
Jam yang di tentukan untuk bertemu telah tiba. "Aku udah di depan apotek" tulis Wulan untuk Agung. Tak lama ia mendapat balasan. "Pake baju apa?" seperti itu bunyinya. "Aku pake baju pink celana jeans". Tak butuh waktu lama, seorang laki-laki menghampiri Wulan. Ternyata dia sudah sampai lebih dulu di lokasi. Dia segera memperkenalkan diri sembari mengulurkan tangan. Wulan pun membalas uluran tangan tersebut. Hilang sudah rasa penasaran di hati Wulan tentang lelaki yang akan dia temui. "Seorang lelaki yang tinggi, badan berisi, wajahnya lumayan lah, gak jelek-jelek amat" pikir Wulan. Sementara di pemikiran lainnya, Agung menilai perempuan yang akan dia ajak main malam ini. Perempuan berambut panjang dengan perawakan yang tidak terlalu tinggi, tetapi manis di tambah hidungnya yang mancung.
Setelah keduanya berboncengan, Wulan membahas soal "sepeda" itu, dan hal itu langsung membuat Agung tertawa puas menyaksikan Wulan menahan malu. Dia beralibi, kalau misalkan dia mengajak kencan dengan naik sepeda, apakah Wulan masih mau untuk tetap jalan dengannya. Secara, jaman sekarang banyak yang gengsi, apalagi anak muda. Agung ingin tahu apakah Wulan termasuk cewek matre. Nyatanya, Wulan tetap mau untuk bertemu meskipun naik sepeda, karena dasarnya Wulan adalah pribadi yang sederhana, tidak memandang orang melalui apa yang dia punya.
"Kita mau kemana?" tanya Agung
__ADS_1
"Terserah yang ajak deh (sambil senyum manis)" jawab Wulan
"Ke pusat keramaian aja yuk" ajak Agung
"Tapi kita kan gak bawa helm, apa aku ambil dulu?" kata Wulan
__ADS_1
"Oke"
Sewaktu melewati pasar kedua di kompleks itu, Agung menghentikan laju kendaraannya. Dia menunjuk ke sebuah arah dan menjelaskan pada Wulan, bahwa rumahnya ada di sekitar situ. Wulan pun mengangguk tanda mengerti. Rumah Agung dan Wulan memang berada di satu kompleks namun beda RW, rumah Wulan di sekitar pasar pertama sedangkan Agung di sekitar pasar kedua. Tiba-tiba, handphone Agung berbunyi. Ada pesan masuk dari seorang temannya. Lalu dia bilang pada Wulan, "Ke rumah temanku aja yuk, lagi rame disana, sekalian aku mau ngenalin kamu sama temen-temenku, gimana?" ucap Agung. Mau menolak kok gak enak hati, kalau setuju kok aku malu, dalam hatinya Wulan berkata. "Oke deh aku mau" akhirnya Wulan memberi jawaban.
Akhirnya mereka pun berputar arah dan segera ke rumah seorang teman yang letaknya masih di kompleks itu juga. Setelah tiba di rumah temannya, sang pemilik rumah segera datang menyambut dan agak sedikit kaget karena Agung membawa perempuan bersamanya. Setelah di persilakan duduk, mereka para cowok asyik mengobrol sambil sesekali meledek Agung yang kedapatan sedang PDKT dengan cewek. Sebenarnya Wulan agak gak nyaman, karena disana ada 3-4 orang teman Agung. Dia malu.
__ADS_1
Tiba-tiba ada seorang wanita keluar dari dalam rumah. Dan ternyata Wulan mengenalinya. Pipit. Dia adalah tetangga teman sekolah Wulan sewaktu SMP, Yunda namanya, dan saat berangkat sekolah Pipit sering bareng bersama dengan Yunda juga. Sudah lama Wulan dan Pipit tidak bertemu. Lose contact. Ternyata, Pipit adalah istri dari tuan rumah tersebut. Wulan sedikit lega karena ada teman buat ngobrol. Mereka tenggelam dalam obrolan seru yang mereka ciptakan di malam minggu itu.