Maaf, Aku Berhak Untuk Bahagia

Maaf, Aku Berhak Untuk Bahagia
Kapok


__ADS_3

Butuh waktu untuk keduanya saling melupakan kenangan dengan terpaksa. Mereka berakhir begitu saja. Tak ada lagi komunikasi yang terjalin dari keduanya. Baik Wulan maupun Agung sama-sama "malas" untuk saling chat. Wulan sangat sedih akan keputusan Agung. Ia sering menangis bila mengingat hal indah yang pernah ia lalui dengan kekasihnya dulu. Matanya sembab. Wajahnya terlihat menyedihkan. Tidak ada lagi senyuman yang menghiasi wajah manisnya. Makan pun tak selera, hingga ibunya turut sedih melihatnya yang tak mau makan.


"Makanlah, kau harus makan supaya tetap sehat" ucap ibunya


"Aku gak mau bu, aku gak mau" ucapnya sambil menangis sendu


"Jangan kau begitu, kau masih muda, kau masih bisa mencari lelaki yang lebih segalanya dari lelaki itu" ucap Ibunya


"Tapi aku gak mau bu, aku hanya mencintainya" ucap Wulan sambil terisak


"Dengarkan ibumu, mati satu tumbuh seribu. Masih banyak lelaki yang akan tulus mencintaimu" ucap ibunya

__ADS_1


"Sudah bu, tolong jangan ganggu aku" ucap Wulan


Saat bekerja pun, ia tak bisa konsentrasi. Beruntung ia mempunyai teman yang humoris, teman-temannya selalu membuatnya tertawa dengan tingkah lakunya yang konyol. Namun itu hanya sekejap, bila sedang sendiri, luka di hatinya akan kembali hadir. Saat ia tengah asyik memainkan komputer, atasannya yang juga kakak sepupunya bertanya kepadanya.


"Kenapa kau terlihat murung, apa ada masalah?" tanya mas Fauzan


"Ehm, tidak aku baik-baik saja mas" ucapnya


"Kau terlihat seperti orang yang baru saja putus cinta" ucap mas Fauzan


"Iya, apa kau tidak menyadarinya?" ucap mas Fauzan

__ADS_1


Wulan hanya bisa terdiam...


"Kau gadis yang cantik, kau bisa mendapatkan lelaki manapun yang kau mau" lanjut mas Fauzan


"Lihatlah, disini banyak lelaki single, masa' iya salah satupun gak ada yang tertarik denganmu" ucap mas Fauzan


"Rasanya aku kapok jatuh cinta mas" ucap Wulan


"Kau tak akan kapok bila kau sudah mendapat penggantinya. Dengar, jangan kau sakiti dirimu sendiri untuk orang yang sudah menyakiti dirimu" ucap mas Fauzan


Wulan hanya bisa diam karena apa yang di katakan mas Fauzan ada benarnya juga. Ia harus bisa move on. Ia harus segera bangkit dari kesedihan ini. Wulan dan mas Fauzan masih asyik ngobrol masalah ini, namun ternyata ada seseorang yang diam-diam mendengarkan pembicaraan mereka. Edo. "Rupanya dia sedang patah hati, pantes wajahnya terlihat murung, kerja pun gak bisa konsen" batin Edo

__ADS_1


Hampir 2 bulan lamanya ia meratapi kesedihannya. Ia harus berubah. Ia tak boleh begini terus. Ini semua demi kebaikan dirinya sendiri. Sementara di tempat lain, Agung juga tak kalah sedihnya. Ia merasa bersalah terhadap Wulan. "Aku tahu ini tak adil untukmu, tapi aku tidak ingin kau menyesal di kemudian hari, biarlah kita berjalan masing-masing, namun aku janji suatu saat nanti setelah aku mendapatkan pekerjaan kembali aku akan kembali padamu, itupun kalau kau belum punya penggantiku" batinnya.


Sebenarnya Agung tak berniat meninggalkan Wulan. Kenangan indah bersama Wulan tak akan mudah terhapus begitu saja. Ia masih menyayanginya. Bahkan ia sama sekali tak pernah mengganti wallpaper di handphone nya, foto kekasih yang amat di cintainya. Ia merasa rindu, kadang ingin ia menelpon atau bertemu sekedar ingin tahu bagaimana kabarnya, mendengar suaranya, bahkan memandang wajahnya.


__ADS_2