Maaf, Aku Berhak Untuk Bahagia

Maaf, Aku Berhak Untuk Bahagia
Temanku, Saudaramu


__ADS_3

Obrolan lewat handphone tersebut, berlanjut hingga lama sekali. Mereka betah berlama-lama bila sudah saling sapa meskipun lewat handphone sampai lupa waktu. Anggap saja ini sebagai pengganti bermain "sosial media"


"Adikmu sekolah dimana yang?" tanya Wulan


"Rizky sekolah di penerbad (sebuah sekolah khusus tentang penerbangan)" jawab Agung


"Kalau adikmu?" tanya Agung balik


"Adikku sekolah di SMK Semesta" jawab Wulan


"Siapa namanya?" tanya Agung


"Namanya Febri" jawab Wulan


"Namanya sama seperti nama adik sepupuku, tapi dia cowok" ucap Agung


"Aku dulu pas SMP juga punya temen namanya Febri cowok" ucap Wulan


"Emang dulu kamu sekolah dimana?" tanya Agung


"Di SMP Harapan Bangsa" jawab Wulan


"Berarti sama donk kayak adik sepupuku" ucap Agung


"Oh ya, apa nama saudaramu Febri Anugrah?" tanya Wulan


"Iya, temanmu?" tanya Agung


"Astaga, dunia sempit banget" ucap Wulan


Wulan tak menyangka, temannya saat di bangku SMP adalah adik sepupu kekasihnya.


"Lalu, apa dia tahu aku ini kekasihmu?" tanya Wulan


"Belum, aku belum bercerita padanya" jawab Agung


"Ehmm, oke" ucap Wulan

__ADS_1


Obrolan itu kini berakhir, karena Agung berpamitan akan pergi. Ada urusan sebentar katanya. Nyatanya, Agung pergi menemui saudaranya itu.


"Feb, apa kau mengenal Wulan?" tanya Agung


"Wulan yang mana ya?" jawab Febri


"Temanmu waktu SMP, rumahnya dekat dengan apotek" ucap Agung menjelaskan


"Ohhh, aku kenal sebagai Diah, bukan Wulan" jawab Febri


"Ohhh ya, aku bahkan baru tahu nama lainnya" ucap Agung


"Emang kenapa mas?" tanya Febri


"Dia pacarku" ucap Agung


"Hah, serius??" ucap Febri seolah tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar


"Iyalah, ngapain aku bohong, ngapain aku ngaku-ngaku" jawab Agung


"Seberapa jauh kamu mengenalnya?" tanya Agung ingin tahu


"Dia termasuk gadis yang pendiam. Dia termasuk siswa yang berprestasi di sekolah, selalu dapat ranking di kelas." ucap Febri


"Apa yang ku ucapkan benar?" lanjut Febri


"Ya kau benar, dia memang gadis yang pendiam namun dari cara berfikirnya aku bisa tahu kalau dia gadis yang pandai" ucap Agung


"Dia manis kan?" ucap Febri meledeknya


"Kalau tidak manis aku tak akan memilihnya" ucap Agung


"Kau beruntung bila mendapatkan hatinya. Dia gadis yang sederhana, tidak neko-neko" ucap Febri


" Ya, aku tau itu. Hal itulah yang membuatku mencintainya" jawab Agung


"Jaga dia baik-baik, karena jika kau menyakitinya, ada banyak lelaki yang mengantri untuk mendapatkan hatinya" saran Febri pada kakak sepupunya

__ADS_1


"Pasti" ucap Agung


Di lain waktu, Agung mengirim sebuah pesan untuk Wulan.


"Apa kau sedang sibuk sayang?"


"Tidak, ada apa?" jawab Wulan


"Bisa ke rumahku sebentar? Aku mau bakar-bakaran ikan nih" tulisnya


"Biar Febri yang menjemputmu" tambahnya


"Kenapa bukan kamu sih yang?" tulis Wulan protes


"Maaf sayang, aku sedang sibuk disini. Kenapa, Febri kan temanmu. Kalau kamu keberatan tak apa-apa" tulis Agung


"Iya iya aku mau" balas Wulan setengah terpaksa


"Nah gitu dong, nurut kan enak" tulis Agung


Dalam beberapa menit, Febri sudah datang untuk menjemputnya. Di perjalanan, kedua teman lama itu saling ngobrol.


"Gimana ceritanya kamu bisa jadian sama saudaraku?" tanya Febri pada Wulan


"Tanya aja saudaramu itu, hehehe" jawab Wulan


"Udah lama?" tanya Febri


"Baru jalan 6 bulan" jawab Wulan


"Ohhh, oke semoga selalu berbahagia untuk kalian, aku turut senang" ucap Febri


"Makasih feb. Apa kau masih suka kentut sembarangan?" tanya Wulan


"Hahaha, kau masih saja ingat peristiwa memalukan itu" ucap Febri


Lalu keduanya saling tertawa bila mengingat peristiwa dahulu sewaktu mereka sekolah.

__ADS_1


__ADS_2