Maaf, Aku Berhak Untuk Bahagia

Maaf, Aku Berhak Untuk Bahagia
Kau Munafik


__ADS_3

Wulan kembali terlelap dalam tidurnya, sedangkan Agung matanya masih belum terpejam, ia masih terjaga. Wulan sangat erat memeluknya sehingga ia kesulitan untuk bergerak. Dengan pelan-pelan ia memindahkan tangan kekasihnya. Namun malah membuatnya terbangun.


"Kau tidak tidur?" tanya Wulan


"Bagaimana aku bisa tidur jika kau memelukku sangat erat?" tanya Agung


"Oh, maafkan aku. Tidurlah, biar guling ini yamg menjadi jarak pemisah" ucap Wulan


Wulan lalu ingin melanjutkan tidur dengan membelakangi kekasihnya, namun tiba-tiba Agung memeluknya dari belakang.


"Kau kenapa?" tanya Wulan


Agung tak menjawab pertanyaannya, karena ia sedang asyik menciumi punggung kekasihnya yang terlihat jelas.


"Sayang, berhentilah, aku merasa geli" ucap Wulan


"Kau telah menggodaku dengan pakaianmu yang seksi" ucap Agung


"Jawablah, apa kau merindukan saat kita bercumbu mesra?" tanya Agung


"Tidak" jawab Wulan


"Kau munafik sekali, biar ku buktikan" ucap Agung


Agung lalu menciumi bibirnya, lehernya, hingga dadanya.


"Lihat betapa kau menikmatinya" ucap Agung


"Aku tidak menginginkannya" ucap Wulan

__ADS_1


"Tapi aku menginginkanmu" ucap Agung sambil terus menciumi kekasihnya.


"Kau hanya milikku" ucap Agung


"Aku tak akan membiarkan kau dengan orang lain selain aku" lanjutnya


"Jangan, jangan lakukan itu" ucap Wulan saat melihat dia sudah bersiap untuk "menghabisinya"


"Tenanglah, aku tak akan menyakitimu, menurutlah padaku" ucap Agung


Wulan tak kuasa untuk menolaknya. Memang benar apa yang di katakan kekasihnya, ia munafik, ia sendiri menikmatinya. Dan kejadian itu kembali terulang.


"Pakailah bajumu, kecuali bila kau ingin telanjang di depanku" ucap Agung sambil tertawa


"Aku akan mengambil minum untukmu" lanjutnya


Beberapa menit kemudian, Agung datang dengan membawa air minum di tangannya. Di berikannya itu pada kekasihnya.


"Kau pintar sekali, kau mau menuruti perkataanku. Aku semakin sayang padamu" ucap Agung


Wulan hanya diam, ia tidak berbicara apapun.


"Oh ya, desahanmu sangat enak di dengar" bisik Agung ke telinganya.


"Aku ingin istirahat" ucap Wulan


"Tidurlah, kau terlihat kelelahan" ucap Agung


Agung menyelimuti tubuh kekasihnya, lalu mencium keningnya.

__ADS_1


"Selamat tidur, I love you" ucap Agung


Wulan tak menjawabnya karena ia sudah memejamkan matanya. Ia pun juga segera terlelap.


Sebelum subuh tiba, Wulan dan Agung telah bangun. Mereka harus mandi besar. Beruntung, kakek dan nenek terbangun saat mereka telah selesai mandi. Wulan tak mungkin keluar kamar dengan keadaan rambutnya yang masih basah. Ia pun sibuk mengeringkan rambutnya. Ia sedang menyisir rambutnya saat tiba-tiba ia terkejut karena Agung memeluknya dari belakang.


"Mau ku bantu?" tanya Agung


"Aku akan mengambil handuk yang kering untukmu" lanjutnya


Dengan telaten Agung mengeringkan rambut panjang kekasihnya dengan handuk kering yang ia bawa.


"Rambutmu sudah panjang sekali, lama banget mengeringkannya" ucap Agung


"Kau harus menyiapkan pengering rambut untukku kelak" ucap Wulan


"Nanti rambutmu rusak bila di keringkan terus" ucap Agung


" Tidak akan, aku bisa memakai vitamin rambut setelah keramas" ucap Wulan


"Kalau tiap hari ya jelas merusak rambutmu" ucap Agung


"Apa kau akan meminta jatah setiap malam?" tanya Wulan


"Iyalah, setiap hari aku selalu menginginkanmu" ucap Agung


"Baiklah, aku akan menuruti kemauanmu jika kau telah resmi menikahiku" ucap Wulan


"Siap" ucap Agung

__ADS_1


Setelah selesai, keduanya bersiap-siap untuk menemui kakek dan nenek. Kakek dan nenek juga telah siap di meja makan. Mereka harus sarapan terlebih dahulu sebelum ke masjid untuk sholat hari raya.


__ADS_2