
Namun akhirnya, ia berjalan mendekati Wulan. Ia memeluk kekasih yang di tubuhnya masih terbalut selimut. Wulan menolak untuk di peluknya, namun ia tetap saja memeluknya. Wulan masih menangis. Agung mengambilkannya pakaian. Ia membantunya untuk memakai pakaian hingga semuanya lengkap.
"Kau...kau tak percaya padaku, aku kekasihmu kenapa kau tidak percaya padaku" ucap Wulan
"Kau selalu memaksaku, aku membencimu, aku benci padamu" ucap Wulan
"Minumlah, agar kau lebih tenang" ucap Agung
"Aku gak mau, antarkan aku pulang sekarang" ucap Wulan
__ADS_1
"Iya iya, pakailah jaketku" ucap Agung
"Aku gak mau. Jangan selalu memaksaku" ucap Wulan
"Terserah kau saja" ucap Agung
Wulan membasuh mukanya, matanya terlihat sembab. Bagaimana jika keluarganya bertanya? Apa yang harus ia jawab? Kemudian, keduanya keluar dari kamar menuju tempat parkir. Mereka segera pulang.
Wulan sangat marah dengan apa yang di lakukan Agung kepadanya. Ini sungguh di luar dugaan. Ia tak menyangka malam itu ketika ia sedang bersama Arifin, Agung memergokinya. Ia tahu ia salah tapi tak seharusnya Agung melakukan hal itu kepadanya.
__ADS_1
Sesampainya di rumah, Wulan langsung masuk ke dalam rumah tanpa mengucapkan sepatah katapun. Agung pun lalu memutuskan untuk kembali ke rumah. Kamar adalah tempat ternyaman saat suasana hati sedang bahagia atau terpuruk. Wulan kembali melanjutkan acara menangis yang tertunda. Ia menangis sambil memandang cermin.
Ia melihat di dadanya banyak terdapat bekas "kecemburuan" kekasihnya. Ia semakin menangis. "Kenapa dia melakukan hal ini padaku, dia salah paham terhadapku, aku tidak berselingkuh, kenapa dia tidak percaya padaku?"
Agung pun juga sama, Ia merasa ia telah keterlaluan pada Wulan. Penyesalan memang selalu di akhir cerita. Ia tidak bisa mengontrol emosinya hingga akal sehatnya bisa di kalahkan oleh cemburu buta yang menyerangnya. "Apa yang harus ku lakukan untuk memperbaiki semua? Aku memang bodoh, aku memang bodoh!! Dia marah sekali padaku, aku harus bagaimana?"
Seharian mereka tidak saling berkomunikasi. Wulan jadi malas untuk memegang hp, di biarkannya hp nya tergeletak di meja riasnya tanpa ia pedulikan bahwa baterainya sedang melemah. Ia masih terbayang-bayang saat Agung memaksanya. Itu sangat menyakitkan. Agung memintanya dengan paksa, tidak di saat ia rela melakukannya.
Lusa ia akan menghadiri acara pernikahan adik Arifin. Ia tak mau bertemu dengan Arifin dengan muka yang sedih. Ia harus bangkit, karena dunia akan terus berjalan. Tak ada inisiatif di hatinya untuk menghubungi kekasihnya. Yang ia tahu, saat ini ia sangat membencinya. Demikian juga dengan Agung. Ia butuh waktu untuk memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya mengenai hubungannya dengan Wulan.
__ADS_1
Hari pernikahan pun tiba. Seusai pulang kerja, ia akan menghadiri undangan yang di terimanya. Ia sudah mempersiapkan mentalnya bila bertemu dengan Arifin, karena pasti ia akan menanyakan bagaimana kabarnya. Wulan datang ke acara tersebut dengan menggunakan dress bawah lutut warna merah kombinasi hitam juga dengan satu jepit rambut di sebelah kiri. Ia baru saja memotong sedikit poni rambutnya. Jika biasanya poninya di tata miring, kali ini ia menatanya ke depan semua.