Maaf, Aku Berhak Untuk Bahagia

Maaf, Aku Berhak Untuk Bahagia
Bau Alkohol


__ADS_3

Wulan pun mengangguk tanda mengijinkan. Agung memeluknya, ia hanya diam membiarkan nya di peluk.


"Aku merindukanmu, jangan tinggalkan aku" ucap Agung


Wulan hanya diam tak bersuara. Ia tak menyangka, Agung kembali ke kebiasaan nya yang dulu seperti saat mereka belum bertemu. Keputusannya untuk mengakhiri hubungan tak bisa di terima oleh Agung, hingga ia menyiksa diri sendiri dengan cara seperti itu. Di tahannya air mata yang hampir saja menetes.


"Kita pulang ya" ucap Wulan


"Gak mau, aku gak mau pulang. Aku mau disini saja sama kamu" ucap Agung


"Kau harus pulang, kalau kau tak mau pulang, aku gak mau bertemu denganmu lagi" ucap Wulan. Memang semenjak saat Wulan memutuskan hubungan, mereka tak lagi bertemu.


"Aku mau pulang asalkan kau mengijinkanku untuk menemuimu lagi" ucap Agung


"Iya, ayo kita pulang" ucap Wulan


"Beri aku ciuman" ucap Agung


"Tidak, kau bau alkohol" ucap Wulan


"Baiklah besok saat aku udah gak mabuk aku akan menciummu" ucap Agung

__ADS_1


Wulan tak menjawabnya, karena omongan orang yang sedang mabuk terkadang suka ngelantur.


"Mas, minta tolong antarkan dia pulang, aku tak mungkin mengantarnya" ucap Wulan pada seorang temannya


"Iya mbak" ucap teman Agung


"Makasih. Aku akan membuntuti dari belakang untuk memastikan dia telah sampai di rumahnya" ucap Wulan


"Kau pulang sekarang ya, aku akan mengantarmu pulang, aku ada di belakang" ucap Wulan


Agung pulang dengan di antarkan temannya. Wulan membuntuti dari belakang.


"Ini tinggal masuk gang aja nanti rumahnya yang ada kolam ikannya" lanjutnya


"Oke mbak" ucap teman Agung


"Aku duluan ya" ucap Wulan


Mereka pun berpisah. Entah apa yang terjadi selanjutnya. Sesampainya di rumah, Wulan takut aksinya keluar malam mengendarai sepeda motor akan di ketahui oleh bapaknya. Namun ia bisa bernafas lega karena ternyata bapaknya sudah terlelap. Ia pun segera memasuki kamarnya dan beristirahat.


"Gak nyangka dia akan separah itu saat aku memutuskan untuk berpisah dengannya. Apa yang harus ku lakukan, aku juga gak ingin dia seperti ini, kembali seperti dulu lagi, aku gak ingin, aku gak mau dia menghancurkan diri sendiri lagi. Tapi aku tak bisa terus bersamanya bila tak ada kepastian" batin Wulan

__ADS_1


Keesokan harinya, saat ia bersiap untuk berangkat kerja dan mencari dimana handphone nya, ternyata ada pesan masuk dari Arifin. Di bacanya pesan tersebut.


"Lan, di rumah gak?" isi pesan tersebut


Di lihatnya, pesan tersebut di terimanya saat jam-jam yang sama saat ia menemui Agung yang sedang mabuk. Ia pun membalasnya.


"Maaf mas baru balas, aku gak tahu kalau ada pesan darimu" balas Wulan


"Iya gak papa. Mungkin kamu sudah tertidur" balas Arif


"Oh ya mas, jalanan menuju rumah sakit ibu dan anak ada razia polisi gak ya, soalnya aku gak punya sim" tanya Wulan


"Emang mau ngapain" tanya Arifin


"Mau jenguk keponakanku lagi di rawat di sana" jawab Wulan


"Biar aku saja yang mengantarmu" ucap Arifin. Ia melakukan hal ini karena ia takut terjadi apa-apa di jalan dengan Wulan, pikirannya sama seperti bapaknya Wulan.


"Apa tidak merepotkanmu?" tanya Wulan


"Tidak sama sekali" jawab Arifin

__ADS_1


__ADS_2