Maaf, Aku Berhak Untuk Bahagia

Maaf, Aku Berhak Untuk Bahagia
Salah Paham


__ADS_3

"Hotel???" Wulan membaca sebuah tulisan yang terpampang di dekat pintu gerbang.


"Kenapa kau mengajakku kesini?" tanya Wulan saat Agung memarkirkan kendaraannya


"Diamlah" ucap Agung sambil sedikit menarik tangan kekasihnya agar mau ikut dengannya.


Agung memesan satu kamar, setelah membayar dan menerima kuncinya, keduanya menuju kamar yang telah di pesan.


"Masuk" ucap Agung saat melihat Wulan hanya berdiri saja di depan pintu kamar, hingga akhirnya Agung menarik tangannya lagi.


"Kau kenapa, kau sepertinya sedang marah" tanya Wulan


Agung menutup pintu dengan keras hingga Wulan kaget. Ia juga menguncinya.


"Semalam, apa yang kau lakukan?" tanya Agung


"Aa..ku.. aku pergi dengan temanku saja" jawab Wulan


"Kemana kau pergi?" tanya Agung


"Aku membantu temanku untuk membagikan undangan" ucap Wulan


"Kau mulai berbohong rupanya" ucap Agung

__ADS_1


"Aku tidak berbohong, percayalah padaku" ucap Wulan


Wulan ketakutan, ia menjawab pertanyaan kekasihnya dengan gugup. Sedangkan Agung, ia kelihatan menyimpan amarah.


"Kau bohong!!" ucap Agung


Kali ini Wulan telah sampai di ranjang, karena sejak dari pintu, ia menjawab pertanyaan kekasihnya dengan melangkah mundur.


"Aku melihatmu makan berdua saja dengan seseorang yang kau bilang teman. Aku melihat kau bercanda dengan dia, sepanjang perjalanan kalian tertawa bersama" ucap Agung


"Kaa..uu.. salah paham...." ucap Wulan


"Dia hanya temanku, aku dan dia tidak ada hubungan apa-apa" lanjut Wulan


"Sejak kapan kau dekat dengannya?" tanya Agung


"Bahkan kalian terlihat sangat akrab" ucap Agung


"Kau harus tenang, tenanglah, aku akan menjelaskannya padamu" ucap Wulan


"Katakan, sejak kapan kau dekat dengannya!!" ucap Agung sambil memegang pundak kekasihnya dengan agak kasar dan nada yang tinggi.


"Aku sudah memperingatkan, kau hanya untukku, kau hanya milikku" ucap Agung

__ADS_1


Ia melepas satu per satu kancing kemeja milik Wulan. Dengan penuh amarah ia melakukan hal yang sama pada pakaiannya.


"Kau mau apa, bicaralah, jangan seperti ini, ku mohon" ucap Wulan


Agung tak mempedulikan apa yang di ucapkan oleh kekasihnya. Amarah telah merasuki isi kepalanya. Ia melepas satu per satu celana miliknya dan milik kekasihnya.


"Sekarang, aku pastikan kau hanya milikku. Milikku seorang" ucap Agung


"Kau sudah gila, lepaskan aku, lepaskan, ku mohon jangan seperti ini" ucap Wulan


"Diam atau aku akan semakin marah" ucap Agung


Agung memaksanya untuk melayani hasratnya. Ia tak peduli Wulan melawannya, toh kekuatannya tidak seberapa. Ia memperkosanya. Berbeda dengan saat mereka "bercinta" beberapa waktu yang lalu. Waktu itu Wulan menikmatinya meski dengan rasa was-was, tetapi kali ini, ia ketakutan.


"Bukankah sudah ku katakan, hanya aku yang boleh menyentuhmu, hanya aku yang boleh memilikimu"


"Kau sudah berani berbohong padaku"


Agung sama sekali tak memberinya kesempatan untuk menjelaskan, ia terus menggagahi kekasihnya yang sudah tak berdaya karena ia telah lama "menghajarnya".


Hingga setelah ia merasa puas, ia mengakhiri aksinya. Wulan yang masih tak berdaya, mencoba meraih selimut untuk menutupi tubuhnya. Ia menangis sesenggukan di ujung ranjang.


Agung membiarkannya menangis. Ia minum soda. Lalu dengan marah ia memukul keras tembok dengan tangannya hingga tangannya terluka. Ia tak peduli dengan luka di tangannya yang tak seberapa. Ia lebih merasakan sakit di hatinya. Hati dan pikirannya sudah di penuhi rasa cemburu yang buta.

__ADS_1


__ADS_2