lidahnya ia akan menjadikan mie ayam di kampus ini sebagai makanan favoritnya. Meni mengambil botol saus yang berada di atas meja dan menuangkannya di mie ayam. Mengaduknya agar tercampur rata.


"Itu ngga pedes, lu belum sarapan kan nanti mencret lagi," Gifar yang melihatnya saja lidahnya sudah ikutan pedas.


Meni menyedot minumannya rasa segar menjumpai tenggorokannya yang kering, ia mengelap bibirnya yang kotor menggunakan tissue."Segini mah ngga ada apa-apa nya, lagian ini kan salah kalian berdua," Meni menunjuk keduanya dengan jari telunjuk.


"Iya kita ngga ngulangin lagi ko," Kata Varo menyakinkan.


Susana kantin cukup ramai, jadi keributan tadi tidak memancing banyak orang untuk melihat. Biasanya jika di SMA nya kejadian seperti ini pasti akan membuat banyak orang ingin tahu.


"Jadi gimana?,"tanya meni,


"Maksud lu," Varo balik bertanya, ia tak mengerti maksud dari pertanyaan Ambigu Meni."Kan Haikal pengen kuliah di luar negri, kita kan sebagi sahabat harus bikin acara dong,"Jelas Meni.


"Acara apa, dia aja berangkatnya hari ini" Celetuk Gifar, meni tersedak minumannya.


uhuk uhuk

__ADS_1


"Pelan2 makanya " Gifar memperingatkan, ia menepuk punggung meni berulang kali. Padahal yang membuat meni tersedak kan dirinya.


"Kenapa ngga bilang dari tadi?," meni menggeram ia sudah kesal setengah mati, emang bener ya sahabat nya ini bisa bikin dia darah tinggi. "Jam berapa berangkat?," Tanya Meni, ia harus cepat menyusul Haikal setidaknya ia ingin sekali memeluk dan mengucapkan salam perpisahan.


"Jam 12," Jawab Haikal santai.


Meni melihat jam di pergelangan tangganya "Anjir 20 menit lagi"


Ia langsung berlari keluar kantin, tak memperdulikan teriakan temannya yang memanggil namanya.


"Dih emang meni tau tujuan nya kemana?" Gifar menggeleng tak tahu, entah ia sudah memberi tahu meni belum.


Varo menepuk jidatnya"CK, kalo gitu kenapa kita masih disini kejar goblok" ia berlari menyusul meni, diikuti Gifar di belakangnya. ________________________


Bandara Soekarno Hatta.


Mereka terus berlari, walau sempat menabrak orang beberapa kali, pikirannya seakan kosong, ia pikir bukan hari ini Haikal akan meninggalkan kota ini untuk mencari ilmu.


Tujuan London. Ya, Haikal akan melanjutkan pendidikan ke London.


Walau tadi sempat terjadi kendala, tak ada angkutan umum yang lewat, ketiganya tak ada yang membawa mobil. Varo sedang dalam masa hukuman oleh orang tuannya karena ketahuan kabur dari rumah dan ikut tawuran, sedangkan Gifar ia belum di perbolehkan mempunyai mobil.


Meni menghentikan kakinya untuk berlari, ia menatap sekelilingnya mencari sosok Haikal, apakah dia sudah pergi ?, rasanya tak ikhlas untuk melepas Haikal pergi. Ia sangat dekat dengan Haikal perasaan egosi sempat hinggap di hatinya, ia menggeleng berulang kali. Tak seharusnya ia berpikir seperti itu.


Tak disangka air matanya keluar begitu saja membasahi kedua pipinya, ia mengusap kasar. Ia tidak boleh menangis."Beb lu ko nangis sih ?," Tanya Varo khawatir,


Diatanya seperti itu, membuat meni semakin ingin menangis, ia juga tidak tahu kenapa air matanya turun begitu saja tanpa ia kehendaki.


"Ayo ber Do'a aja semoga Haikal belum pergi," Varo mengandeng tangan meni, ia mengayunkan langkahnya untuk segera mencari Haikal. Meni menurut


Disana mereka melihat Haikal yang sedang duduk termenung sendiri di kursi panjang, penampilan nya berantakan, meni dibuat bingung apakah tak ada keluarga yang mengantar.


"Haikal," panggil Meni pelan. Haikal mendongak, manik matanya menatap meni lekat ada sisa air mata yang berada di pipi meni, apa meni habis menangis?.


"Meni," Haikal beranjak dari duduknya, ia menghampiri sahabatnya. Yang hanya diam.

__ADS_1


Meni memeluk Haikal erat, ia terisak ia belum siap untuk berpisah, ia pikir beberapa bulan ke depan Haikal akan berangkat ke luar negeri. Tapi ternyata hari ini ia akan berpisah.Haikal melepaskan pelukannya " udah dong jangan nangis, cengeng banget sih" Haikal menghapus sisa air mata meni menggunakan jempol tangannya.


"Kenapa lu ngga bilang mau kuliah di luar Negri," protes meni kesal


"Gua aja ngga tau kalo mau di buang ke luar Negri," kata Haikal bercanda,


"Ih, tau ngga gue tuh dah kesel setengah mati sumpah, gue tau hari ini lu bakal kuliah diluar negri, tapi yang bikin gue jantungan lu ko berangkat nya hari ini juga?, Dan mereka para kampret dengan santainya bilang ke gue, dan lu juga kenapa ngga ngasih tau gue" cecar meni ia melirik  Varo dan Gifar yang tepat berada di sampingnya. Bermaksud menyindir.


"Iya maaf, bokap gue tuh ngebet banget pengen buang gue,"


"Basi tau maaf Mulu, berapa kali hari ini gue nerima permintaan maaf," meni menyilang kan tangannya di depan dada.


Haikal mengusap pelan puncak kepala meni " jaga di Lo baik-baik, jangan jadi cewek bandel dan keras kepala" Haikal menarik bibir Meni karena gemas.


Meni meringis memukul tangan Haikal "sakit tau" meni mengusap bibirnya.


Perhatian, para penumpang pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan ***** tujuan London dipersilahkan naik ke pesawat udara melalui pintu ***.


"Jaga di lu baik2 kalo ada yg jahat bilang gue ya," Haikal menepuk puncak kepala Meni.


"Jangan pernah lupa sama gue, walau disana banyak bule cantik awas lu ya."


"Gue bakal selalu ingat lu ko,"Haikal tersenyum manis.


Haikal  memeluk Gifar serta Varo bergantian, ia tidak rela harus berpisah dengan sahabatnya. Rasanya sangat berat untuk meninggalkan Indonesia, negeri kelahirannya


"Jaga diri sebaik mungkin, " ucap Varo, ia juga sama sedihnya, Haikal adalah orang paling di dewasa di antar mereka,


"Nanti kabarin ya, kita bisa nge game seperti biasa," Gifar bertos ria. Ia memukul pundak Haikal pelan.


" baik-baik di Indonesia," ucap Haikal, ia melambaikan tangannya pada ketiga sahabatnya. Meni menghapus air matanya yang tiba-tiba turun.


"Gue sayang kalian". Teriak Haikal saat ingin memasuki pintu masuk.


_______

__ADS_1


Sorry gaes, kalo ada kata yang salah, typo yang bertebaran.


Tanpa revisi yang bener.


__ADS_2