Maaf, Aku Berhak Untuk Bahagia

Maaf, Aku Berhak Untuk Bahagia
Harus Optimis


__ADS_3

Seusai makan, Arifin memulai pembicaraan.


"Aku sedang dekat dengan seseorang, tapi dia ada di luar kota sekarang" ucap Arifin


"Oh ya, darimana kalian berkenalan?" tanya Wulan


"Dari facebook" jawab Arifin


"Lalu, bagaimana kelanjutannya?" tanya Wulan penasaran


"Aku masih belum yakin, sepertinya dia orang berpunya, apa bisa menerima aku yang hanya pekerja bengkel" ucap Arifin


"Kau tak boleh pesimis seperti itu, dengarkan aku, rejeki tiap manusia sudah ada yang mengatur, kau tidak perlu berpikir macam-macam, jalani saja apa yang di depan mata" ucap Wulan


"Di saat aku ingin melupakanmu, kau malah semakin membuatku jatuh cinta dengan sifatmu yang baik itu" batin Arifin


"Oke deh, ntar aku akan mencobanya" ucap Arifin


"Nah, gitu donk, harus optimis" ucap Wulan


"Iya, makasih atas sarannya" ucap Arifin


"Sama-sama. Itu saja yang ingin kau sampaikan padaku?" tanya Wulan

__ADS_1


"Iya (sebenarnya ini hanya alasan agar aku bisa bertemu denganmu, bisa saja aku cerita lewat handphone tapi aku gak bisa ngobrol denganmu, aku sengaja mengajakmu bertemu karena aku rindu padamu)" Arifin


"Kamu sendiri gimana dengan kekasihmu?" tanya Arifin


"Baik-baik saja" ucap Wulan


"Sebenarnya aku ingin menanyakan 1 hal saat kita pergi ke bukit beberapa waktu yang lalu, soal itu, apa yang ingin kau bicarakan padaku?" tanya Arifin


"Oh tidak ada, itu sudah berlalu, tidak perlu di bahas" ucap Wulan sambil tersenyum


"Aku yakin kau menyembunyikan sesuatu" batin Arifin


"Pulang yuk mas" ucap Wulan


"Lain kali kita masih bisa main lagi, iya kan?" ucap Wulan


"Janji? Kau mau main lagi denganku?" tanya Arifin


"Iya, aku janji" ucap Wulan


"Oh ya, bolehkah aku mengambil potretmu?" tanya Arifin


"Tapi untuk apa ya?" tanya Wulan

__ADS_1


"Buat kenang-kenangan saja kalau kita sudah pernah kesini, hehe" ucap Arifin. Sepertinya dia sedang mencari alasan saja.


"Oke, baiklah" ucap Wulan


"Tetap di tempatmu, aku akan memotretmu. 1 2 3, makasih" ucap Arifin. " Kau sangat manis" batinnya.


"Yuk pulang" ajak Wulan


"Iya ayo" ucap Arifin


Keduanya keluar dari cafe menuju parkiran, lalu pulang.


"Makasih ya mas" ucap Wulan


"Iya, sama-sama" ucap Arifin


Wulan segera masuk ke dalam rumah, sedangkan Arifin ia berlalu pergi dari rumah Wulan.


Sesampainya di rumah, ia membuka galeri foto di handphonenya. "Untung saja dia percaya aja saat aku sedang beralasan. Ehm, akhirnya aku punya 1 potretmu. Wulan, seandainya kau tahu, aku belum bisa menghapus rasaku untukmu, tapi sesuai dengan permintaanmu, aku akan mencobanya, meskipun aku yakin aku tak mampu menggantikan posisimu di hatiku dengan siapapun" batin Arifin.


Di pandanginya potret itu dalam-dalam, ia berharap Tuhan memberinya kesempatan untuk selalu ada di dekat orang yang di kasihinya, meskipun gak akan bisa untuk memilikinya, namun bisa terus dekat dan menjaganya ia sudah senang.


"Meskipun kebahagiaanmu dengan dia adalah kesakitan untukku, aku rela. Aku lebih rela sakit karena melihatmu bahagia daripada sakit melihatmu terluka. Karena saat kau terluka, aku belum tentu mampu menyembuhkannya. Aku bisa saja dengan mudah mencari pasangan, tapi hatiku tak mudah menghapus namamu, yang telah terlanjur terukir indah di hatiku. Jika kau terluka, datanglah padaku, dengan senang hati aku akan menyembuhkan lukamu"

__ADS_1


__ADS_2