
"Ayo kita pamit pada semua" ucap Agung
"Iya" sahut Wulan
Mereka segera pamit pada keluarga besarnya. Wulan malu, sebab matanya pasti masih terlihat sembab. Setelah berpamitan, mereka segera pulang. Agung sengaja ngebut supaya sampai di rumah tidak terlalu malam.
"Jangan ngebut, aku takut" ucap Wulan
"Kalau gak ngebut ntar lama sampai rumah" ucap Agung
"Hah, terserah kau saja" ucap Wulan
"Pegangan dan jangan ngantuk" ucap Agung
"Iya" ucap Wulan
3 jam perjalanan telah mereka tempuh hingga akhirnya mereka telah sampai di rumah Wulan. Setelah berpamitan seraya mengucapkan terima kasih karena telah mengijinkan anaknya pergi dengannya, Agung segera pulang ke rumahnya.
Sesampainya di rumah, ibunya bertanya padanya...
"Kau tidak macam-macam dengan dia kan?" tanya Wulan
"Menurut ibu?" tanya Agung
__ADS_1
"Kau jangan macam-macam terhadapnya" ucap Ibu
"Aku tidak macam-macam dengannya" ucap Agung
"Apa yang kau katakan itu benar? Apa bisa ku pegang perkataanmu?" tanya Ibu
"Sudahlah bu, aku mau mandi" ucap Agung
Ia masuk kemudian mandi. Ia membasahi rambutnya. Ia menyesal telah melakukan ini pada kekasihnya. Namun semua sudah terjadi. Sudah terlanjur. Ia menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian itu.
Di lain tempat, Wulan masih memikirkan hal itu. Ia takut dengan semuanya. Dengan orang tuanya, dengan keluarganya, dengan lingkungannya. Di lubuk hatinya yang terdalam, ia meminta maaf pada orang tua nya karena telah bertindak melampaui batas.
Saat hatinya tengah gusar, ada pesan masuk dari Arifin. Sebelumnya ia telah membuka blokirnya.
"Gimana keadaanmu, apa kau baik-baik saja?"
"Aku mengkhawatirkanmu" balas Arifin
"Kau tak perlu berlebihan mas" balas Wulan
"Bisakah kita bertemu?" balas Arifin
"Maaf mas tapi hari ini aku sungguh lelah" balas Wulan
__ADS_1
"Baiklah, aku tidak memaksa" balas Arifin
"Seharusnya aku menjauhimu mas. Aku tak pantas lagi menjadi wanita yang kau cintai. Aku sudah membiarkan diriku hancur. Bahkan untuk menjadi temanmu aku pun malu" batin Wulan sambil menangis.
Ia menyalahkan dirinya sendiri atas peristiwa itu. Semua terjadi karena ia tak bisa menjaga diri. "Semua ini kesalahanku, aku yang salah, aku bodoh sekali membiarkan semua ini terjadi"
"Aku harus bagaimana sekarang, aku sudah tidak punya harga diri lagi, bagaimana jika aku hamil, bagaimana jika ia meninggalkanku? Aku sangat bodoh, bodoh sekali"
Semenjak kejadian itu, ia jadi malas bertemu atau sekedar komunikasi dengan siapapun, termasuk kekasihnya sendiri. Ia selalu menyendiri. Ia menjadi lebih pendiam. Banyak pesan yang tak di balasnya, meski itu dari kekasihnya sendiri. Ia butuh waktu untuk menenangkan diri.
"Kenapa dia sama sekali tak mau membalas pesan atau menjawab panggilanku? Ada apa dengannya? Aku jadi khawatir padanya. Apa aku ke rumahnya saja supaya aku tahu apa yang sedang terjadi padanya" batin Agung
Akhirnya Agung memutuskan untuk mendatangi kekasihnya. Sebenarnya Wulan tak mau menemuinya namun karena ia terus di ceramahi ibunya, ia pun menemui kekasihnya. Ibunya tidak mengetahui apa yang terjadi dengan anaknya. Yang ia tahu mungkin kedua sejoli itu sedang marahan saja.
"Ada apa kesini?" tanya Wulan
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Agung
"Aku sedang tidak baik, aku sangat kacau sekali" jawab Wulan
"Ikutlah denganku kita bicara di luar" ucap Agung
"Aku gak mau" ucap Wulan
__ADS_1
"Ku mohon, aku janji gak akan macam-macam" ucap Agung
"Tunggu sebentar, aku ambil jaket dulu" ucap Wulan