
Alena membawa Bram, Za dan ken ke kamarnya, untuk membantu ketiga anak itu mandi dan berpakaian setelah meminta pelayan di rumah Sultan untuk membawa tas berisi pakaian anak-anak itu dan keperluan mereka lainnya.
Begitu Alana dan anak-anak menghilang dari pandangan mereka, pergelangan tangan Alana pun langsung di tarik dengan lembut oleh Saddam, menuju kamar yang di tempati saddam selama mereka tinggal di sana. " Ayo kita mandi." ajak Saddam begitu, mereka tiba di kamarnya.
" Nggak mau, kalau kamu mau mandi! Mandi aja duluan, aku bisa mandi sendiri nanti."Tolak Alana, sambil melepaskan genggaman tangan Saddam pada pergelangan tangannya.
" Sweetie, aku janji kita hanya mandi! Aku nggak akan macam-macam." Ucap Saddam untuk meyakinkan istrinya.
" Nggak ada! Aku udah tahu ya kebiasaan paman, awalnya mandi biasa! Lama-kelamaan, udah mandi yang nggak biasa. Emang paman pikir setelah lima tahun nggak bertemu, aku lupa? Nggak ya." Tegas Alana kemudian melangkah meninggalkan pria itu dan menjatuhkan dirinya di sofa yang masih berada dalam kamar itu. " Udah paman mandi aja duluan, habis itu baru aku. " Titahnya kepada Saddam.
Saddam pun tidak bisa memaksa Alana, pria itu dengan patuh menuruti keinginan sang istri tercinta.
Beberapa saat kemudian Saddam keluar dari kamar mandi. Pria itu terlihat lebih segar setelah mandi. " Sweetie, cepat mandi jangan sampai anak-anak menunggu kita. " Ucap Saddam sembari mengusap rambutnya yang masih basah mengunakan handuk kecil.
Alana yang sempat memejamkan matanya sesaat, sedikit terkejut mendengar suara Saddam, dia pun segera berdiri dari tempat duduknya dan melangkah ke kamar mandi, saat melewati saddam wanita itu sengaja mengusap perut saddam untuk menggodanya, kemudian menarik ujung handuk yang melilit pinggang sang suami, setelah itu ia berlari ke kamar mandi. Menutup pintu itu kemudian menguncinya dari dalam tanpa melihat tubuh polos saddam di belakang sana. " Sweetie,." Teriak saddam. Namun Alana di dalam sana hanya tertawa sambil melepaskan pakaiannya satu persatu, sebelum mengguyur tubuhnya di pancuran air shower.
...\=\=\=\=\=\=\=...
__ADS_1
Setengah jam kemudian mereka semua telah berkumpul, mengitari meja makan yang sudah di sediakan aneh hidangan di atasnya, oleh pelayan yang bekerja di rumah itu.
Mereka pun mulai menikmati hidangan makan siang, saat menikmati makan siang mereka tidak ada dari mereka yang bersuara! Hanya denting sendok yang bertemu dengan piring yang memecah kesunyian di antara mereka. Bahkan Aaron yang belum tahu kebiasaan mereka ingin membuka suara tapi melihat semua orang diam. Dia pun ikut Diam.
Begitu selesai makan! Mereka berkumpul di ruang keluarga dan mulai mengobrol.
" Oh iya om! Om udah nikah?" Tanya Khanza, kepada Sultan membuat obrolan serius antara para orang tua itu terhenti dan kini menatap bingung kepada Khanza. Mereka bertanya-tanya dalam pikiran mereka! Untuk apa anak sekecil Khanza bertanya seperti itu.
" Memangnya kenapa kamu tanya seperti itu sama om Sultan?" Tanya Alana pada akhirnya.
" Nggak papa kok bunda! Soalnya rumah om ini, bagus! Za suka, sejuk dan nggak panas! Padahal nggak ada kipas anginnya. "Jelas Khanza.
" Kak, kakak ingat Tantenya Sifa! Yang nikah sama adiknya ce Nelly." Tanya Khanza kepada sang kakak. Putra dari Alana itu pun mengangguk kepalanya." Mama seperti Tantenya Sifa aja kak." Lanjutnya, membuat para orang dewasa itu semakin bingung.
" Kak! Maksud Ade apa ya? " Alana meminta penjelasan Kenzo.
" Maksudnya! Mama nikah sama om Sultan, biar rumah ini buat kita! Sama seperti Tantenya Sifa yang nikah sama adiknya ce Nelly terus di kasih rumah."
__ADS_1
" Nggak, aku nggak setuju." Tolak Aaron.
" Diiih otak pemeras! Masih kecil udah tahu untung rugi ya." Sahut Sultan.
Sementara kedua ibu yang merawat serta melahirkan mereka di buat tidak bisa berkata-kata.
" Boleh ya om." Ucap Za lagi dengan wajah memelas. membuatnya terlihat begitu mengemaskan.
" Sayang! Paman Sultan udah nikah." Ucap Alana.
" Yaaah, berarti nggak jadi dong kita punya rumah bagus."
" Rumah yang Za punya jauh lebih bagus kok dari rumah ini sayang." Ucap Saddam.
" Benar?" Saddam Mengangguk. " Kapan kita ke rumah itu?"
" Besok! sekarang tidur siang dulu ya." Jawab Saddam, membuat Khanza berlompat-lompat kegirangan. ia pun segera menarik tangan kedua kakaknya untuk tidur siang di ikuti Alana.
__ADS_1
" Baru anak kecil yang ngomong aja udah tegang gitu mukanya! gimana kalau aku nikahin benaran." Goda Sultan saat melihat wajah cemas Aaron.