
Melihat kekasihnya yang sedari tadi hanya menunduk, ia pun mengangkat wajah kekasihnya hingga menatapnya.
"Apa kau marah?"
Wulan hanya menggeleng.
"Lalu?"
"Kau diam saja dari tadi"
Sambil meraih tangan kekasihnya, ia masih berusaha meminta maaf.
"Maafkan aku"
Wulan menatap wajah kekasihnya, lalu tersenyum.
"Aku memaafkanmu"
"Sungguh?"
"Iya"
Refleks, Agung mencium kening kekasihnya karena saking girangnya. Meskipun telah di maafkan, namun ia masih merasa bersalah. Seharusnya ia bisa menahan nafsunya. Ia tahu Wulan tidak menginginkannya. Ia tahu Wulan belum siap.
Lalu ia mengantarkan kekasihnya pulang. Sesampainya di rumah, Wulan langsung menuju kamarnya. Ia membayangkan adegan ciuman tadi. "Astaga, apa yang aku lakukan dengan dia? Aku malu, sangat malu. Tapi ciuman itu, ciuman dari bibir itu, rasanya membuaiku hingga terbang tinggi. Apa ini tandanya aku menikmatinya? Kenapa dia bisa menciumku sampai seperti itu, dia sangat nakal. Tapi dia sangat menikmatinya" batinnya bergejolak sambil sesekali ia menyentuh bibirnya.
Di lain tempat, Agung masih memikirkan kejadian tadi. "Apa yang tadi aku lakukan pada Wulan? Aku tak bisa menahan nafsuku sendiri. Wajarlah aku lelaki yang normal. Tapi Wulan tak menginginkannya. Sepertinya ia terpaksa. Aku bersalah padanya. Desahannya, membuatku ingin terus menerkamnya. Sedang apa dia sekarang? Coba aku kirimi pesan" batinnya.
"Udah tidur?"
__ADS_1
"Belum"
"Lagi apa?"
"Lagi gak ngapa-ngapain, kamu?"
"Lagi mikirin kamu"
"Aku kenapa?"
"Lagi mikirin suara enakmu"
"Ihhh kamuuuu"
"Gak gak becanda. Tapi beneran, suaramu itu membuatku rindu. Aku suka"
"Kok bisa?"
"Ohh yaa?"
"Apa yang kamu rasakan saat tadi kita berciuman?"
"Gak ada"
"Jangan bohong"
"Beneran"
"Aku tahu kamu menikmatinya, tapi kamu takut aku akan menghabisimu lebih parah kan?"
__ADS_1
"Kamu keterlaluan"
"Tapi kamu suka kan?"
"Berhentilah membuatku merasa malu"
"Aku tahu kau malu, kalau kau tak tahu malu mana mungkin aku suka padamu"
"Hehehe"
"Sayang, aku benar-benar merindukan desahan nafasmu, kau membuatku ingin melahapmu"
"Ohh yaa?"
"Maafkan aku sayang, tak seharusnya aku seperti itu"
"Iyaaa udah aku mau tidur dulu, udah ngantuk"
"Oke sayang met bobo, jangan lupa berdoa semoga mimpi indah"
"Iya sayang, kamu juga"
"I love you"
"Love you too"
Akhirnya mereka sepakat untuk segera tidur. Bayangan ciuman itu masih membayangi pikiran keduanya. Tak seharusnya mereka seperti itu, namun hasrat itu telah mengalahkan logika. Seharusnya mereka tak boleh kalah melawan hawa nafsu. Namun apa daya, gejolak itu muncul secara tiba-tiba. Melihat gadis manis di sampingnya, Agung tak kuasa menahan keinginannya. Andai ia tak mendengarkan Wulan, mungkin ia telah bertindak lebih jauh. Beruntung, Wulan masih memperingatkannya sehingga ia tahu mana batas-batasnya.
Ia tak mungkin menodai kekasihnya. Ia tak ingin Wulan menjadi bahan ejekan karena gaya berpacarannya yang melebihi batas. Ia ingin menjaga kehormatannya, bilamana suatu saat mereka tak berjodoh, Wulan tak perlu malu dengan kondisinya. Ia tak ingin kekasihnya menjadi bahan pembicaraan teman-teman bahkan tetangganya.
__ADS_1
Di dalam lubuk hatinya yang terdalam, ia menyesal. "Maafkan aku sudah memaksamu, aku tahu kau belum siap, sekali lagi maafkan aku", bisik batinnya. Ia memandang sebuah foto di layar ponselnya, ada seorang gadis yang tersenyum manis memakai bandana pita di rambut panjangnya. Ya, itu adalah foto Wulan, yang ia pasang sebagai wallpaper di handphone nya.
"Hallo kak, masih setia baca karyaku kan? Gimana nih kak, ada saran buat aku? Atau ada comment penyemangat untukku? Jangan sungkan, silahkan tinggalkan komentar, aku tunggu like nya juga ya kak, terimakasih 🥰"