Love Me

Love Me
Pengakuan Aaron.


__ADS_3

Hari, Minggu bahkan bulan! Saddam mencari keberadaan Alana dan saudari kembarnya itu. Tapi tak kunjung mereka di temukan! Kedua wanita itu seakan lenyap di telan bumi.


" Aku harus mencari dia kemana lagi, Kak." Ujar Saddam kepada sandrina. Pria itu terlihat begitu berantakan setelah di tinggal Alana. Sementara sandrina hanya bisa menatap sang adik dari tempatnya duduk, Saddam kini sedang berbaring di sofa dengan meletakkan lengannya menutupi kedua matanya.


" Kamu harus bersabar! Kalau memang kalian berjodoh, pasti akan di pertemukan lagi. Mungkin belum sekarang tapi suatu hari nanti pasti kalian akan bertemu kembali, Entah itu hanya kebetulan atau sudah saatnya kalian bertemu. Tetapi untuk sekarang, kamu fokus dulu untuk kesehatan kamu. " Sahut sandrina, memberi sedikit nasihat untuk sang adik. Sebab Dua bulan terakhir ini Saddam sering sakit-sakitan.


Dia sering mengeluh pusing dan sakit perut dan membuatnya tidak berselera makan! Bahkan pekerjaan di kantor saja sandrina yang harus menghandle nya agar adiknya itu dapat beristirahat! Tetapi yang terjadi, bukannya dia istirahat , Saddam malah pergi untuk mencari keberadaan Alana.


" Aku membutuhkan dia kak, aku sayang sama dia! Tapi kenapa dia ninggalin aku, aku udah berusaha untuk menjadi lebih baik agar bisa selamanya bersama dia?" Ucap Saddam, dia bahkan tidak malu meneteskan air matanya untuk Alana, membuat Sandrina semakin iba kepadanya.


Bagaimana tidak iba, Saddam mungkin paling peduli kepada keluarganya, tapi ia bukan Lelaki yang baik dan dapat dengan mudah menangis untuk seseorang. Bahkan saat ibu mereka meninggal saja, ia tidak menangis walaupun ia terlihat begitu terpukul dan Alana mampu meruntuhkan pertahanan itu.


" Aku udah pernah bilang ke dia, kalau aku salah! Ngomong. Bukan malah ninggalin aku kaya gini. " Jika menurut dia aku kurang baik, harusnya dia perbaiki dan arahkan aku. Ajak dan bantu aku agar menjadi lebih baik! Bukan patahkan semangat aku dengan pergi meninggalkan aku seperti ini, kak! Aku pernah jahat ke dia, ya! Aku juga kejam tapi tidak seperti ini cara dia membalas aku. Bukankah dalam sebuah hubungan sudah sepatutnya kita saling membantu untuk memperbaiki diri masing-masing. ALANA aku benci kapadanya." Ucapnya, membuat Sandrina semakin merasa iba kepada Adiknya itu.


Saddam-nya bukanlah orang yang banyak bicara, bukanlah orang yang gampang sakit! Tapi keadaannya seperti ini, membuktikan jika saddam-nya, tidak dalam kata baik.


" Maaf ya." Sandrina menghampiri Saddam kemudian memeluknya. " Fokus dulu untuk kesehatan kamu, kalau kamu sudah sembuh. Baru kita cari lagi Alana okey. Kalau sampai terjadi sesuatu sama kamu, kamu tidak akan pernah bisa ketemu sama dia. Kamu harus menjadi saddam yang dulu agar bisa membawa dia pulang."


Ucapan Sandrina, benar-benar di dengar oleh Adiknya itu. Saddam tidak lagi mencari Alana! Tetapi orang-orang suruhannya tetap di tugaskan untuk mencari keberadaan Alana.


Pria itu fokus untuk kesembuhannya, tetapi siapa sangka jika kesembuhan itu akan memakan waktu lama! Hampir setahun dia sakit! Makanan apa saja yang dia makan rasanya pahit di mulutnya! Dia bahkan hanya bisa minum air yang masih berasap jika air itu sedikit hangat perutnya, akan langsung sakit dan yang paling parahnya ia sampai harus di rawat di rumah Sakit.

__ADS_1


" Ternyata kamu selemah itu yang Dam! Cuma karena wanita." Ucap Aaron, saat mengunjungi Saddam, di rumah sakit! Dan kondisi pria itu sudah jauh lebih baik dari hari kemarin saat dia pertama kali di bawah ke rumah sakit.


" Tahu nih! Sakit perut aja sampai berbulan-bulan. Manja banget" Sahut Heri dan langsung mendapat tatapan tajam dari Saddam.


" Adam, kamu harus cepat sembuh, biar kita bisa kumpul kaya dulu lagi. Tau nggak, club sepi kalau nggak ada kamu! Lagian ngapain kamu mengharapkan wanita angkuh seperti itu. Mending juga kita icip-icip di club." Ujar Aaron lagi, mencoba menyesatkan Saddam kembali.


Tetapi pria itu justru mengeleng kepalanya. " Nggak! Aku harus mencari keberadaan istri aku." Ucapnya.


" Kenapa sih Dam, kamu suka banget membohongi diri sendiri! Dia aja nggak mengaku sebagai istri kamu." Sahut Aaron.


" Apa maksud kamu Aaron! Jangan bilang kamu menganggap aku hanya mengada-ngada."


" Tau apa kamu tentang hubungan kita berdua! Apa aku harus melakukan percintaan dengan istri aku di depan mata kamu, baru kamu percaya? Atau apa? Kenapa kamu begitu yakin dengan ucapan sendiri." Saddam tidak habis pikir dengan apa yang ada dalam isi otak Aaron sehingga ia begitu sulit untuk percaya jika dia dengan Alana telah menikah, sementara Heri, Sultan dan Andika saja langsung percaya begitu ia mengatakannya.


" Karena akulah lelaki pertama yang menyentu wanita yang kau sebut istri itu! Sekarang coba jelaskan! Bagaimana bisa dia menjadi istri kamu hampir setahun tapi tidak pernah kamu sentuh sama sekali. Kamu pikir aku bodoh, tidak Adam dan aku ingat dengan jelas malam itu dia masih segelan saat aku pertama kali menyentuhnya." Ucap Aaron dengan lantangnya, tanpa pria itu sadari ia telah membuat pengakuan atas perbuatan be-jatnya kepada Alena hingga membuat wanita itu hamil dan menghilang entah kemana.


" Tolong ulangi sekali lagi kata-kata kamu." Ucap Saddam dengan begitu tenangnya.


" Yang mana." Tanya Aaron.


" Semuanya."

__ADS_1


" Karena akulah lelaki pertama yang menyen_"


BHUUKKK ... BHUUKKK.


Dengan gerakan cepat Saddam melepaskan infus yang terpasang di pergelangan tangannya, kemudian melompat dari tempat tidur dan memberi bogeman mentah tepat di wajah Aaron, tidak hanya sekali! Bahkan beberapa kali.


Aaron yang berada dalam posisi yang tidak siap! Tidak dapat membela diri, hingga ia berakhir menjadi samsak untuk Saddam melampiaskan Amarahnya.


" Saddam, berhenti kamu bisa membunuhnya." Heri yang ikut besuk saddam dan sejak tadi menjadi penonton dan pendengar setia, mulai bergerak untuk memisahkan Saddam dari Aaron, sebab pria itu sudah tidak berdaya, mendapatkan serangan mendadak dari Saddam.


Usaha Heri untuk memisahkan mereka seakan sia-sia karena Saddam sudah terlanjur kesetanan Bahkan wajah tampan Aaron kini sudah tidak berbentuk lagi, tetapi hal itu tidak kunjung membuat Saddam berhenti meluapkan kemarahannya.


Beruntung saja sandrina segera datang." Saddam apa yang kamu lakukan. " Teriak sandrina yang baru saja datang dan dia begitu terkejut melihat Aaron sudah tergeletak di lantai rumah sakit itu dengan wajah yang sudah babak belur.


" Sekarang aku tahu kenapa Alana pergi! Semua itu karena dia, sandrina." Teriak Saddam, ia kembali menendang tubuh Aaron yang kini sudah tidak berdaya. membuat pria itu kembali menjerit.


" Apa maksud kamu?" Tanya sandrina.


" Dialah, pria yang menghamili Alena. Ini semua salah aku kak! Aku tidak bisa menjaga ucap aku dan membuat aku kehilangan Alana. " Saddam langsung terduduk mengakui kesalahannya.


" Sudah-sudah, ini bukan saatnya untuk saling menyalahkan, Aaron harus segera di rawat terlebih dulu. Nanti setelah ini baru kita bicarakan." Sandrina langsung memanggil perawat untuk membawa Aaron pergi agar pria itu segera mendapatkan penanganan dari medis di bantu oleh Heri.

__ADS_1


__ADS_2