
Sesuai dengan jam besuk di rumah sakit, Wulan dan Arifin akan kesana untuk menjenguk keponakan Wulan yang sedang sakit muntaber. Di perjalanan, keduanya saling mengobrol...
"Semalam aku mengirimi mu pesan" ucap Arifin
"Iya mas, aku membacanya tadi pagi" ucap Wulan
"Kau tidak di rumah ya?" tanya Arifin
"Aku... aku menemui dia yang sedang mabuk di kost temannya. Semenjak aku memutuskan untuk menjauhinya, dia kembali lagi ke kebiasaannya dulu" ucap Wulan jujur. Ia tak pernah bisa menyembunyikan sesuatu dari Arifin.
"Kau... malam-malam sedang hujan menemui dia yang sedang mabuk???" tanya Arifin
"Aku tak punya pilihan lain" ucap Wulan
"Seandainya yang mabuk itu aku, apa kau mau menemui aku seperti dia?" tanya Arifin dengan nada kecewa.
__ADS_1
"Aku... aku tak tahu, aku terpaksa" jawab Wulan
"Sudahlah, lupakan saja, kau lebih suka terluka ketimbang bahagia" ucap Arifin
Arifin sangat kecewa dengan tindakan Wulan malam itu. Bisa-bisanya dia menemui orang yang sedang mabuk. Ia jadi membenci lelaki yang di temui Wulan itu. Ia akan membuat perhitungan dengannya.
Keduanya saling diam, sampai tiba di rumah sakitpun tetap diam. Ruangan tempat keponakannya di rawat terletak di lantai 4. Keduanya menaiki lift. Di dalam lift pun mereka masih tak saling bicara. Wulan merasa bersalah terhadap Arifin sehingga ia hanya diam saja takut jika salah bicara. Sampai akhirnya mereka telah sampai di lantai 4 dan pintu lift segera terbuka. Dengan spontanitas Arifin menggandeng tangan Wulan. Wulan terkejut di buatnya. Sedangkan Arifin, ia masih saja menggandeng tangannya sampai ke meja suster yang berjaga untuk bertanya dimana letak nomor kamarnya.
Keduanya telah menemukan dimana kamar keponakan Wulan di rawat. Setelah mengucap salam, keduanya pun masuk. Yang sedang di rawat adalah anak dari sepupunya Wulan, dan disana ada pula kakak dari ibunya Wulan (budhe) dan juga suami dari sepupunya. Wulan datang membawa cake yang ia beli di depan rumah sakit.
Siapapun yang melihat Wulan dan Arifin pasti mengira jika mereka adalah sepasang kekasih. Begitu juga dengan budhe dan sepupu nya. Arifin tampak akrab dengan keluarganya, itu karena sikap Arifin yang ramah terhadap siapa saja yang baru di kenalnya. Mereka tampak asyik mengobrol hingga suatu kejadian yang tak terduga terjadi.
"Terserah Wulan saja bu, kalau aku sih mau nya 4" jawab Arifin
Seluruh seisi ruangan pun tertawa mendengar jawaban yang di ucapkan oleh Arifin. Wulan tersipu malu. Padahal ia dan Arifin bukan sepasang kekasih, tetapi keluarganya mengira jika Arifin adalah kekasihnya.
__ADS_1
Setelah di rasa cukup, keduanya berpamitan. Di perjalanan pun mereka masih saja diam. Hingga pada akhirnya, Arifin mengajaknya berbicara.
"Besok mau ikut gak ke wisata air terjun?" tanya Arifin
"Emang siapa aja yang ikut?" tanya Wulan
"Banyak kok" ucap Arifin
"Ya, boleh" ucap Wulan
Keduanya berpisah setelah Arifin mengantarkan Wulan sampai rumahnya.
"Makasih telah mau mengantarku" ucap Wulan
"Besok ku jemput" ucap Arifin
__ADS_1
"Iya" ucap Wulan
Arifin pun berlalu. Dia menemui teman-temannya. Dia meminta teman-temannya untuk mencari tahu siapa pacar Wulan. Bukan pacar lagi, lebih tepatnya mantan. Ia tak bisa terima jika seorang lelaki meminta wanita untuk menemuinya malam-malam dalam keadaan hujan, apalagi sedang mabuk. Ia tak terima. Jika selama ini Wulan sering curhat padanya tentang sikap cuek kekasihnya, ia masih bisa memaklumi nya, tapi jika begini ia tak terima.