Maaf, Aku Berhak Untuk Bahagia

Maaf, Aku Berhak Untuk Bahagia
Berbagi Isi Hati


__ADS_3

Masih di tempat yang sama, mereka melanjutkan kegiatan bercerita. Obrolan ringan di malam yang dingin. Namun tak terasa, berada di dekat orang yang tersayang memberi efek "hangat"


"Lihatlah rumah itu (sambil menunjuk sebuah rumah yang besar dengan 2 lantai)" ucap Agung


"Kenapa dengan rumah itu?" tanya Wulan


"Aku yang dulu bekerja membangun rumah itu" ucap Agung


"Aku hanyalah pekerja serabutan, itu karena salahku sendiri. Aku tak tamat SMA. Aku selalu bolos tiap ke sekolah. Aku tak mendengar nasehat orang tuaku. Aku sangat malas untuk sekolah. Aku menyesal sekarang. Karena tak punya ijazah, aku tak bisa mendapat pekerjaan yang layak. Cuma ini pekerjaan yang bisa aku dapatkan" ucap Agung meluapkan isi hatinya. Wulan masih setia menjadi pendengar.


"Dan saat ini, aku telah mencintai anak orang. Ketakutan terbesarku adalah tidak bisa mencukupi kebutuhannya kelak. Aku hanya seorang tukang" sambung Agung


Terlihat wajah sedih disana. Ia merasa takut kelak tidak bisa membahagiakan kekasihnya karena profesinya. Ia takut Wulan tidak bisa menerima keadaannya.


"Apa kamu masih mau denganku?" tanya Agung


"Kenapa tidak? Apa itu bisa ku jadikan alasan untuk meninggalkanmu? Tentu bisa. Tapi aku tak mau" jawab Wulan

__ADS_1


"Apa kau yakin? Aku takut kelak kau akan menyesal bila hidup susah bersamaku. Kau wanita yang berpendidikan. Apa keluargamu mau menerimaku? Apa keluargamu merestui aku menjadi pasangan hidupmu?" tanya Agung gusar


Sambil menggenggam tangan Agung, Wulan menjawab apa yang di katakan Agung


"Rejeki, jodoh, maut sudah di gariskan oleh Allah. Asal kamu mau berusaha, tidak ada yang tidak mungkin. Giatlah bekerja apapun profesimu. Keluargaku akan bahagia bila aku bahagia dengan pilihanku, percayalah" ucap Wulan meyakinkan kekasihnya.


"Jujur, sebelumnya aku takut memulai hubungan serius dengan wanita karena aku minder dengan semua itu, tapi setelah bertemu denganmu aku juga tak bisa menahan perasaanku. Aku mencintaimu sayangku" ucap Agung


Kali ini Agung memeluk Wulan erat. Tak peduli ada orang yang melihat atau tidak. Wulan hanya diam, tak mampu berkata. Ia membiarkan kekasihnya meluapkan semua yang ada dalam hatinya. Agung memang belum pernah berpacaran sebelumnya. Wulan adalah pacar pertamanya. Karena profesinya sebagai tukang, ia minder untuk jatuh cinta. Pernah sekali ia menyatakan perasaannya kepada seorang wanita, namun wanita itu menolaknya. Sampai ia mengenal Wulan. Ia memberanikan diri untuk menyatakan cintanya. Gayung pun bersambut. Ternyata Wulan memiliki perasaan yang sama seperti dirinya.


Cukup lama Agung memeluk tubuh Wulan. Sadar karena memeluk Wulan lumayan lama, ia lalu melepaskannya.


"Maaf untuk apa?" tanya Wulan pura-pura bodoh


"Karena telah memelukmu" ucap Agung polos


"Mau lagi? Ayo sini" ucap Wulan genit. Memang sengaja Wulan menggodanya supaya kekasihnya tak sedih lagi.

__ADS_1


"Ihhh ketagihan ya?" tanya Agung


"Heem, apa kamu mau memberiku pelukan lagi?" tanya Wulan


"Tunggu saja tanggal mainnya" jawab Agung


"Awas kalau kamu berani macam-macam" ancam Wulan


"Tentu saja, bukankah dulu kamu mengira aku orang jahat yang akan menculikmu sayang?" jawab Agung


Lalu mereka berdua tertawa bersama bila mengingat kejadian itu. Tanpa mereka sadari malam sudah semakin larut. Mereka sepakat kencan mereka cukup sampai disini untuk hari ini. Setelah berpamitan pada tante Arni, Agung segera mengantarkan Wulan pulang. Saat di perjalanan, ada beberapa tetangga yang melihat mereka.


"Wahhh, boncengin cewek nih"


"Kenalin donk sama pacarnya"


"Ciiieee, yang habis malam mingguan"

__ADS_1


Agung hanya tersenyum mendengar ocehan tetangganya. Demikian juga dengan Wulan.


__ADS_2