Love Me

Love Me
Chapter 02


__ADS_3

Don't copy paste


Cerita ini murni hasil dari imajinasi aku.


"Gimana ka pengajiannya waktu malem?, dapet ilmu apa aja ?." Tanya Ayahnya _Surya_ mereka kini sedang sarapan pagi. Setelah melakukan aktivitas lari pagi rutinitas wajib untuk keluarga Pensy yang harus di jalani setiap hari Minggu. Kata ayahnya olahraga pagi sangatlah baik untuk kesehatan mumpung anggota keluarga lengkap jika hari Minggu.


"Banyak Yah " Jawab Meni gugup, ia juga tidak tahu ilmu apa yang di dapat, karena semalam ia hanya mendapat ilmu menyalip mobil serta bagiamana caranya berbohong kepada orang tua jika ingin keluar malam tapi tak di izinkan. Ia merasa seperti anak durhaka yang selalu membohongi keduanya.


"Ayah nanti ngobrol nya Pemali ngomong di depan rezeki" ibunya memperingati karena ia adalah tipe orang yang tidak suka jika sedang makan malah mengobrol, katanya seperti tidak menghormati makanan. Ayah mengangguk mengerti.


Suasana kembali hening hanya dentingan sendok yang terdengar, mereka kembali sibuk dengan makanannya sekali Meni mencuri pandang pada ke dua orang tuannya ia ingin ijin keluar hari ini. Menemui ketiga sahabat yang sedang PMS.


"Kenapa ka, ngeliatin ayah mulu ?"


"Eh" Meniara tersenyum kikuk " ngga ko yah, Kaka tadi lagi liat jam" Meni semakin gugup saat ayahnya menangkap basah dirinya yang sedang mencuri pandang ke arah Surya.


Surya mengambil sepotong ayam, ia menaruh di piring meni "makan yang banyak biar cepet gede " Kata Surya


Meni mencebik kesal " Kaka udah gede ayah, nih liat pantat Kaka "


Surya tertawa, melihat ekspresi Meni yang kesal, anaknya itu adalah tipe cewek yang tidak suka jika di bilang kurus, dibilang gendut pun salah. Katanya ia adalah tipe cewe idaman para lelaki tubuh semampai seperti gitar sepanyol. Ia hanya bisa tersenyum mendengar candaan yg di lontarkan anaknya.


"Iya pantat lu besar tapi **** lu tepos" celetuk Naim adik meni.


Surya melotot tak percaya anaknya yang bungsu bisa berucap frontal saat ada kedua orangtuanya.


''Naim jaga ucapan kamu " Surya memperingati, Naim nyengir menatap ayahnya. Ia merutuki mulutnya yang terlalu frontal.


"Iya tuh yah, Naim anaknya bandel banget di sekolah kerjaannya bolos terus suka berantem, sering masuk BK, ngelawan guru lagi, terus suka molor di kelas." Meni ikut memanasi ia tak terima dadanya di bilang tepos enak saja kalo jika di bandingkan dengan buah jeruk juga masih besar dadanya. padahal tadi yang dia ucapkan adalah kenakalan nya walau satu sekolah dengan Naim adik kandung nya Ia tidak terlalu memperdulikan, di sekolah pun keduanya jarang bertemu, bahkan satu sekolahan tidak ada yang tau bahwa mereka Kaka adik kalo saja tidak mengetahui nama belakangnya yang sama.


"Eh jangan dengerin yah boong tuh, mana Adah jangan sok tau deh lu, kenal lu aja ngga gue di sekolah." Naim menyanggah ucapan meni, ia sudah kelagepan melihat tatapan intens ayahnya.


"Aduh.. kalian ini bunda kan udah bilang, pamali ngobrol di depan rezeki makanannya di habisin dulu." terang bunda_Sherin_ bunda sudah sangat kesal dilihat dari raut wajahnya.


Meni menjulurkan lidahnya ke arah Naim ia pura-pura menggaruk kepalanya dan mengacungkan jari tengah. Naim menginjak kaki meni. Meni mengerang sakit


"Kenapa?"


"Ngga yah" jawab Meniara


Sialan batinnya kesal.


Selesai sarapan ayah serta Naim menuju ruang keluarga siksaan untuk Naim setiap weekend, pasti ia akan menemani ayah main catur sepanjang hari dan tak bisa berkumpul dengan teman-teman nya.


Anak bungsu yang malang.


Meni membantu bundanya membereskan meja makan, kata ayahnya jadi anak gadis itu jangan manja harus rajin, agar mendapatkan suami yang rajin pula. Meni hanya menjawab "Aminnn" ia membawa piring kotor ke wastafel ia mencuci piring satu persatu. Bundanya membereskan peralatan memasak.


Setelah selesai mencuci piring, ia segera menuju kamarnya yang berada di lantai atas. Kamarnya bersebelahan dengan kamar Naim. Jadi jika ia kabur di malam hari harus pintar-pintar agar tidak di ketahui, kalo tidak si anak bungsu itu pasti akan mengadu kepada Surya.


Meni mengecek ponselnya, belum ada notif pesan dari sahabat nya. Yang ada hanya para cowok yang menaksir dirinya, dan selalu mengirimkan pesan yang tak penting Ia juga tidak tahu dari mana para cowok mendapatkan nomor ponselnya.


Ia membuka aplikasi WhatsApp jarinya menekan ruang obrolan.


Grup ***** 😘😘


Wih kalian dimana


Bls dong


Kalian masih marah sama gue

__ADS_1


Varo


Di rumah Haikal


Meni tersenyum saat mendapat balasan. Dari ketigannya hanya Varo yang tidak bisa mendiamkannya terlalu lama.


Meni mengganti bajunya, ia mengenakan kaos pendek dan celana lepis panjang bajunya sengaja ia masukan, ia menggunakan sepatu yang ia beli beberapa hari yang lalu. rambut coklatnya di biarkan tergerai. Tak lupa ia menambahkan sedikit hiasan pada wajahnya agar terlihat lebih cantik.


Ia menyambar silmbag dan ponselnya nya yang berada di atas meja belajar. Meni menuruni tangga perlahan, mengedarkan pandangan sekitar. Ruang keluarga sangat sepi kemana ayah dan adiknya biasanya mereka berada di ruang keluarga sedang bermain catur dengan wajah Naim yang terlihat sangat bosan.


"Mau kemana?"


Meni memegang dadanya karena terkejut, di depannya ada bunda yang masih menggunakan Appron.


"Mau kemana ka, udah rapi aja." tanya bundanya lagi.


"Bunda ngagetin aja ih meni mau kerumah temen" jawab meni


Sherin mengerutkan dahi menggali ingatannya "Temen kamu Gifar, Haikal , sama Asep." katanya sambil mengingat.


Meni menahan tawa saat nama Varo di ganti dengan nama Asep " Varo bunda, beda jauh banget ih, dari Varo ke Asep" meni membenarkan, ada-ada saja padahal Sherin belum terlalu tua tapi sudah terkena penyakit pikun sama seperti dirinya.


"Eh salah ya" Bunda tersenyum sangat cantik Sherin keturunan asli orang sepanyol ayahnya bertemu Sherin saat kuliah di luar negri, yang membuat meni heran kenapa bundanya mau menikah dengan Surya. Walau begitu ia juga bersyukur karena ia di tampung di rahim Sherin, jadi wajahnya bisa secantik sekarang.


"Ayah sama Naim kemana Bun?."


"Ayah pergi tuh, sama Naim Bunda di tinggal ngga ngajak-ngajak" gerutu Bunda.


"Kemana?."


"Katanya Naim mau main ke rumah temannya. Terus ayah ikut deh kan kata kamu Naim bandel di sekolah." meni cengo dengan penuturan Sherin ayahnya Surya sangat Over protective kepada anak-anaknya. ia jadi kasihan dengan nasib Naim, bagaimana jika Surya tau kalo selama ini meni bukanlah anak baik yang selalu patuh pada aturan yang di berikan.


"Yaudah deh kalo gitu meni pergi dulu, Assalamualaikum bunda " meni mencium pipi bunda bergantian.


________


Tingtong


Meni memencet tombol bel dan langsung di bukakan oleh Mbok Ningsih pembantu keluarga di rumah Haikal, kebetulan meni sudah mengenal mbok Ningsih dengan baik.


"Neng meni ayo masuk Den Haikal ada di dalem sama temennya" Kata mbok Ningsih.


Meni mengekori mbok ningsih sampai ke ruang keluarga, di sana sudah ada ketiga sahabatnya. Haikal yang sedang belajar Varo dan Gifar yang sedang bermain PS.


"Mbok tinggal ya neng, pamit mau ke dapur" kata mbok Ningsih


Di balas anggukan oleh meni. Meni Menghampiri ketiganya Meni duduk di sofa. "Ko kalian diem aja sih gue datang nyambut ke apa?. " meni mendengus kesal.


Tak ada respon dari ketigannya, meraka asik dengan kegiatan masing-masing. "Ngomong coba jangan kaya cewek deh, kalian lagi PMS semalam kalian ko tega banget ninggalin gue disana sendiri an, kalo gue di apa-apa in gimana?" Cecar meni, ia juga kesal karena ia di tinggal begitu saja untung saja ada orang baik yang mau menolongnya. Walau sempat ragu pada awalnya.


"Gue pulang." Cetus meni, ia beranjak pulang percuma, dirinya bagai patung  yang tidak di anggap keberadaan nya, sebelum itu sebuah tangan menarik pergelangan tangganya.


"Jangan pergi, kita cuma takut" Haikal berkata dengan suara parau. Gifar dan Varo ikut menghampiri. Mereka duduk di atas karpet berbulu menghadap ke arah meni.


"Lu itu sahabat kita, bahkan lu itu udah kita anggap sebagai adik, lu tau ngga semalam jantung gue kaya lagi lari maraton saat lu ikut balapan " ujar Gifar ia menatap meni lekat menyakinkan meni, bahwa tidak ada kebohongan di setiap katanya.


"Emang iya, ngga percaya gue "Meni bersedekap menatap nyalang ketiganya "buktinya apa ?."


"Emang harus ada bukti ya?. masa lu ngga tau selama ini kenapa ngga ada cowo yang berani deketin lu ?. Itu semua karena Varo dia takut kalah saing buktinya sekarang lu jomblo mampus kan lu cantik-cantik tapi jomblo" tutur Gifar sedikit bercanda agar tidak terlalu tegang.


"Si tai orang lagi serius juga"

__ADS_1


"Ngapain juga lu bawa nama gue, enak aja nama gue ngga gratis ya. Bayar lu habis ini " protes Varo, kini mereka bertiga malah berdebat seakan lupa jika sedang menyakinkan meni, meni tertawa di buatnya.


"Makasih" Kata meni ia menghapus air matanya yg tiba2 keluar" kalian udah khawatir sama gue, kalian emang sahabat terbaik. Gue sayang kalian, kalian ngga salah ko, gue yang salah disini gue keras kepala ya?. " meni memeluk ketiganya erat. Mereka membalas pelukan meni tak kalah erat. Semarahnya mereka kepada meni pasti akan akur kembali.


"Banget Men" balas mereka berbarengan. Meni tersenyum tidak bisakah sahabatnya tidak terlalu jujur ?.


Meniara menguraikan pelukannya " Sekarang kita baikan kan?" Mereka mengangguk Meni meletakan tangannya di tengah-tengah Gifar, Haikal serta Varo mengikuti Meni mereka meletakan jari telunjuknya di atas telapak tangan Meni. Meni menggenggam jari tangan mereka, itu tandanya mereka sudah berbaikan.


Sejak kelas satu SMA hal yang di lakukan mereka jika sedang bermusuhan lalu baikan kembali.


Mereka kini sedang menonton film horor setelah acara berpelukan Teletubbies, meni berada di tengah-tengah karena takut ia memeluk bantal dengan erat itu juga untuk berjaga jika ada hantu yang muncul.


"Gue aus nih, far ambilin gue air dong"


"Idih males banget, siapa Lo"


Meni mencibir, "Gue temen lu kalo lu ngga lupa"


Meni menghentakkan kakinya kesal ia, terpaksa mengambil minum sendiri tenggorokan nya sudah sangat kering. Meni menuju ke dapur dengan hawa yang merinding, adegan tadi masih terbayang dalam benaknya, jadi ia berinisiatif untuk menyuruh Gifar, tapi sahabatnya yang satu ini sangat tidak tau diri. Meni membuka kulkas ia memilih minuman apa yang akan di minumnya ia mengambil satu botol fanta, ia menutup kembali saat berbalik kepalnya membentur dada bidang seseorang.


"Aww" ringkasnya pelan. Ia mengusap jidatnya, tuh dada apa tembok keras banget kaya batu batako.


"Minggir aku mau minum"


"Eh" meni mendongak menatap seseorang di depannya. Seorang pria dengan balutan kemeja kotak-kotak.


Anjirr genteng banget bantinya menjerit.


"Aku nyuruh kamu minggir bukan ngelamun" sindir nya, pria itu menggeser tubuh Meni, ia  masih terpaku di tempatnya. Ia mengerjap beberapa kali menyadarkan dirinya untuk segera bangun. Ya ampun ia baru saja bertemu dengan pangeran Meni berlarian menuju ruang keluarga.


"Haikal " teriak meni, ia langsung duduk di pangkuan Haikal.


"Ini bukan hutan meni" Varo memperingati, suara meni yang cempreng menggema di ruangan.


"Tadi siap?."  tanya meni penasaran  meni mendongak menatap Haikal .


"Siapa?"


"Itu yang tadi cowok, gila ganteng banget " Seru meni membayangkan wajah pria tadi, manis banget ganteng udah kaya pangeran yang ada di khayalan nya.


"Kaka gue" jawab Haikal acuh.


"Tunggu, jangan bilang lu suka sama Miguel, jatuh cinta pada pandang pertama iya?" kata varo, meni menggangguk."Ih, ko gitu sih men, lu mah sakit tau hati babang, udah tau gue suka sama lu"


"Namanya Miguel, ih bagus banget" meni cekikikan, ya ampun mendengar namanya saja udah bikin degdegan.


"Bagusan gue kali " Saut Varo. Menurutnya namanya adalah nama yang paling bagus di muka bumi ini.


Meni memukul lengan Haikal " ih Lo ko ngga bilang ke gue punya kaka seganteng itu"


"Jangan pernah jatuh cinta sama dia" ucap Haikal Serius ia menatap tajam pada meni.


Meni mengambil bantal yang berada di sampingnya dan memukul tepat ke wajah Haikal" Muka lu serem, udah kaya pantat bayi" Varo tergelak kasian sekali dengan nasib wajah Haikal.


Haikal membalas dengan melempar bantal ke wajah Gifar, Gifar yang serius menonton film tak menghiraukan mereka terpekik kaget saat bantal melayang ke wajahnya.


"Eh bangsat"


"Gue serius meni, Migu suka nya sama Tante-tante" Meni tertawa kencang dengan perkataan Haikal, yang benar saja masa tipe cewe Miguel yang tampan adalah Tante-tante.


Varo memegang tangan Meni " Meniara gue serius cinta sama lu"

__ADS_1


Meni melepaskan tangannya "Tai!, garing tau. Udah ah gue mau nonton" Kini mereka fokus kembali dengan film yang sedang ditonton Sampai menjelang sore.


__ADS_2