Maaf, Aku Berhak Untuk Bahagia

Maaf, Aku Berhak Untuk Bahagia
Hari Pertama


__ADS_3

Hari ini adalah hari pertama Wulan masuk kerja di tempat yang baru. Saat akan memasuki area kerja, banyak mata yang menyaksikannya. Mereka kebanyakan laki-laki. Karena penasaran, Wulan pun bertanya pada mas Fauzan.


"Disini laki-laki semua mas yang kerja?" tanya Wulan


"Enggak kok ada ceweknya juga, tapi hanya 4 orang" jawab mas Fauzan


"Hah? Hampir 50 orang laki-laki, ceweknya hanya 4 orang?" tanya Wulan


"Iya, kenapa kok kaget? Bersiaplah kau akan jadi rebutan para lelaki disini" ucap mas Fauzan bercanda


"Ihh gak seru" jawab Wulan


Setelah sampai di lokasi kerjanya, mas Fauzan memperkenalkan Wulan pada anak buahnya. Mereka semua berkenalan. Hari pertama kerja, Wulan harus sudah belajar tentang cara kerjanya. Dengan telaten mas Fauzan dan teman-teman lainnya mengajari Wulan. Pekerjaan mereka simple, memasang kaca film pada mobil baru keluaran Jepang. Merk tersebut cukup di perhitungkan di Indonesia. Setelah di pasang aksesoris lainnya, mobil tersebut akan di kirim ke dealer-dealer di berbagai wilayah.


Ada satu orang, entah kenapa dia sangat membantu Wulan supaya cepat pandai dalam belajarnya. Dia adalah keponakan bosnya. Namanya Edo. Sebetulnya dia hanya "dititipkan belajar" di situ. Dia dan keluarganya sudah mempunyai tempat usaha sendiri. Sengaja sang ayah menitipkannya agar ia pandai, menguasai segala ilmu tentang pemasangan kaca film di tempat ini.


"Kau harus pintar disini, kalau tidak gajimu tidak akan naik-naik" ucap Edo


"Iya mas" ucap Wulan

__ADS_1


"Panggil saja aku Edo" ucapnya


"Tapiii, itu tidak sopan" ucap Wulan


"Istirahat nanti, sehabis makan siang, aku akan mengajarimu" ucap Edo


"Baik, terimakasih" ucap Wulan


Wulan senang, ia di terima dengan baik oleh teman-temannya. Sebenarnya dia merasa gak nyaman karena karyawan di situ kebanyakan lelaki. Aneh saja rasanya. Dan benar, sehabis makan siang, Edo sudah memanggilnya. Wulan pun segera datang ke sumber suara. Disana, Edo sudah bersiap untuk mengajarinya.


Belajar hari ini tergolong lumayan. Ia bisa dengan cepat mengikuti apa yang di ajarkan padanya. Ia hanya perlu berlatih lebih keras lagi agar berhasil. Lama-lama ia akan terbiasa juga. Dan ia juga harus membiasakan diri bergaul dengan para lelaki disana.


"Apa kau punya helm?" tanya Edo padanya


"Emang kenapa?" tanya Wulan balik


"Jawab saja, kenapa malah bertanya balik?" ucap Edo


"Punya" ucap Wulan

__ADS_1


"Besok bawalah helm, aku tidak janji tiap hari akan memberimu tumpangan, tapi disini banyak karyawan yang rumahnya searah denganmu, pasti mereka akan sama sepertiku, menawarimu tumpangan" ucap Edo


"Hah, tidak perlu, aku tidak mau merepotkan orang lain" ucap Wulan


"Naiklah" ucap Edo


Akhirnya, Edo menawarkan tumpangan untuk Wulan. Sesampainya di halte bis, Wulan segera turun dari motornya Edo dan mengucapkan terimakasih.


"Terimakasih mas, kau sangat membantuku" ucap Wulan


"Bukan hal sulit, kau tak perlu berlebihan" ucap Edo


"Apa? Berlebihan? Dasar ini orang, sepertinya kaku sekali hidupnya" batin Wulan


"Masuklah, bis sudah menunggumu" ucap Edo


"Baik, sekali lagi terimakasih" ucap Wulan


"Sama-sama" ucap Edo

__ADS_1


__ADS_2