
"Apa dia sering mengobrol denganmu?" tanya Wulan
"Jarang" ucap Agung
"Kenapa bisa begitu, dia kan kakak iparmu" tanya Wulan
"Gak papa, gak ada yang penting untuk di bicarakan" ucap Agung
"Benarkah hanya itu alasannya?" tanya Wulan
"Apa maksudmu? Kau ini seperti detektif saja" ucap Agung
"Aku sama dia cantik mana?" tanya Wulan
"Cantik kamu lah, kan kamu pacarku" jawab Agung
"Masa' sih? Gak cantik dia?" tanya Wulan
"Pasti kamu mau jawab cantik dia kan, ayo ngaku" lanjutnya
"Kamu ini, di jawab jujur aja salah, apalagi bohong, makin tambah salah. Gak perlu membanding-bandingkan dirimu dengan siapapun. Karena setiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing" ucap Agung
"Iya iyaaa, pak ustad lagi ceramah" ucap Wulan
"Kurang ajar, rasakan ini..." ucap Agung sambil menggelitik perut kekasihnya
__ADS_1
"Perutku kenyang aku baru saja makan, nanti aku muntah" ucap Wulan
"Oh ya, apa kau sudah datang bulan?" tanya Agung
"Belum" jawab Wulan
"Emang biasanya tanggal berapa?" tanya Agung
"Tanggal 20an" jawab Wulan
"Oh oke" ucap Agung
"Mau pulang sekarang apa nanti?" tanya Agung
"Sekarang" jawab Wulan
"Tapi aku gak kangen" ucap Wulan
"Kok bisa? Apa kau sudah punya kekasih baru?" tanya Agung
"Kalau iya, apa yang akan kau lakukan?" tanya Wulan
"Apa kau punya kekasih lain selain aku? Jawab!!" tanya Agung sambil memegang tangan Wulan, kali ini agak keras sehingga Wulan merasa kesakitan
"Lepaskan, sakittt" ucap Wulan
__ADS_1
"Jangan berani macam-macam atau aku akan... Hah, omong kosong macam apa ini" ucap Agung melepaskan tangan kekasihnya
"Kau marah hingga kau hampir saja menyakitiku" ucap Wulan
"Aku tak bermaksud seperti itu" ucap Agung
"Aku ingin pulang, antarkan aku pulang" ucap Wulan
"Kau marah padaku?" tanya Agung
"Tidak" ucap Wulan sambil menggelengkan kepala
"Ayo ku antarkan kau pulang" ucap Agung
Di perjalanan mereka saling diam. Wulan tak menyangka, Agung hampir saja menyakitinya saat dia marah. Sedangkan Agung, dia melakukan itu karena refleks, dia tak sengaja, dia hanya tak ingin Wulan berpaling darinya.
"Aku masuk dulu" ucap Wulan
"Tunggu. Apa kau takut?" ucap Agung
"Tidak" jawab Wulan
"Ya sudah kau boleh masuk" ucap Agung. Ia tahu bila sebenarnya Wulan tengah takut dengan dirinya yang tersulut emosi. Ia tak sengaja melakukan itu.
Sesampainya di rumah, ia sedang asyik dengan rokoknya. Entah sudah berapa kali ia menyalakan rokoknya. Hatinya sedang gelisah. Ia harap-harap cemas, apakah Wulan hamil atau tidak. Juga persoalan yang membuatnya emosi hingga hampir menyakiti Wulan. "Aku tak akan bisa terima bila kau punya kekasih lagi. Kau hanya untukku, kau hanya boleh denganku" batin Agung. Ia merasa bila Wulan hanya untuk dirinya, ia tidak ingin ada orang lain yang merebut Wulan darinya.
__ADS_1
Sementara di kamarnya, Wulan sedang memikirkan apa yang baru saja di lakukan Agung padanya. "Tidak biasanya dia seperti itu, aku jadi khawatir bila kelak jadi istrinya, dia tidak bisa menahan emosinya saat sedang marah. Lain kali, aku harus lebih berhati-hati lagi jika pergi dengan orang lain. Jangan sampai dia tahu apa yang aku lakukan selama ini atau dia akan sangat marah. Sepertinya sekarang dia agak posesif" batin Wulan.
"Hayooo siapa aja nih yang masih setia nunggu update dari aku, makasih ya udah mau mampir di sini 🥰"