Maaf, Aku Berhak Untuk Bahagia

Maaf, Aku Berhak Untuk Bahagia
Iya, Pernah


__ADS_3

Di suatu malam, mereka janjian untuk bertemu. Bukan di sabtu malam. Setelah mencari tempat yang nyaman untuk bercerita, yaitu di sebuah cafe yang di situ ada live musiknya. Mereka memilih tempat di lantai 2 karena di bawah sangat ramai. Mereka memesan minuman, seporsi roti bakar dan seporsi nugget kesukaan Wulan.


"Ada apa tiba-tiba ngajakin ketemuan, ini kan belum malam minggu" ucap Agung


"Emang kalau bertemu harus malam minggu ya?" tanya Wulan


"Ya enggak juga sih" ucap Agung


Pembicaraan mereka terhenti saat pesanan mereka datang. Setelah mengucapkan terimakasih, Wulan menghela nafas panjang sebelum ia memulai pembicaraan yang "serius".


"Yang, aku mau tanya sesuatu sama kamu, ku harap kamu mau menjawabnya secara terbuka" ucap Wulan


"Kelihatannya penting sekali, bicaralah" ucap Agung


"Apa nama bapakmu pak Suharto?" tanya Wulan sambil menatap dalam kekasihnya


"Iya benar, kamu kenal?" tanya Agung heran, karena selama ini kekasihnya belum pernah bertemu dengan bapaknya


"Apa benar dulu kamu pernah menabrak seseorang di sebuah kawasan dimana banyak pabrik disana?" tanya Wulan

__ADS_1


"Ada apa, kenapa kamu tiba-tiba menanyakan hal ini?" ucap Agung sambil meletakkan minuman di meja


"Jawab saja, aku hanya ingin tahu jawabanmu" ucap Wulan, detak jantungnya berdegup sangat kencang


"Iya pernah. Apa itu keluargamu?" tanya Agung


"Yang kau tabrak itu adalah kakakku" ucap Wulan


"Aku minta maaf untuk itu, tapi bapakku sudah memberikan ganti rugi" ucap Agung


"Kau mabuk saat itu" tegas Wulan


"Lalu, kenapa kau sampai menabrak orang?" tanya Wulan


"Aku buru-buru karena aku akan menjemput seseorang malam itu" ucap Agung


"Apa yang akan kau jemput itu pacarmu?" selidik Wulan


"Bukan" jawab Agung

__ADS_1


"Kau bohong" ucap Wulan


"Aku bilang bukan ya bukan" ucap Agung sedikit emosi


Entah kenapa Wulan merasakan sakit di hatinya. Ia tahu persis apa yang di katakan kakaknya. Apalagi setelah ia mendengar kekasihnya buru-buru akan menjemput seseorang. Ia merasa cemburu pada hal yang telah lalu. Hatinya merasa kalut. Ia menahan air mata yang sedari tadi ia tahan. Sementara kekasihnya juga tak kalah gelisahnya. Ia berkali-kali menyalakan rokoknya entah sudah habis berapa. Di lantai 2 memang bukan ruangan tertutup, jadi ia tetap bisa merokok.


"Apa kau ngajak ketemuan untuk menanyakan hal ini?" tanya Agung


"Iya, kenapa, kau tak suka?" tanya Wulan


Tak biasanya Wulan berkata ketus seperti itu.


"Bukan begitu, lebih baik kita pulang sekarang" ucap Agung


"Ehmm, baiklah" ucap Wulan


Mereka memutuskan untuk meninggalkan tempat tersebut. Suasana hati keduanya mendadak gak karuan. Agung langsung mengantarkan kekasihnya pulang sampai rumahnya. Mereka pun berpisah.


Di rumah masing-masing...

__ADS_1


Wulan merasa cemburu dengan sosok yang dia yakini adalah pacar kekasihnya dulu. Kenapa kekasihnya tak mau jujur dengannya tentang sosok itu? Sementara Agung, ia merasa malu dengan keluarga kekasihnya. Meskipun insiden itu telah berujung "damai" tapi tetap saja, ia merasa tak enak hati. "Kenapa dia adalah kakakmu? Aku terlanjur menyayangimu. Rasanya aku telah kehabisan muka untuk bertemu keluargamu kelak. Tapi bagaimana denganmu, aku mencintaimu. Apa yang harus aku lakukan untuk menghadapi keluargamu? Aku malu, aku takut tidak di terima di keluarga besarmu. Huft. Ya tuhan kenapa harus seperti ini?" ucap Agung dalam hati


__ADS_2