Maaf, Aku Berhak Untuk Bahagia

Maaf, Aku Berhak Untuk Bahagia
Ku Mohon Maafkan Aku


__ADS_3

Sudah beberapa hari semenjak pertemuan mereka di cafe beberapa hari lalu, mereka tidak saling berkomunikasi. Tidak seperti biasanya. Mereka saling diam, tidak ada inisatif dari diri mereka untuk memulai pembicaraan. Hal itu berlangsung hingga 1 minggu. Sampai pada akhirnya, Wulan duluan yang mengirim pesan pada kekasihnya.


"Kenapa gak ada kabar?" tanya nya to the point


"Gak apa-apa, aku hanya butuh waktu untuk berpikir" balas Agung


"Untuk berpikir apa maksudmu?" tanya Wulan


"Berpikir untuk kelanjutan hubungan kita" balas Agung


"Apa kau berniat meninggalkanku?" tanya Wulan


"Aku tak tahu, aku merasa malu pada keluargamu" tulis Agung

__ADS_1


Lalu Wulan menelpon kekasihnya, membahas masalah ini lewat pesan terasa lama. Dan kekasihnya mengangkat telepon darinya. Setelah tersambung...


"Bukankah itu sudah berlalu? Kau bilang kau menyayangiku, kau cinta padaku, tapi kenapa kau berniat pergi dariku?" ucapnya


"Aku malu dengan keluargamu, tolong mengerti posisiku" ucap Agung


"Lalu, apa yang kau inginkan?" tanya Wulan


Terdengar suara sedih disana...


"Tapi materi bisa di cari, asal kau rajin berusaha" ucap Wulan


"Aku tahu, tapi tak mungkin orang tuamu membiarkan anaknya terus berpacaran tanpa kejelasan" ucap Agung

__ADS_1


"Kau mau pergi dariku, kau akan melupakan cintamu" ucap Wulan sambil terisak.


"Jangan menangis ku mohon, aku tak pantas untuk kau tangisi" ucap Agung


"Kau yang membuatku seperti ini" ucap Wulan


"Ku mohon maafkan aku" ucap Agung


Pembicaraan mereka terputus setelah Wulan memilih untuk mematikan teleponnya. Ia tak menyangka, kekasihnya akan menyerah dengan keadaan. Hatinya sakit, air matanya pun tak bisa ia tahan. Jatuh bercucuran di pipinya. Ia merasa ini tak adil untuknya. Untuk pertama kalinya ia patah hati yang teramat dalam. Ia merasakan luka di hatinya. Saat ia merasa nyaman dengan seseorang, kenapa malah seperti ini akhirnya. Di sudut ranjangnya, ia hanya bisa menangis. Menangisi kisahnya yang selesai dengan cepat. Ia menyesali pertanyaannya kemarin, seandainya ia tidak bertanya seperti itu, mungkin sekarang ia masih baik-baik saja dengan kekasihnya.


Namun tidak dengan pemikiran lelaki yang mencintainya. Ia tak bisa membayangkan bila mengetahui hal itu lebih akhir, apalagi bila ia dan Wulan telah sah menikah. Sejujurnya ia tak ingin pergi, namun ia terlanjur malu. Ditambah lagi, ia belum mendapat pekerjaan setelah ia resign dari tempat kerjanya dahulu. Ia merasa tak pantas untuk Wulan. Ia membuat keputusan sulit dalam hidupnya. Ia terlanjur menyayangi Wulan, ia sudah jatuh cinta teramat dalam dengan Wulan. Namun ia tak punya pilihan lain, ini semua demi kebaikannya. Ia tak ingin kelak Wulan merasa menyesal bila hidup dengannya.


Ia juga sedih, sama sedihnya dengan Wulan. Hampir 11 bulan mereka saling menyayangi, saling mencintai, namun kini kisah mereka berdua telah usai. Sebelum mereka merayakan 1 tahun hari jadian, mereka telah berpisah. Sangat di sayangkan sebenarnya, tapi mau gimana lagi, Agung sendiri yang memilih mundur. Dan mau tak mau, suka ataupun tidak suka, Wulan harus menerima dan menghormati keputusannya. Ia takkan memaksa Agung untuk tetap tinggal di sisi nya. Ia berusaha menerimanya dengan lapang dada meski itu perlu waktu yang tak lama.

__ADS_1


__ADS_2