
Berita kehamilan Alena akhirnya sampai juga ke telinga Alana. Selama seminggu, Alena mencoba menutupinya dari saudari kembarnya itu, sembari mencari waktu yang tepat untuk mengatakannya kepada Alana.
Namun siapa sangka, semua itu harus berantakan karena Aaron mengabari teman-temannya kabar bahagia itu setelah Alena menghampirinya semalam.
Saddam yang mendapati kabar dari Aaron, langsung bertanya kepada Alana benar atau tidak apa yang di katakan Aaron. Yang mana hal itu justru membuat Alana balik bertanya, dan hasilnya ia mengumpulkan kedua orang itu di sini, di ruang keluarga rumahnya, Setelah meminta Naya mengajak ketiga anaknya jalan-jalan.
Awalnya Naya menolak, tetapi Saddam mendesak pasang itu untuk pergi dan mau tak mau mereka pun pergi.
" Katakan! Bagaimana bisa ini terjadi?" Tanya Alana, wanita itu menatap Aaron dan Alena secara bergantian.
" Karena kami melakukannya! Apa lagi?" Jawab Aaron. Membuat Alana semakin kesal, pria itu terlihat begitu santai saat menghadapinya, berbeda dengan Alena yang terlihat begitu gugup. Wanita itu bahkan tidak mampu untuk membalas tatapan Alena saking malunya.
" Orang bodoh juga tahu akan hal itu. Lagian selama kita kembali, bukannya Alena selalu menghindari kamu dan kalian tidak pernah bersama, bagaimana bisa dia sampai hamil." Sahut Alana sekaligus bertanya.
__ADS_1
" Ya itu karena kalian terlalu lah di kampung! Seminggu kalian tinggalkan kita berdua. Baik sekali aku menyia-nyiakan kesempatan." Jawab Aaron lagi, kali ini sambil membanggakan dirinya sendiri.
" Kalau benar seperti itu! Untuk apa kamu repot-repot menjauhinya selama ini, hanya membuang-buang waktu saja." Kali ini giliran Saddam yang angkat bicara. " Ayo sweetie, tidak perlu urusi mereka, lagian mereka sudah dewasa, sudah tahu apa yang harus mereka lakukan dan biarkan saja mereka menyelesaikan masalah mereka. Berani berbuat harus berani bertanggung jawab kan." Lanjutnya, memberikan kesempatan untuk Aaron memiliki Alena seutuhnya.
" Tapi aku nggak mau menikah dengannya." Tolak Alena dengan tegas.
" Kamu masih ingin menolaknya! Dimana otak kamu Alana, cukup Bram yang lahir tanpa ayah jangan sampai adiknya merasakan hal yang sama." Ucap Alana. " Menikahlah dengannya, jika kamu berat melakukannya untuk diri kamu sendiri, lakukan itu untuk Bram dan calon adiknya." Lanjutnya membuat Alena tidak bisa berkata-kata lagi.
Satu Minggu berlalu, akhirnya Alena dan Aaron menikah. Pernikahan mereka tidak semegah pernikahan Andika dan Naya atau Alana dan Saddam yang memiliki persiapan.
" Selamat ya, akhirnya kamu menikah juga." Ucap Sultan saat memberi selamat kepada Aaron.
Bukan hanya Sultan, Andika, Heri dan Saddam pun memberikan selamat kepada pasangan baru itu.
__ADS_1
Setelah Aaron dan Alena menikah, pria itu langsung mengajak Alena dan Bram untuk tinggal di rumahnya.
...\=\=\=\=\=\=\=...
" Aku bahagia banget! Alena akhirnya memiliki keluarga, begitu juga dengan Naya." Ucap Alana sambil mengeratkan pelukannya pada pinggang Saddam. Keduanya baru selesai satu ronde permainan mereka.
Untuk Kenzo dan khanza, tentu saja kedua anak itu sudah tertidur di kamarnya masing-masing. Alana menemani Kenzo sampai tertidur, sedangkan Saddam menemani Khanza.
Setelah kedua anak mereka tidur barulah mereka menghabiskan waktu bersama dan sejak saat itu mereka telah memutuskan saling memberi kenik-matan saat kedua anaknya telah tidur atau di ajak jalan-jalan sama sandrina.
" Aku juga bahagia untuk mereka sweetie! Tapi aku lebih bahagia karena ada kamu disisi aku. Lebih bahagia lagi, saat aku tahu aku memiliki Za dan Ken. " Sahut Saddam sambil mengecup kening Alana. " Aku merasa, aku tidak membutuhkan apapun lagi, selain kalian bertiga! Aku ingin memastikan kalian selalu tercukupi dan bisa tersenyum saat bersama aku." Lanjutnya.
" Kamu yakin? Kamu tidak ingin menambah anak seperti Aaron dan Alena." Tanya Alana sengaja menggoda suaminya itu.
__ADS_1
" Kalau kita masih di berikan kepercayaan, kenapa tidak! Tapi untuk saat ini prioritas ku adalah kalian. Kalian hidupku, kalian adalah nafas serta detak jantungku. Sweetie, kalian segalanya untukku." Ucap Saddam sembari mengeratkan pelukannya pada Alana dan mencium keningnya berulang-ulang kali.
" Aku juga bahagia. Bisa di cintai orang sehebat Paman." Balas Alana, wanita itu meletakkan kedua tangannya peda pipi Saddam sembari menatap dalam manik indah itu. Hingga keduanya sama sama-sama terbuai dan menyesap manisnya bibir satu sama lain. Sebelum suara Desa-han mengalun dengan merdu, memenuhi ruangan itu.