Maaf, Aku Berhak Untuk Bahagia

Maaf, Aku Berhak Untuk Bahagia
Aku Ingin Menghindarimu


__ADS_3

"Aku lelah, aku ingin istirahat" balas Wulan


"Ngambek?" tanya Agung


"Terserahlah, hari ini kau menyebalkan* balas Wulan


Wulan mematikan ponselnya dan segera tidur. Ia tak tahu mesti bagaimana menghadapi kekasihnya. Ia merasa kekasihnya tak seasyik dulu lagi, sampai-sampai ia negatif thinking dengan kekasihnya.


Sedangkan Agung, sebenarnya dia sangat mencintai Wulan, bahkan ia pun takut bila Wulan berpaling darinya. Apalagi ia yang pertama "merasakan". Ia ingin hanya dia seorang, yang pertama dan terakhir. Ia tidak ingin ada lelaki lain yang menginginkan kekasihnya. Oleh sebab itu ia menjadi sangat protektif terhadap kekasihnya.


Sehari menjelang hari raya, Agung menghubunginya. Ia menanyakan apakah Wulan jadi ikut dengannya atau tidak.


"Apa kau berani meminta ijin pada orang tuaku? Aku tak mungkin pergi jika tak ada ijin" ucap Wulan


"Kenapa tidak? Aku akan meminta ijin pada orang tuamu" ucap Agung


"Sekitar jam 3 sore aku akan ke rumahmu" ucap Agung


"Iya" ucap Wulan

__ADS_1


Agung membuktikan perkataannya, saat jam menunjukkan pukul 3 sore, ia datang ke rumah. Ia tak membawa cukup banyak barang, hanya beberapa oleh-oleh dari ibunya untuk sang nenek. Orang tuanya tidak ke desa, mengingat statusnya sebagai Ketua RT, biasanya memimpin para warganya untuk bersilaturahmi. Biasanya para warga berbaris memanjang sesuai jenis kelamin dan bersalam-salaman tanda saling memaafkan di hari raya. Orang tuanya akan ke desa pada hari kedua hari raya.


Agung memberi beberapa bingkisan untuk calon mertuanya. Setelah berhasil mendapatkan ijin, Wulan bersiap-siap membereskan barang yang akan di bawanya. Ibunya hanya berpesan agar dapat "menjaga" diri masing-masing. Agung pun menyanggupinya. Ia pun berpamitan lalu pergi.


Mereka masih di perjalanan saat tiba waktu berbuka puasa. Mereka menepi sebentar untuk membatalkan puasa dengan sebotol air mineral yang tadi di belinya. Lalu mereka mencari kedai makanan. Mereka berhenti di sebuah rumah makan padang. Agak ramai juga, namin harus tetap bersabar hingga di layani oleh penjual. Agung memesan menu empal, sedangkan Wulan memilih menu ayam. Keduanya sama-sama memesan teh hangat.


Seperti biasa, setelah makan, Agung menyalakan rokoknya. Wulan sudah hafal kebiasaannya, sehingga ia tak kaget dengan apa yang di lakukan kekasihnya. Mereka beristirahat sebentar untuk beribadah, kemudian melanjutkan perjalanan. Kurang lebih 20 menit lagi mereka akan tiba.


Gema takbir terdengar di setiap wilayah yang mereka lalui. Sebulan penuh umat Islam berpuasa dan kini saatnya meraih kemenangan.


"Tiap hari raya, apa kau selalu kesini?" tanya Wulan


"Kenapa?" tanya Wulan


"Jangan-jangan kau lebih suka disini karena kau tak suka melihat Melly dan kakakmu bersama ya? Apa kau cemburu setiap melihat mereka? Hingga kau lebih suka di tempat yang jauh dari mereka" Wulan mulai negatif thinking


"Sudah ku bilang, aku tak tega melihat kakek dan nenek sendirian disini, memang dekat dengan saudaraku yang lain, tapi tetap saja kakek dan nenek hanya berdua saja di rumah" jawab Agung


"Apa benar begitu?" tanya Wulan memastikan

__ADS_1


"Lalu apalagi yang menjadi alasanku? Hanya itu saja" jawab Agung


"Kau sedang tidak menyembunyikan sesuatu dariku bukan? Kau sedang tidak menghindar dari seseorang bukan?" tanya Wulan


"Memangnya apa yang ku sembunyikan dan apa yang ku hindari?" tanya Agung


"Kau bohong" ucap Wulan


"Aku ingin menghindarimu, puas!!" ucap Agung


"Ya udah sana pergi jauh dariku" ucap Wulan


"Kau yang pergi, kau saja naik motorku" ucap Agung


"Kalau begitu antarkan aku pulang saja" ucap Wulan


"Kalau mau pulang ya sana, pulang aja sendiri" ucap Agung


Tanpa terasa percakapan mereka harus terhenti karena mereka telah sampai di tempat tujuan dengan selamat.

__ADS_1


__ADS_2