
"Ibu mana?" tanya Arifin
"Di dalam, mau ngobrol? Bentar ya ku panggilkan" ucap Wulan
Kemudian Wulan datang bersama ibunya. Arifin mengucapkan selamat hari raya dan mohon maaf pada Ibunya Wulan. Ibu meninggalkan mereka berdua agar lebih leluasa mengobrol.
"Lebaran kemana aja?" tanya Arifin
"Aku kemarin ikut dia ke desanya mas" ucap Wulan
Wulan memang terbuka dengan Arifin, tidak ada yang ia tutup-tutupi. Ia tidak memikirkan bagaimana perasaan Arifin, yang ia tahu, ia hanya berusaha jujur pada siapa saja.
"Oh, kamu pasti senang. Aku juga ikut senang" ucap Arifin
Arifin tak berharap Wulan dapat membalas perasaannya. Ia hanya ingin Wulan bahagia dengan pilihannya. Ia tak mungkin memaksakan kehendak. Karena baginya melihat Wulan bahagia, ia juga bahagia.
"Aku memang menyukaimu, tapi katakanlah, apa aku harus terus menunggumu atau aku menyerahkan hatiku untuk orang lain?" tanya Arifin
__ADS_1
"Kau tak perlu menungguku, kau bisa mencari seseorang yang tulus menerimamu, kau tahu aku sudah bersama orang lain mas" jawab Wulan
"Baiklah, aku akan mencoba membuka hati untuk orang lain, karena kau yang meminta" ucap Arifin
Entah kenapa hatinya takut akan ada penyesalan di kemudian hari karena kata-katanya. Ia yang meminta Arifin menghapus cinta untuknya dan mengganti dengan orang lain. Apa yang sudah terucap tak mungkin bisa di tarik kembali.
"Maafkan aku. kau juga harus bahagia tanpa menungguku" ucap Wulan
"Iya, aku mengerti keputusanmu" ucap Arifin
"Kau sendiri, pergi kemana libur lebaran?" tanya Wulan mengalihkan pembicaraan
"Ya sudah aku mau pamit pulang" ucap Arifin
"Oke, makasih sudah berkunjung" ucap Wulan
Ia merenungkan apa yang baru saja di dengarnya dari Wulan. Ia tak mungkin terus menunggu. Sedangkan yang di tunggu pun tidak pernah akan tinggal di sisinya. Sedikit demi sedikit ia harus mencoba menghapus rasa yang indah tentang Wulan. Ia harus membuka hatinya untuk melihat kepada selain Wulan.
__ADS_1
Wulan sendiri. tanpa ia sadari. ia meminta Arifin melupakannya. Dengan Arifin menemukan cinta yang baru. itu akan membuat namanya terhapus dari hati Arifin. Ia tak boleh egois karena Arifin juga berhak mendapatkan cinta dari orang yang juga mencintainya. "Semoga keputusanku ini benar" batin Wulan.
Semenjak kejadian itu, Arifin dan Wulan jarang bertemu dan berkomunikasi. Wulan benar-benar ingin Arifin bisa menemukan seseorang yang mencintainya, jika mereka masih berhubungan akan sulit bagi Arifin melupakan dirinya. Sedangkan Arifin, sebenarnya ia merindukan Wulan, tapi ia harus menghormati apapun yang menjadi keputusannya .
Beberapa bulan kemudian...
Saat mereka tak sengaja bertemu, Wulan sedang berjalan kaki menuju halte bis untuk berangkat kerja, dan Arifin melintas di jalan yang sama seperti yang di lalui Wulan. Melihatnya berjalan kaki, ia menawarkan tumpangan. Sebenarnya ia tak yakin menawari Wulan tumpangan, namun ia juga tak tega melihat orang yang di kasihinya berjalan kaki sampai halte bis. Ia pun memberanikan diri.
"Aku antar" ucapnya datar
"Gak usah mas, nanti merepotkan" ucap Wulan
"Please jangan nolak. Jangan salah paham, ini tidak ada hubungannya dengan perasaanku padamu. Aku membantu sebagai teman" ucap Arifin
"Tapiii..."
"Oke deh aku mau" ucap Wulan
__ADS_1
Jika Arifin tidak pandai mencari alasan, ia akan sia-sia menawarinya tumpangan, karena Wulan adalah tipe orang yang tidak mudah untuk di taklukkan.