Maaf, Aku Berhak Untuk Bahagia

Maaf, Aku Berhak Untuk Bahagia
Ragu


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Wulan masih terjaga. Ia belum berniat untuk tidur. Pikirannya masih kemana-mana. Memikirkan apa yang tadi ia dengar langsung dari kekasihnya. Di satu sisi, ia ingin menjalin hubungan yang lebih serius dengan Agung. Tetapi di sisi lain ia takut dengan penerimaan orang-orang terdekatnya. Terutama orang tuanya. Ia memang telah memantapkan hatinya untuk menerima kekasihnya apa adanya. Namun apa keluarganya bisa menerimanya juga? Ia takut. Takut tidak di restui. Sebenarnya wajar, karena dimanapun orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya.


Dalam hatinya, ia hanya mampu berdoa agar Allah memantapkan jalan yang telah ia pilih. Toh kalau jodoh gak bakal kemana. Ia berdoa, jika memang mereka berjodoh mudahkanlah. Jika tidak berjodoh, semoga di beri keikhlasan, karena menghapus seseorang yang pernah hadir dalam hati kita itu tidaklah mudah. Ia berharap takdir yang terbaik untuk semuanya.


Tak terasa hampir 3 bulan mereka jadian. Mereka yang sedang kasmaran, semakin hari rasanya semakin cinta. Cinta mereka semakin panas. Semakin menggebu. Rindu setiap harinya, selalu ingin berjumpa. Jarak rumah yang dekat, menambah kemudahan untuk sering bertemu. Kencan bisa hari apa saja, tidak harus malam minggu.


Sampai suatu ketika, Agung berpikir bahwa ia akan mengenalkan Wulan kepada keluarganya. Sebelumnya ia tak pernah membawa wanita pulang ke rumah. Ia ingin antara Wulan dan keluarganya saling mengenal satu sama lain. Saat malam minggu tiba, seperti biasa ia mengajak Wulan menghabiskan malam minggu. Kali ini ia mengajak Wulan ke rumahnya.


Sebuah rumah dengan kolam ikan di depannya. Rumah dengan 2 lantai yang sangat rapi penataannya. Agung pun mengajak Wulan untuk masuk. Di dalam rumah ada ibunya yang sedang menonton tv. Tak terlihat dimana bapaknya. Melihat ada tamu spesial yang datang bersama anaknya, ibu segera menyambutnya. Wulan pun segera menyalami ibunya Agung sambil memperkenalkan dirinya.


"Rumahnya dimana dek?" tanya ibu Agung


"Di dekat apotek bu" jawab Wulan

__ADS_1


"Ohhh ya deket. Kerja dimana?" tanya ibu lagi


"Di pabrik bola tenis bu" jawab Wulan


Sementara kekasihnya sedang sibuk menyiapkan minuman untuknya.


"Ya sudah, ibu tinggal dulu ya, kalian lanjutin ngobrolnya" ucap ibu


"Hehehe iya bu silahkan" jawab Wulan


"Cari makan yuk, aku laper" ajak Agung


"Emang ibu gak masak?" tanya Wulan

__ADS_1


"Masak sih, cuman lagi pengen makan di luar aja" jawab Agung


"Sayang kan udah di masakin tapi gak di makan" ucap Wulan


"Sekali kali gak apa apa lah, bosen tau makanan rumah. Kamu bisa masak kan?" tanya Agung


"Gak bisa" jawab Wulan sambil menggelengkan kepalanya


"Ya ntar belajar pelan-pelan" ucap Agung


"Iyaaa" jawab Wulan


"Ya udah ayo jalan" ajak Agung sambil meraih tangan kekasihnya

__ADS_1


Lalu Wulan pun berpamitan pada ibunya Agung. Setelah berpamitan, mereka segera meluncur ke kedai mie ayam bakso yang tak jauh dari rumah. Masih seperti biasa, Agung memesan bakso, makanan favoritnya serta es teh. Kali ini Wulan memesan mie ayam dan es jeruk. Tanpa banyak kata, mereka langsung melahapnya karena memang sudah sangat lapar.


__ADS_2