
'Kenapa aku jadi terjebak dalam situasi yang bahkan tidak aku mengerti ini?' Batin Alinda.
Dia sangat ketakutan, sampai dia sudah tidak bisa bicara dengan benar lagi, selain mendengarkan segala de*sahan yang terus mengisi suara di dalam kamar mandi tersebut, dan hal itu juga memicu diri Alinda yang perlahan jadinya ikut kena gai*ah yang ada di dalam tontonan itu.
"Lihat, ini bahkan sudah basah, kau sudah siap untuk menerimaku." kata Farrel dengan nada yang begitu menggoda.
Sama sekali tidak ada filter dalam setiap ucapannya itu, sehingga Alinda juga secara otomatis langsung tersipu malu.
"Alinda, berbaliklah." Perintah Farrel, dia pun menuntun Alinda untuk membalikkan tubuhnya ke arahnya, dan saat itulah Farrel melakukan sesuatu terhadap Alinda, yaitu sebuah hipnotis yang akan membuat Alinda menuruti semua perintahnya saat itu juga. "Apa kau sudah siap?" Tanya Farrel.
Dengan posisi sudah saling berhadapan, Alinda pun hanya menatap Farrel dan setelah itu Alinda pun menundukkan kepalanya ke bawah, melihat apa yang kira-kira ada di bawah tubuhnya itu. Sesuatu yang besar, hangat juga cukup menekan.
Hal itu membuat Alinda benar-benar segera ingin di masukkan.
"Sudah."
"Hm, bagus. Sesuai yang aku katakan, kau tidak akan bisa menolak perintahku, karena aku memang akan memuaskanmu, kau mengerti?" Tanya Farrel, dia menatap wajah Alinda yang ada di atasnya, dan wajah diantara merek berdua cukup dekat, Farrel akhirnya mendaratkan sebuah tautan kepada Alinda.
Dan Alinda yang sudah seperti boneka itu, hanya diam sambil merangkul Farrel dengan cara melingkarkan kedua tangannya itu di belakang kepalanya Farrel.
Begitu sudah sampai dimana mereka berdua berpelukan, kedua bibir itu akhirnya saling menyatu.
Mata berwarna coklat sedikit kehitaman, sepasang mata redup seperti tidak memiliki kehidupan, Alinda, akhirnya dia pun terjerumus masuk dalam rencana Farrel serta para kawanan Death Clothes.
Yang mana, kekuatan dari death clothes yang ada di dalam diri Farrel, sekarang mulai keluar, yang mana kekuatan tersebut apalagi karena sudah mulai dalam sesi ritual penyatuan antara Farrel dengan Alinda, maka sebuah dinding pelindung yang cukup kuat langsung menyelimuti area rumah mewah milik Evan.
"Kau cantik Alinda."
"Entah, katamu aku jelek." Jawab Alinda dengan wajah tanpa ekspresi.
__ADS_1
"Ya, awalnya kau kelihatan jelek, tapi begitu pakaianmu dilepas, aku akhirnya melihat kecantikanmu yang alami ini." Jawab Farrel.
Farrel lantas melingkarkan lengannya di belakang pinggangnya Alinda, dan menariknya agar pelukan diantara mereka berdua semakin dekat.
CUP....
Kulit yang saling bergesek membuat darah mereka berdua semakin berdesir menuju suasana panas yang kian menyelimuti diantara merea berdua.
"Jadi apa kau sudah siap?" Tanya Farrel setelah dia melepaskan tautannya itu beberapa saat.
"Aku akan siap kapanpun yang kau mau." Jawab Alinda lagi. Dan lagi-lagi tanpa sebuah ekspresi wajah.
"Kalau begitu goyangkan pinggulmu sebentar, agar kita berdua bereaksi." Pintanya.
Alinda mengangguk, dengan rangkulan tangan yang masih mengait belakang lehernya Farrel, Alinda akhirnya menggoyangkan pinggulnya.
Dan hal itu berhasil membuat satu reaksi yang cukup penting untuk mereka berdua, agar semakin terpicu untuk melakukan pekerjaan yang tidak lama lagi akan mereka berdua lakukan di sana.
"Akh...rasanya, gatal." ucap Alinda sambil memejamkan matanya dan menikmati sensasi yang baru pertama kali dia rasakan dengan cukup nyata.
"Kalau begitu terus lakukan." pintanya.
Alinda pun jadi semakin mempercepat gerakannya, sampai dia mendapatkan kemenangan dari usahanya sendiri.
Sampai, belum sempat bicara lagi, Farrel sudah mulai memegang kendali, dan akhirnya mengarahkan miliknya kedalam pintu rumah milik Alinda. Tentu saja dia harus mengetuk dulu agar si pemilik membukakan pintu untuknya, dan begitu sampai pintu itu akhirnya terbuka, lalu hanya tinggal masuk kedalam rumah, rintihan mulai terdengar keluar dari mulutnya Alinda.
"Itu sakit."
"Tahan saja."
__ADS_1
"Tapi aku takut."
"Takut apa? Kau tidak akan mati hanya karena ini."
"Tetap saja sakit." Ucap Alinda. "Akh." Alinda mulai memejamkan matanya.
"Hehehe, bagus Farrel, ayo lakukan, jangan sampai menghilangkan kesempatan besar ini." Ucap death clothes.
Dia mulai bersuara, mengeluarkan deretan kalimat yang cukup menghasut mereka berdua.
"Ayo Farrel, sedikit lagi, kau akan menemukan darah perawannya. Itu akan jauh lebih nikmat, dan kekuatanmu akan jadi semakin bertambah." ucapnya lagi, namun dengan suara yang berbeda.
Dan suara-suara itu hanya bisa di dengar oleh Farrel saja.
Dengan senyuman mencibir, Farrel pun melirik ke bawah, dan mulai mendorong miliknya agar bisa masuk kedalam rumah pribadi milik Alinda.
"A-akh.., sakit-" Alinda terus merintih sakit karena pangkal pahanya yang terus di tekan dengan cukup kuat, dan Alinda dia yang mulai kesakitan sendiri sampai kedua tangannya itu mencakar bahunya Farrel dengan cukup kuat.
"Tahan, ini baru permulaan, nanti kau juga akan merasa enakan." jawab Farrel lagi, mencoba untuk terus membujuk Alinda agar lebih kuat.
Dan perlahan ujung milik dari Farrel pun sedikit demi sedikit mulai masuk. Ya, seharusnya memang seperti itu, sebelum akhirnya secara tiba-tiba pintu kamar mandi secara cepat langsung terbuka dengan kasar.
DORR...
DORR...
DORR...
Rentetan dari peluru yang keluar dari selongsong pistol itu berhasil merusak knop pintu dan menendangnya dengan kasar.
__ADS_1
BRAK.....