Maaf, Aku Berhak Untuk Bahagia

Maaf, Aku Berhak Untuk Bahagia
Festival Kuliner


__ADS_3

Festival kuliner yang sedang di adakan di area gubernuran itu lumayan ramai pengunjung. Terlihat ada beberapa stand makanan dan minuman dari yang tradisional hingga kekinian. Melihat stand "pecel dan tahu gimbal" Arifin pun tertarik untuk mengunjunginya.


"Apa kamu suka pecel?" tanya Arifin


"Suka, kenapa mas?" tanya Wulan


"Ayo kesana, sudah lama aku gak makan pecel. Kamu mau kan? Atau kamu mau ke stand makanan yang lainnya?" tanya Arifin


"Ya sudah makan pecel aja" ucap Wulan


"Oke" ucap Arifin


Setelah membaca buku menu, Arifin memesan 1 porsi pecel dan lontong tanpa cabe sama sekali. Ia tak suka makan yang pedas-pedas. Sedangkan Wulan memesan pecel dan lontong yang pedas. Keduanya sama-sama memesan es teh manis.


Beberapa menit kemudian, pesanan mereka telah siap. Mereka segera menyantapnya. Namun Wulan hanya memakan 2-3 sendok saja. Itu karena pecel yang ia pesan sangat pedas. Melihat Wulan yang sering sekali minum hingga es nya hampir habis, ia pun menanyakan apa sebabnya.


"Kenapa tidak di makan? Ku perhatikan kau minum terus" ucap Arifin

__ADS_1


"Itu... terlalu pedas" ucap Wulan tidak enak hati


"Biar ku pesan lagi untukmu" ucap Arifin


"Tidak perlu mas, aku udah agak kenyang" ucap Wulan


"Kau kenyang karena terlalu banyak minum es" ucap Arifin


"Cobalah makananku, ini tidak pedas sama sekali" ucap Arifin lagi


"Tidak tidak, itu makananmu" ucap Wulan


"Hahhh?" Wulan tertegun mendengarnya


Arifin pun menyuapinya makanan. Wulan tak bisa menolaknya. Arifin pun tersenyum. Ia tak menyangka bisa sedekat ini lagi dengan Wulan. Sedangkan Wulan, ia merasa malu, namun ia tak enak hati untuk menolaknya. Setelah makanannya habis, Arifin segera mengambil tissue. Melihatnya mengambil tissue, Wulan segera memintanya. Ia sudah berpikir terlalu jauh mengira Arifin akan menyeka mulutnya dengan tissue tersebut sehingga ia mendahului dengan meminta tissuenya.


Wulan jadi salah tingkah. Namun Arifin hanya tersenyum saja menghadapinya. Setelah membayar makanan, mereka pun pergi meninggalkan stand itu. Mereka berdua duduk tepat di depan kantor gubernur dimana disana banyak juga terdapat anak muda yang menghabiskan malam minggu.

__ADS_1


"Apa aku boleh tanya sesuatu?" tanya Arifin


"Tanya apa mas?" tanya Wulan


"Kenapa kau terlihat sedih hari ini?" tanya Arifin


Wulan kaget mendengar apa yang di ucapkan oleh Arifin. Darimana ia tahu jika ia sedang bersedih? Apa wajahnya terlihat begitu jelas bila ia sedang sedih?


"Aku sedih karena kekasihku tak mau aku ajak jalan, ia bilang ia sedang malas. Apa aku salah jika aku mengajaknya pergi, ini kan malam minggu, tapi kenapa ia tak mau pergi denganku, apa dia sudah punya yang lain..." ucap Wulan mencurahkan isi hatinya


"Jangan berprasangka buruk dulu, mungkin saja ia memang sedang tidak bisa bertemu. Mungkin ia sedang ada pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan" ucap Arifin


"Apa ada hal lain yang lebih penting dari aku kekasihnya?" tanya Wulan. Kali ini ia hampir saja menangis


"Katakan, kau mau pergi kemana, aku akan mengajakmu" ucap Arifin


"Aku tidak ingin kemana-mana, di ajak jalan-jalan saja aku sudah senang" ucap Wulan sambil menggelengkan kepalanya

__ADS_1


"Tak apa, bicaralah kalau kau ingin sesuatu" ucap Arifin


"Apa sebelumnya kekasihmu seperti ini?" tanya Arifin


__ADS_2