Maaf, Aku Berhak Untuk Bahagia

Maaf, Aku Berhak Untuk Bahagia
Pilihan Sulit


__ADS_3

Hubungan yang sempat memburuk itu kini berangsur membaik. Agung telah menyadari kesalahannya dan ia akan memperbaiki semuanya. Wulan senang karena kekasihnya telah bisa menghargainya kembali. Di lain hati, Arifin kecewa karena Wulan sedikit menjauhinya. Andai saja dia tidak menyatakan yang apa yang di rasakannya, mungkin saat ini Wulan masih mau ia ajak kemanapun. Namun ia tidak mau hanya menjadi "pengagum rahasia" saja. Ia ingin Wulan mengetahuinya meski tak bisa membalas perasaannya.


"Semoga kau selalu bahagia bersama kekasihmu, karena aku orang yang pertama terluka melihatmu terluka. Datanglah padaku kapanpun kau mau, aku akan menerimamu dengan tangan terbuka. Meski begitu, aku tak ingin kau merasa terluka" batin Arifin di suatu malam yang sunyi.


"Apa kau bahagia dengan kekasihmu?" ia mengirim pesan untuk Wulan. Ia hanya ingin memastikan Wulan bahagia bersama kekasihnya atau tidak.


"Kenapa mas? Apa maksudmu bertanya seperti itu padaku?" balas Wulan


"Jawab saja, aku tak berniat merebutmu dari dia" balas Arifin


"Aku baik-baik saja" balas Wulan


"Apa kau masih ingin menjauhiku?" tanya Arifin


"Dengarlah, aku tak punya niat seperti itu. Aku harus bisa menempatkan diriku, aku sudah punya kekasih, rasanya tak pantas jika aku dekat dengan orang lain" penjelasan Wulan panjang lebar untuk Arifin


"Kalau kau memang tak menjauhiku, aku mau mengajakmu makan malam" balas Arifin


"Ku mohon jangan membuat pilihan sulit untukku" balas Wulan

__ADS_1


"Apa aku terlihat memberimu pilihan? Aku mengajakmu" balas Arifin


"Iya baiklah kau menang kali ini" balas Wulan


"Nah gitu dong. Tentukan saja kapan dan dimana kau mau pergi" balas Arifin


"Aku terserah kamu saja" balas Wulan


"Kalau terserah aku, aku akan mengajakmu ke KUA" balas Arifin


Kali ini Wulan tak membalasnya. Ia bingung mesti balas apa.


"Aku bercanda, jangan di anggap serius. Baru segitu aja kau tak mau membalas pesanku" lanjut Arifin


"Malam minggu besok apa kau jalan dengan pacarmu?" tanya Arifin


"Aku belum tahu, kalau dia ngajak ya jalan, kalau enggak ya di rumah" balas Wulan


"Oke, aku hubungi lagi besok" balas Arifin

__ADS_1


"Apa aku salah jika aku menginginkanmu menjadi milikku? Tidak. Sejak awal aku sudah meyakinkan untuk tidak mengharapkan apa yang tidak menjadi milikku. Aku tak boleh merusak hubungannya. Dia begitu mencintai kekasihnya. Semoga saja kekasihnya bisa membahagiakan dia" batin Arifin


Malam minggu pun tiba. Sudah hampir jam 7 malam namun kekasihnya sama sekali tak menghubunginya tanda akan mengajak kencan. Ia sudah mengirimkan sebuah pesan untuk kekasihnya, namun kekasihnya sedang tidak ingin keluar. Di lain tempat, Arifin pun harap-harap cemas menunggu kabar dari Wulan. Karena tak sabar, Arifin pun meneleponnya.


"Gimana, di rumah atau pergi?" tanya Arifin


"Di rumah" jawab Wulan


"Aku ke rumah sekarang" balas Arifin


Wulan tak membalasnya. Namun beberapa menit kemudian, Arifin telah sampai di rumahnya.


Setelah berpamitan pada ibunya, mereka berdua berlalu pergi meninggalkan rumah. Mereka belum tahu hendak pergi kemana.


"Mau makan apa?" tanya Arifin


"Belum tahu, jalan aja dulu" ucap Wulan


"Di dekat gubernur'an ada festival kuliner, mau kesana?" tanya Arifin

__ADS_1


"Iya boleh" jawab Wulan


Akhirnya Wulan dan Arifin menuju tempat dimana sedang di adakan festival kuliner. Di sekitar sana juga sering di gunakan anak-anak muda untuk sekedar nongkrong.


__ADS_2