Maaf, Aku Berhak Untuk Bahagia

Maaf, Aku Berhak Untuk Bahagia
Undangan


__ADS_3

Arifin sama sekali tak pernah menghubunginya lagi. Wulan pun tak masalah dengan hal ini. Hingga berlalu selama beberapa bulan, Arifin datang ke rumahnya membawa sebuah undangan untuknya. Wulan membacanya. Tertulis di undangan tersebut nama calon mempelai pria dan pasangannya.


"Andi? Aku kira kamu yang menikah" ucap Wulan


"Kau berharap seperti itu?" tanya Arifin


"Niat yang baik akan selalu ku dukung" ucap Wulan


"Kalau begitu, aku ingin menikah denganmu" ucap Arifin


"Hah? Becandamu sama sekali gak lucu" ucap Wulan dengan salah tingkah


"Lupakan perkataanku barusan. Kalau kau tak keberatan maukah kau membantuku membagikan undangan-undangan ini?" tanya Arifin


Wulan ragu, antara mau atau tidak, karena ia sudah berjanji akan menjauh dari kehidupan Arifin. Namun akhirnya...


"Iya aku mau, tunggu sebentar aku akan ganti baju" ucap Wulan


"Yes" girangnya hati Arifin mendengar Wulan mau ikut dengannya


Keduanya membagikan undangan sesuai nama yang tertulis di masing-masing undangan. Saat semua sudah terbagikan, Arifin mengajaknya untuk makan malam.


"Sebagai ucapan terima kasih karena telah mau membantuku, aku akan mentraktirmu makan steak. Ku harap kau jangan menolaknya" ucap Arifin

__ADS_1


"Sebenarnya tidak perlu mentraktirku segala, aku ikhlas membantumu. Tapi ya sudah, demi menghargaimu aku mau" ucap Wulan


Wulan selalu senang makan steak disini. Arifin bisa melihatnya. Arifin tahu betul mana yang menjadi kesukaannya. Oleh sebab itu ia mengajaknya makan malam disana.


"Kenapa adikmu menikah secepat ini?" tanya Wulan


"Ada masalah yang tak bisa ku jelaskan, karena ini aib keluarga" ucap Arifin


"Baiklah, aku mengerti" ucap Wulan


"Bagaimana hubunganmu dengan kekasihmu?" tanya Arifin


"Kami baik-baik saja. Kau sendiri?" ucap Wulan


"Aku tak tahan dengan sifatnya yang pencemburu, dia sangat cemburu denganmu" ucap Arifin


"Aku selalu bercerita tentangmu padanya. Aku mengakui aku mengagumimu, tapi aku tak bisa memilikimu, namun dia sangat cemburu" ucap Arifin


"Kau tak perlu melakukan itu, aku merasa bersalah dengan kekasihmu" ucap Wulan


"Dia bukan kekasihku lagi" ucap Arifin


"Kenapa kau menghapus pertemanan kita di facebook?" tanya Wulan

__ADS_1


"Waktu itu, aku sungguh kecewa denganmu" ucap Arifin


"Bencilah padaku, agar kau bisa mudah melepaskanku" ucap Wulan


"Aku sudah mencobanya, namun tak tetap tidak bisa" ucap Arifin


"Percayalah, aku tak sebaik yang kau pikirkan. Jika kau tahu yang sebenarnya tentang diriku, aku yakin kau akan membenciku" ucap Wulan


"Apa maksudmu?" tanya Arifin


"Tidak ada, aku hanya mengatakan kau tak perlu menyukaiku lagi" ucap Wulan


"Entahlah, aku tak tahu dengan perasaanku sendiri" ucap Arifin


"Sudah malam, sebaiknya kita pulang" ucap Wulan


"Baiklah" ucap Arifin


Di perjalanan, sikap dingin keduanya sudah menghangat kembali, bahkan keduanya sempat bercanda. Jujur, Arifin merindukan masa-masa seperti ini bersama Wulan. Bisa saling bercanda dan tertawa lepas seperti tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka. Arifin mengantarkannya pulang dan mereka pun berpisah.


Keesokan harinya, Agung mengajak Wulan pergi. Wulan tak tahu kemana ia akan di ajak pergi. Di perjalanan, Agung lebih banyak diam hingga membuat Wulan merasa ada hal yang aneh terjadi.


"Kau akan mengajakku kemana, ini jauh sekali" ucap Wulan

__ADS_1


"Kau akan tahu setelah kita tiba disana" ucap Agung


Beberapa menit kemudian mereka telah sampai. Wulan merasa asing dengan tempat tersebut, karena ia sama sekali tak pernah datang di tempat seperti ini.


__ADS_2