
Melihat kekasihnya merasa tak nyaman karena dirinya tidak memakai baju, ia lalu menarik tangan Wulan dan segera merangkulnya. Wulan pun kaget di buatnya. Ia lalu menyandarkan kepalanya di dada kekasihnya. Agung pun membelai lembut rambut panjang kekasihnya. Dalam dekapan kekasihnya, ia bisa mendengar detak jantungnya. Sementara Agung, ia masih sibuk membelai rambutnya.
"Rambutmu wangi sekali, rambutmu bagus, aku suka sekali dengan rambut panjangmu" ucap Agung
"Lalu, apalagi yang kau suka dariku?" tanya Wulan
"Hidung mancungmu" jawab Agung
"Lalu?" tanya Wulan lagi
"Penampilanmu yang sederhana, apa adanya, natural, juga sifatmu yang baik" ucap Agung
Wulan lalu menatap kekasihnya dalam. Demikian juga dengan Agung. Mereka saling menatap. Hingga secara tiba-tiba timbul hasrat dalam diri keduanya.
Agung tak bisa menahannya. Dengan penuh cinta, ia menciumi kekasihnya nakal. Rasanya ia ingin menikmati semuanya. Dengan buas ia ******* bibir kekasihnya. Tangannya memegang kepala Wulan. Ia masih ingin terus saja menciumnya. Wulan tak bisa menolaknya, karena di dalam dirinya juga timbul hasrat yang sama. Bibir mereka saling beradu mesra. Agung tak memberi ampun padanya. Ia terus menghujaninya ciuman. Kali ini telah sampai di leher. Ia ganti menciumi leher kekasihnya dengan penuh nafsu.
"Sayang, apa yang kau lakukan"
"Aku sangat menggilaimu sayang"
"Ahh...ah..."
"Apa kau menikmatinya sayang"
"Tolong hentikan. Ehmm..ah...ahhhh.."
__ADS_1
Agung tak memberinya kesempatan untuk bicara. Ia masih asyik memainkan bibir kekasihnya. Ia tak melepasnya begitu saja. Ia menikmatinya. Dua sejoli itu saling beradu ciuman.
"Aku suka mendengarmu mendesah sayang"
"Jangaaannn, ku mohon hentikaaannn"
Kali ini ia berpindah ke leher. Ia menciumi leher kekasihnya. Sesekali Wulan menggeliat dan mendesah.
"Auhh...ohhh..."
"Sayang, jangaaannn" ucapnya terbata-bata
"Tenang saja, aku tak akan meninggalkan jejak di sini, percayalah"
Agung masih saja beraksi. Wulan pun seolah pasrah menerima aksi kekasihnya. Raganya seolah menolak tapi hatinya tak demikian. Ia juga menikmati ciuman pertamanya. Ia tak pernah seperti ini sebelumnya.
Sampai akhirnya, untuk kesekian kalinya Wulan meminta kekasihnya untuk menyudahi aksinya yang gila. Itu karena Agung hampir saja keterlaluan. Ia memegang dadanya. Tak ingin bertingkah lebih jauh, ia pun bereaksi.
"Kuu mohooon jangaaannn keterlaluannn" ucapnya sambil bersuara nakal yang membuat kekasihnya semakin tidak bisa di kendalikan.
"Aku tau batasnya, tenanglah sayang"
"Aku suka suaramu sayang, apa kau suka?"
"Aaa..kuu... ahhh...ouhh.."
__ADS_1
Nafasnya terengah-engah. Agung tak memberinya kesempatan untuk bicara. Ia terus "menyiksa" kekasihnya. Namun melihat kekasihnya menikmati tapi dengan wajah yang sedikit ketakutan, ia menyudahi aksinya yang gila.
Ia pun mengambil tissue dan segera membersihkan bibir kekasihnya. Ia juga mengambil minum untuknya dan untuk Wulan. Wulan masih tertunduk malu dengan apa yang baru saja mereka lakukan.
"Maafkan aku sayang" ucapnya
"Tolong antarkan aku pulang"
"Tapii..."
"Kalau kau tidak mau, aku pulang sendiri saja"
"Iya, tunggulah sebentar, kau belum memberikan aku maafmu"
"Sudah malam, aku harus segera pulang"
"Oke, aku ambil baju dulu, tunggulah disini"
"Aku tunggu di depan rumah saja"
"Tunggu disini, aku bilang"
Agung merasa bersalah. Melihat kekasihnya sedari tadi hanya menunduk, membuat ia semakin merasa bersalah.
"Ku mohon maafkan aku, aku tak bisa menahan nafsuku. Aku sangat menginginkanmu. Maafkan aku sayang"
__ADS_1