Maaf, Aku Berhak Untuk Bahagia

Maaf, Aku Berhak Untuk Bahagia
Kenapa Dia Bukan Kamu


__ADS_3

"Semenjak putus lalu balikan, dia jarang sekali mengajakku bertemu, tidak seperti sebelum kita putus" ucap Wulan


"Tak apa, dia tak mungkin macam-macam" ucap Arifin


"Apa benar begitu? Aku takut dia punya yang lain" ucap Wulan


"Jangan berlebihan, dia tak akan menduakan wanita sebaik dirimu" ucap Arifin


Melihatnya bersedih, dia ingin sekali memeluknya. Dia tahu Wulan sedang merasa kesepian karena kekasihnya enggan mengajaknya bermalam minggu. Namun apa daya, ia hanya "kakak" di mata Wulan.


"Kenapa kau mengajakku bertemu?" tanya Wulan


"Aku hanya ingin membuktikan apakah kau berniat untuk menjauhiku atau bukan" jawab Arifin


"Jika kau menjauhiku setelah aku menyatakan perasaanku padamu, anggap saja aku tak pernah mengucapkan itu padamu, agar kita tetap bisa berteman" ucap Arifin


"Kau salah bila kau mengira aku akan merebutmu dari kekasihmu" lanjutnya


"Aku tak mau memberikan harapan kosong untukmu" ucap Wulan

__ADS_1


"Aku tahu, kau tak ingin aku berharap lebih padamu, kau punya kekasih, kau tak bisa menduakannya begitu saja" ucap Arifin


"Kau menjauhiku, supaya aku membencimu" ucap Arifin


"Tapi aku tak bisa membencimu" lanjutnya


Wulan hanya mampu menghela panjang nafasnya. Ia tak tahu mesti berkata apa. Ia hanya bisa diam. Arifin begitu baik terhadapnya, haruskah ia menyakitinya dengan menjauhinya? Ia bingung apa yang akan ia lakukan.


"Maafkan aku" ucap Wulan


"Lalu kenapa kau tak mau ikut touring ke Jepara?" tanya Arifin


"Baiklah, dia pasti punya alasan tidak mengijinkan kau pergi" ucap Arifin


"Kau mengganti namamu dengan namaku bukan, dan sekarang aku bilang aku gak akan pergi, jadi kau bisa pergi" ucap Wulan


"Baiklah, aku akan pergi meski sejujurnya aku ingin kau ikut bersamaku" ucap Arifin


"Tolong mengertilah" ucap Wulan

__ADS_1


"Ya ya ya, sepertinya aku akan selalu mengerti dirimu" ucap Arifin


"Sudah malam, ayo pulang" ajak Arifin


"Iya" jawab Wulan


Sebelum mereka pulang, Arifin mampir di sebuah stand yang menjual roti bakar aneka rasa. Ia memesan 1 porsi. Lalu setelah siap, ia memberikannya pada Wulan.


"Titip ini untuk ibu" ucap Arifin


"Tapi..." ucap Wulan


"Terimalah, aku memberi ini untuk ibumu, bukan untukmu, jadi kau jangan menolaknya" ucap Arifin


"Baiklah, terimakasih" ucap Wulan


Arifin pun segera mengantarnya pulang. Sesampainya di rumah, ia masih memikirkan apa yang tadi di bicarakan dengan Wulan. Sebenarnya, ia bisa saja mempengaruhi Wulan untuk putus dengan kekasihnya. Namun ia tak melakukan hal itu. Itu bukan sifatnya. Sebisa mungkin ia menenangkan Wulan, walaupun ia tahu, hatinya terluka melihat Wulan bersedih.


Sedangkan Wulan, ia merasa bila kekasihnya tak lagi peduli dengannya. "Kenapa dia bukan kamu, dan kamu bukan dia? Kenapa orang lain yang peduli, sedangkan kamu tidak? Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi? Apa kau sudah menemukan yang lain?" batin Wulan dalam hati

__ADS_1


Agung tidak tahu, jika selama ini ada orang yang mencintai kekasihnya. Ia tidak tahu, ada orang yang siap menjadi penggantinya bila ia meninggalkan Wulan. Jika ia tahu, ia akan lebih "menjaga" kekasihnya. Akhir-akhir ini dia memang sering mengabaikan kekasihnya lagi. Meski ia telah mau untuk datang ke rumahnya, namun ia susah untuk di ajak bertemu. Inilah yang membuat Wulan sedih. "Seandainya ia tahu aku sedih bila ia mengabaikanku seperti ini" batin Wulan


__ADS_2