
"Tuh kan mulai kumat" ucap Wulan
"Salah sendiri, sukanya mancing-mancing" ucap Agung
"Udah pilih sekalian lingerie mana yang kamu mau" lanjutnya
"Gak ah, apaan sih, malu tau" ucap Wulan
"Gak papa ambil aja, besok di pakai saat kita udah resmi nikah" ucap Agung
"Ya udah belinya besok aja kalau udah mau nikah" ucap Wulan
"Ini bagus, mau gak?" tanya Agung sambil memegang lingerie warna hitam renda-renda
"Gak mau" ucap Wulan
"Udah cepetan bayar" lanjutnya sambil sedikit mendorong kekasihnya
"Ih, kamu lucu, aku mau ini buat kamu. Kamu pasti terlihat semakin cantik kalau memakai ini" ucap Agung
__ADS_1
Walaupun Wulan tidak menginginkan lingerie itu, tetapi Agung membayarnya juga bersama baju yang tadi ia pilihkan untuk Wulan.
"Apaan sih, buat apa beli kayak beginian, ih malu tau" batin Wulan. Namun berbeda dengan kekasihnya. Dia lelaki normal, wajar bila ia suka melihat pasangannya kelak berpakaian seksi untuknya. Entah kapan lingerie itu akan di kenakan, karena mereka sendiri belum tahu kapan mereka akan menikah.
"Aku mau nyari celana dulu ya, kamu capek gak?" tanya Agung
"Enggak kok, ayo jalan lagi" ucap Wulan
Setelah membeli celana, keduanya makan di gerai makanan cepat saji. Mereka lapar. Setelah makan, mereka menyempatkan untuk ngobrol sebentar.
"Kamu kok kurusan sih?" tanya Wulan
"Masa' sih, emang keliatan kurus ya?" tanya Agung
"Udah gak papa, aku masih kuat kalau cuma gendong kamu" ucap Agung
"Kamu malah yang keliatan semakin kurus" lanjutnya
"Aku makan dengan teratur kok, mungkin karena aku sedang kebanyakan pikiran saja" ucap Wulan
__ADS_1
"Kebanyakan pikiran kenapa, ceritalah" ucap Agung
"Mana mungkin aku cerita padamu kalau sumber masalahku adalah Melly" batin Wulan
"Gak papa, udah lupakan. Ayo pulang, udah malam" ucap Wulan
Akhirnya mereka sepakat untuk pulang. Sebenarnya Agung masih ingin lebih lama dengan kekasihnya. Telah lama ia menantikan saat bertemu dengan Wulan. Ia merindukan wajah manis kekasihnya. Ia rindu canda tawa kekasihnya. Ia rindu semuanya. Bahkan ia rindu berciuman dengan kekasihnya.
Sedangkan Wulan, ia merasa sudah cukup bisa bertemu dengan kekasihnya malam ini. Melihat kekasihnya baik-baik saja, ia sudah cukup bahagia. Meski akhirnya mereka harus berpisah karena hari sudah larut malam.
Agung menurunkannya di ujung gang. Sebenarnya Wulan merasa tak nyaman dengan hal seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi. Ia tak mungkin memaksa kekasihnya untuk datang ke rumahnya. "Mungkin hanya butuh waktu saja, untukmu agar mau kembali berkunjung ke rumah". Wulan memakluminya. Sebenarnya Agung juga ingin berkunjung ke rumah kekasihnya, namun ia tak punya cukup keberanian untuk datang kesana. Gak gentle memang, namun ia tak punya pilihan lain.
Di malam yang lain, Arifin mengiriminya sebuah pesan.
"Gimana lan, kapan mau makan steak lagi?" tanya Arifin
"Belum tahu mas kapan, soalnya lagi ada doi disini, maaf" balas Wulan
"Oke tak masalah, kabari aja kalau kamu ada waktu, karena aku sudah berjanji padamu" tulis Arifin
__ADS_1
"Iya mas siap" tulis Wulan
"Sepertinya aku menyukai Wulan. Rasa di dalam hatiku sangat kuat terhadapnya. Namun sayangnya dia telah memiliki kekasih. Tak mungkin aku merebutnya dari kekasihnya. Aku pernah merasakan bagaimana rasanya terluka, aku gak mau orang lain terluka karenaku" batin Arifin dalam hatinya.