
"Udah ahh, jalanin aja dulu apa yang ada di depan mata. Emang kamu yakin aku calon istri yang baik untukmu?" tanya Wulan
"Aku gak pernah main-main dalam menjalin hubungan, aku mempunyai harapan untuk hubungan yang aku jalani" balas Agung
"Aku ingin serius sama kamu" sambungnya
"Tapi kalau kamu ragu denganku, tak masalah, aku akan mencoba memperbaiki diriku supaya pantas untuk menjadi pelabuhan terakhir hatimu" tulisnya panjang
"Apa kamu mau menunggu saat 4 tahun itu datang?" tanya Agung
"Aku belum tahu mas ke depannya seperti apa" jawab Wulan
"Baik, kita jalani saja" tulis Agung
"Semoga saja ya, Tuhan memberi restu untuk cinta kita" balas Wulan
"Amiinn" balas Agung
Sms malam itupun berakhir setelah Agung memerintah pada Wulan untuk segera tidur.
4 tahun, waktu yang di rencanakan Agung untuk menikahi gadis pilihannya. Ia berfikir waktu 4 tahun cukup untuk mengumpulkan materi untuk menghalalkan Wulan, karena saat ini ia masih ada angsuran motor, jadi tidak mungkin untuk mengumpulkan uang dalam waktu dekat.
Pagi namun sinar matahari belum mulai tampak. Mendung. Tiba-tiba handphone Agung berbunyi tanda pesan masuk. Dilihatnya, dari "SAYANG" begitu tulisannya.
__ADS_1
"Mas, bisa minta tolong anterin berangkat kerja gak, bapak luar kota nih, aku gak ada yang nganter ( emot sedih)" sms Wulan
"Jam berapa berangkatnya?" balas Agung
"Masuknya jam 7" balas Wulan
"Oke aku mandi dulu" tulisnya
Saat ini masih jam 06.15, oleh karena itu Agung berinisiatif mandi dulu sebelum mengantarkan Wulan bekerja. Wulan bekerja di sebuah pabrik pembuatan bola tenis. Waktu yang di tempuh untuk perjalanan dari rumah Wulan ke pabrik kurang lebih 15 menit.
Pukul 06.40 Agung sudah siap untuk mengantar Wulan. Kebetulan Agung masuk kerja pukul 08.00, jadi ia tidak akan terlambat karena mengantar Wulan bekerja.
Setelah berpamitan pada Ibu, mereka berdua segera bergegas berangkat. 15 menit kemudian, mereka telah sampai.
"Jam 4" ucap Wulan sambil tersenyum
"Oke ntar kalo aku belum datang tunggu bentar ya" pinta Agung
"Siapppp, makasih ya mas" ucap Wulan
"Kok mas sih?" ucap Agung sambil geleng-geleng kepala
"Oiyaa, makasih ya sayang" dengan menahan malu nya Wulan berkata
__ADS_1
"Sama-sama sayang" balas Agung
"Udah ya aku masuk dulu, kamu hati-hati di jalan" ucap Wulan
"Iya, bye"
"Bye"
Ketik Wulan sedang berjalan menuju lokasi tempat kerjanya, ada beberapa temannya yang sedang membicarakannya. Ia mendengarnya, namun ia masa bodoh dengan hal itu. Karena prinsipnya apa yang dia lakukan tidak merugikan siapa pun.
"Wah ternyata udah punya pacar ya"
"Ternyata anak pendiam bisa juga punya pacar"
"Duh senangnya yang di anterin pacarnya"
"Tumben, bapaknya gak nganterin, biasanya kemana-mana selalu di anterin bapaknya"
Begitulah kira-kira kalimat bernada "heran" yang ia dengar. Wulan memang gadis pendiam. Sampai-sampai ada yang menganggapnya sombong karena saking pendiam nya.
Pukul 4 sore...
Agung telah selesai bekerja dan segera bergegas pulang. Ia bekerja di sebuah perusahaan kontraktor yang tak jauh dari rumah. Sesampainya di rumah, ia langsung mandi dan setelah itu pergi untuk menjemput Wulan, karena di sana gadisnya pasti sudah keluar dari pabrik dan menunggunya.
__ADS_1